Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Madam Marisa


__ADS_3

"Siapa namamu sayang?" Dia mengakrabkan diri dengan memanggilnya 'sayang' pada Raisya.Wanita ini nampak ramah sekali menyapa Raisya tidak seperti wanita pada umumnya.


"Raisya. Nama saya Raisya Wulandari." Raisya menyodorkan tangannya pada wanita yang telah memindainya dengan detail.


"Ah.. saya ibunya Beny. Nama saya Marisa. Panggil saja madam. Semua orang suka memangilku begitu." Dia menyambut hangat dan menjabat tangan Raisya.


"Maaf madam.. saya tidak tahu." Raisya semu merah merasa malu berhadapan dengan ibunya bos.


"Gak pa-pa. so.. santai saja say.. " Wanita itu tersenyum, dengan wajahnya yang cantik mampu membuat siapapun yang melihatnya akan terkesima, termasuk Raisya.


Walaupun usianya tak lagi muda, tapi dia masih terlihat cantik di usianya. Marisa duduk bersilang kaki mengamati seluruh isi ruangan.


"Pada kemana yang lainnya sayang?" Panggilan itu agak canggung bagi Raisya yang baru saja mengenalnya.


"Pak Beny sedang pergi survei, Bang Rio pergi ke proyek. Mbak.. Ria sedang pergi ke workshop." Raisya tak berani memanggil Beny dengan abang untuk tatakrama sebagai bawahannya.


"Ohh.. " Marisa manggut-manggut.


"Madam mau saya buatkan minuman?" Raisya menawarinya minum.


"Boleh sayang.. teh manis dengan biskuit yang ada saja." Jawab Marisa dengan suara yang khas. Pelan tapi terdengar merdu.


"Baik. Saya akan ke pantry dulu madam." Raisya pamit ke lantai 1 dimana pantry berada.


Tidak sampai lima belas menit teh manis dan biskuit pesanan Marisa siap dihidangkan.


"Silahkan madam!" Raisya mempersilahkan Marisa untuk mencicipi teh buatannya juga biskuit yang selalu disediakan di pantry untuk kebutuhan pegawai dan para tamu.


"Terima kasih cantik." Marisa selalu memuji siapapun yang dia temuinya yang dirasa dia adalah orang baik. Pandangan pertamanya jatuh pada Raisya dan dia menilai dari penampilan juga caranya bicara Raisya, dia adalah perempuan yang baik.


"Sayang sendirian?" Marisa melirik Raisya yang sudah kembali ke mejanya.


"Iya, madam."


"Kamu ahli di keuangan?" Tanya Marisa dengan menyipitkan matanya memperhatikan Raisya.


"Kalau ahli tidak madam, saya ada ilmu sedikit di bidang itu." Jawab Raisya merendah.

__ADS_1


"Selain itu?"


"Saya pernah bekerja di bagian marketing atau pemasaran madam." Terang Raisya.


"Oh ya?" Matanya membulat besar mendengar penuturan Raisya.


"Iya madam." Raisya mengangguk pelan, sambil tersenyum tipis masih malu-malu untuk mengakrabkan diri.


"Kamu mau coba profesi lain?" Cicit Marisa yang telah menilai Raisya sebuah kepantasan. Selain cantik, tubuhnya juga cukup ideal di mata Marisa. Apalagi dia pernah bekerja di bagian marketing, pastinya dia mempunyai bakat untuk mengembangkan suatu usaha.


"Maksud madam?" Raisya mengernyitkan dahi, belum mengerti arah tujuan pembicaraan Marisa.


"Hhmm.. jadi model aku?" Celetuknya sambil tersenyum manis.


"Model?" Raisya menutup mulutnya setelah kaget mendengar penawaran Raisya.


"Betul. Kamu cantik, badanmu juga ideal.. dan kamu punya inner beauty yang kuat lho say!' Marisa berjalan mendekati meja Raisya dengan tatapan kagum.


"Ah..madam saya tidak begitu tahu tentang permodelan." Lagi-lagi Raisya merendah. Padahal selama ini dia berkecimpung di dunia seputar itu. Setidaknya walaupun dia bekerja di bagian marketing dan keuangan bukankah perusahaannya membidangi penjualan barang-barang branded di bidang fashion juga. Mulai baju, sepatu, tas dan asesoris lainnya seperti jam tangan dan perhiasan.


"Ayu.. ikuti aku!" Dia menarik tangan Raisya dan memaksa untuk mengikuti langkahnya.


"Maaf madam.. di kantor tak ada orang." Raisya merasa khawatir jika kantor Beny kosong dan tak ada yang menunggunya.


"Tenang.. nanti aku atur pegawai ku untuk datang ke sini." Ucap Marisa yang sudah terbiasa menyuruh pegawainya untuk berjaga sementara jika Beny tak ada di tempat. Maka dari itu dia lebih senang jika butiknya berdekatan dengan kantornya Beny.


Raisya akhirnya masuk ke dalam butik milik Marisa.


"Wah... butik anda bagus sekali." Bibir Raisya spontan memuji isi butik Marisa.


"Hhmm Terima kasih sayang.. " Ucap Marisa tersanjung mendengar pujian Raisya.


"Nia.. kamu pergi ke kantornya Beny sebentar." Ucap Marisa dengan lemah lembut.


Suaranya yang mendayu tak ubahnya seseorang yang belum pernah marah.


"Baik madam." Nia yang sudah biasa mempunyai tugas menggantikan ke kantor Beny langsung pergi.

__ADS_1


"Sini sayang.. aku coba ukur dulu ya badanmu." Dengan menggunakan meteran untuk mengukur badan seperti di tukang jahit atau tailor, Marisa dengan tak canggung langsung membentangkan alat ukur itu di badan Raisya dan memutar balik badannya sesuai keinginan yang dibutuhkannya. Dia langsung menuliskan di buku ukuran yang sudah tersedia di meja kerjanya.


"Selesai sayang.. Aku simpan ukuran ini ya! Dan untuk sementara aku akan pilihkan baju untuk kamu pakai." Dia langsung memilih baju-baju di rak yang sudah berderet aneka model, ukuran, serta warna.


Marisa membawa satu stel baju yang menurutnya cocok dipakai Raisya.


"Madam... maaf saya belum bisa membeli baju-baju bagus ini. Gaji saya belum cukup untuk membayarnya. Kekhawatiran Raisya begitu nampak sekali ketika Marisa membawa baju itu kehadapan nya.


"Siapa bilang kamu harus membayarnya sayang.. " Di tersenyum lembut.


"Tapi.. " Raisya bertambah bingung.


Duh Madam... baru juga kenal sudah jadi kelincinya.


Gumam Raisya dalam hati.


"Gak usah khawatir. Sini.. madam make wajah kamu. Biar tambah cantik seperti bidadari!" Dia membawa ke lantai dua dari butiknya. Di sana seperti sylisty. Ada beberapa yang sedang di make over oleh tim ahli make up.


"Halo madam.. " Semua pegawai langsung memberi hormat pada Marisa selalu pemilik.


"Kasih servis yang terbaik buat gadisnya madam!" Suara lembutnya seolah menghipnotis semua orang.


"Baik madam." Salah satu kepercayaan Marisa langsung membawa Raisya ke tempat duduk khusus yang tertutup, langsung membuka kerudung Raisya dan mencuci rambutnya.


"Gadi pilih madam cantiknya luar biasa." Ucap seorang wanita yang tadi disuruh madam mendandani Raisya.


"Terima kasih." Ucap Raisya dengan malu-malu.


Apakah ini yang dikatakan mbak Ria.. ah now... aku jadi mainan emaknya si bos...


Setelah itu dia mengerikan rambut Raisya. Dan memulai aksi-aksi nya dengan mengoles apapun pada wajah Raisya. Seumur ini Raisya belum ke salon ataupun di make over oleh stylish.


Sedikit demi sedikit Raisya mengamati perubahan wajahnya yang telah di make over oleh pekerja Marisa. Layaknya pegawai profesional dia membuktikan keahliannya menyulap penampilan Raisya bah seorang model kenamaan.


"Good." Dia sepertinya puas dengan hasil kerjanya. Lalu kembali memakaikan kembali kerudung pilihan madam.


"Kamu tinggal ganti baju! Oke!" Dia menginterupsi dan menyodorkan pakaian yang tadi dipilihkan Marisa padanya.

__ADS_1


__ADS_2