Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Sakitnya dituduh


__ADS_3

Raisya kembali asik mengutak-atik angka-angka dan menyusun beberapa tulisan menjadi sebuah kesimpulan. Dia rupanya mudah lupa kalau sudah berhadapan dengan pekerjaan.


Kring


Kring


Raisya segera menakan tombol di headset tanpa melihat identitas siapa yang baru saja melakukan panggilan di handphonenya.


"Assalamualaikum." Raisya masih fokus melihat layar komputer.


"Waalaikumsalam." Jawaban itu terdengar ketus. Tapi Raisya sama sekali tidak mempedulikan hal itu. Dia tetap asik saja mengamati materi yang ada di depan layar komputernya.


Hening. Dua orang yang sedang melakukan calling malah sama-sama menunggu untuk pembicaraan lebih lanjut.


Si pemanggil rupanya dari awal sudah merasa kesal. Ditambah setelah melakukan panggilan suara diseberang telepon malah terdiam setelah mengucapkan salam


Apa-apaan ini? Malah diem gak ada basa-basi.


"Raisya!" Bentak si pemanggil merasa kesal karena panggilannya tidak mendapatkan respon.


Spontan Raisya terhenyak mendengar bentakkan dari seseorang di sebrang telepon. Raisya baru menyadari siapa yang baru saja menelponnya. Dia langsung menghentikan pekerjaannya dan mengambil benda pipih yang ada di samping pahanya yang tergeletak.


"Jacky.. " Nada bicara Raisya mendadak seperti asing.


"Raisya.. apa maksud lu mengirimkan pesan ini ke gue?" Panggilan Jacky pada Raisya mendadak berubah. Biasanya Jacky memanggilnya dengan panggilan 'Ra' tapi kali ini dia memanggilnya dengan sebutan lengkap 'Raisya'


"Sebentar-sebentar gue lagi on di komputer." Raisya langsung membuka layar pesan lalu membaca pesan yang dikirimkan Jacky.


Dahi Raisya mengernyit. Tidak mengerti maksud dari isi pesan itu.


"Maksudnya apa ya Jack? Gue belum ngeh nih!" Raisya bertanya pada Jacky apa maksud isi pesan itu. Dia benar-benar tak mengerti.


"Elu malah nanya. Elu yang kirim pastinya elu juga yang ngerti maksudnya. Malah tanya balik ke gue. Justru Gue yang nanya sama elu itu maksudnya apa?" Jacky akhirnya meluapkan kekesalannya.

__ADS_1


"Sebentar! Maksudnya gue mengirimkan ke elu? Gue gak ngirim pesan apa-apa Jack." Bantah Raisya walaupun dia tak mengerti arah pembicaraan Jacky tentang isi pesan yang diteruskan kembali pengirimannya pada Raisya, tapi untuk kalimat terakhir yang Jacky katakan, Raisya sudah mengerti.


"Pesan itu dikirimkan dari nomor elu Raisya! Makanya gue nanya ke elu. Di sana pengirimnya atas nama elu. Masa iya gue nanya ke yang lain?" Jacky belum belum pernah marah pada Raisya semarah sekarang. Ada harga dirinya yang yang tersinggung dalam kalimat yang dikirimkan dalam pesan di handphonenya.


"Gue? Gue ngirim pesan ke elu? Gue gak ngerasa ngirim pesan ke elu. Kali aja salah sambung Jack." Akal sehat Raisya masih normal dan emosi Raisya sama sekali tidak terpancing walau orang yang di sebrang sana sudah menaikkan level nada bicara ke tingkat emosi.


"Eh Raisya ini nomor elu yang dulu. Katanya hilang tapi kok aktif? Gue tahu karakter elu yang pintar menyembunyikan sesuatu." Tuduh Jacky yang sudah tak bisa mengontrol lagi bicaranya.


Raisya terdiam. Bingung harus mengatakan apa. lagi pada Jacky. Walau dia bicara jujur sejujurnya, Jacky bersiteguh dengan pendapatnya. Dia tetap menuduh Raisya yang mengirimkan pesan itu kepada Jacky.


"Sorry ya Jack. Gue udah bilang jujur sama elu. Terus elu masih juga gak percaya. Serah elu deh! Lagian kenapa juga elu harus tersinggung terus marah-marah sama gue karena pesan itu? Kalau pun gue ngirimin pesan itu sama elu, emang selama ini hubungan gue sama elu apa? Pacar? Terus gue kirim pesan itu karena elu ketahuan selingkuh? Dan sekarang elu marah-marah sama gue merasa gak terima?"


"Thanks. Elu udah perhatian selama ini sama gue! Ya beginilah gue! Sering kali gue menyembunyikan sesuatu dari banyak orang, padahal dalam hati gue ingin sekali bicara. Elu bebas menilai gue sebebas -bebasnya. Tapi sorry gue tak nerima kalau lu nuduh gue yang enggak gue lakuin." Raisya langsung mematikan handphonenya tanpa izin.


Jacky beberapa kali melakukan panggilan. Tapi Raisya tak meladeni Jacky. Mood nya kini memburuk. Raisya langsung mematikan komputer dan naik ke atas kasur menarik selimut memaksakan tubuhnya untuk tidur membawa amarah.


Keesokan harinya, sesuai janji Jono.. he he bukan Janji Hendrik. Ratna dan Hendrik sudah siap menjemput Raisya.


Tapi Hendrik dan Ratna terlihat kecewa manakala orang yang dijemput malah sudah pergi duluan.


"Sudah.. pagi-pagi tidak baik marah-marah!" Hendrik menasehati Raisya karena tidak mau mood di pagi harinya menjadi buruk karena mendengarkan sesuatu yang negatif.


Hendrik membawa mobilnya yang sudah lama tak dipakai untuk mengantarkan Ratna. Dia menurunkan Ratna tepat di depan pintu masuk. Ratna mengirimkan pesan singkat pada Raisya.


"Sya kamu sudah sampai?"


"Hhmm."


"Irit banget jawabannya."


"Lagi hemat. Lagi nugas."


"Selamat bekerja! Gue baru saja sampai."

__ADS_1


Raisya hanya mengirimkan satu emosion💪


"Bener gila kerja tuh anak. sudah On lagi." Ratna masuk ke dalam lift. Begitu sampai langsung masuk ke dalam ruangan.


Hari ini semua orang disibukkan untuk persiapan rapat penting. Setiap divisi wajib melaporkan perencanaan untuk satu periode ke depan guna kemajuan perusahaan dan mengevaluasi hasil pekerjaan mereka sebelumnya.


Dan agenda hari ini akan ada penyambutan model baru untuk ambasador perusahaan, guna memasarkan produk-produk baru yang akan segera diluncurkan ke publik.


Raisya berangkat lebih awal agar bisa menyelesaikan pekerjaan sisa semalam yang terpotong oleh panggilan Jacky.


Semua orang di divisi keuangan tidak ada yang tahu bahwa Raisya sudah ada di kubikel nya tercinta.


Sampai Raisya berdiri dan menyalakan mesin printer baru lalu mencetak hasil kerjanya yang akan digunakan bu Mia di pagi hari ini.


"Raisya..." Hesti terperanjat dari duduknya kaget. Tiba-tiba mendengar mesin printer menyala karena setelah satu minggu kubikel Raisya memang sepi.


"He he pagi mbak Hesti.. " Tanpa wajah berdosa Raisya melambaikan tangannya menyapa Hesti yang masih kaget.


"Dikira hantu. Eh malah Siti markonah yang muncul." Hesti masih meraba dadanya menahan degup jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya.


Hesti langsung keluar dari kubikel nya lalu menghambur ke arah kubikel Raisya memeluk erat tubuh ringkih Raisya dengan erat.


"Jangan kenceng-kenceng mbak! Raisya sedikit tak nyaman tulangnya agak tertekan Hesti.


"Oh sorry! Masih sakit ya?" Hesti menatap wajah Raisya karena merasa bersalah terlalu bersemangat memeluknya.


Hesti berjalan cepat masuk ke ruangan Jacky juga bu Mia.


"Hei.. Raisya udah masuk lho!" Teriak Hesti penuh semangat.


Bu Mia langsung melihat ke depan, sedangkan Jacky pura-pura tuli.


__ADS_1


mampir yuk di novel temen aku para readers. Ceritanya menarik. Bagi readers yang senang baca bisa berkunjung ke novelnya.


__ADS_2