Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Sengketa


__ADS_3

"Dam bukannya dia habis kontrak? Kenapa ada dia dalam kontrak baru?" Nathan mempertanyakan kontrak salah satu model yang awalnya tak akan diperpanjang tapi malah tertera dalam deretan model yang akan mempromosikan produk perusahaan.


"Kantor pusat yang menentukan kebijakan. Karena agensinya punya hubungan baik dengan beberapa klien kita yang nilainya lumayan ada di tingkat 5 teratas.


Nathan terdiam. Walaupun dalam kepalanya banyak sekali yang dia pikirkan tapi dia harus bertindak profesional.


"Kenapa? Kamu merasa tak nyaman jika dia masih berhubungan dengan perusahaan?"


"Bukan begitu. Tapi... " Nathan tak bisa melanjutkan pembicaraannya.


"Jangan terlalu serius!" Adam menepuk bahu Nathan lalu pergi berlalu masuk ke dalam ruangannya setelah menyelesaikan rapat dengan semua divisi.


"Maaf pak! Kita akan bertemu salah satu klien baru yang dari Singapura. Katanya dia temannya bu Marry." Reza mengingatkan.


"Kapan kita akan bertemu dengannya?"


"Tiga puluh menit lagi."


"Apakah dia akan bertemu kita di luar?"


"Tidak pak. Katanya dia ingin bertemu di perusahaan."


"Baguslah! Kita punya agenda juga kan hari ini?"


"Iya Pak. Penyambutan para model."


"Ya sudahlah! Kita makan siang dahulu sekarang sebelum kita bertemu klien."


"Baik." Keduanya pergi ke kantin dan duduk di ruangan khusus para executive perusahaan.


Di meja yang lain terlihat Raisya dan Ratna begitu antusias. Sedangkan sepasang mata sedang memperhatikan mereka dengan sorot mata yang benar-benar tak ingin lepas darinya. Tanpa disadari keduanya asik makan dan sesekali terlihat tertawa entah menertawakan apa. Tapi hatinya penuh rasa curiga dengan apa yang dibicarakan keduanya.


"Sya.. aku gak sabar pengen buru-buru lihat para model itu. Wah.. gak kebayang kalau aku kaya mereka." Mata Ratna seperti menerawang membayangkan dirinya berlenggak lenggok di atas catwalk, lalu wajahnya akan terpampang di seluruh gerai di seluruh dunia yang membuat iri setiap wanita yang menatapnya.


Setiap orang akan berdecak kagum akan kecantikan mereka dan merasa bangga memakai produk bermerk yang di pakai para model kelas dunia itu.


"Ngalamun tong jauh teuing! Hese balikna." (Melamun jangan terlalu jauh. Nanti susah kembali)


"He he." Ratna nyengir kuda merasa Raisya sedang menyindir dirinya.

__ADS_1


"Cepetan Rat makannya! Gue mesti menyiapkan dan memeriksanya kembali surat kontrak sebelum mereka menandatanganinya. Bu Mia minta aku menyelesaikan revisi, ada yang mesti direvisi katanya." Raisya terlihat buru-buru menghabiskan makan siangnya.


"Oke. Susah santai kalau kamu sudah on mah eung." Ratna tak menghabiskan makan siangnya takut Raisya meninggalkannya.


"Kamu gak menghabiskan makanannya?" Raisya melihat soto dan nasi kepunyaan Ratna masih tersisa sepertiganya.


"Sudah! Aku juga sudah kenyang." Kilah Ratna langsung berdiri.


"Lah tau gitu aku gak bakal pesan tadi. Mending satu mangkok berdua saja." Raisya menyayangkan sisa makanan yang masih banyak. Padahal lumayan kalau tadi pesan semangkok berdua bisa mengirit jatah hariannya.


"Kamu sih gak bilang!" Ratna menyalahkan Raisya karena tidak berbicara dari awal.


"Ayu!' Keduanya berjalan menuju lift masih berbicara dan sambil tertawa-tawa.


Begitu sampai di depan pintu lift, Ratna menekan tombol lalu pintu pun terbuka.


Detak jantung Raisya seakan berhenti setelah matanya menangkap wajah seseorang yang ada dalam lift sedang ditemani seorang wanita yang pernah ditemuinya waktu itu.


"Sya.. " Ratna memangil Raisya yang hanya berdiri mematung tanpa melangkah masuk ke dalam lift.


Semenjak pintu terbuka orang yang ada dalam lift itu pun menatap tajam ke arah Raisya dengan pandangan sinis.


Ratna memperhatikan gerak-gerik Raisya dengan melihat ke samping. Raisya maupun Ratna sama sekali tidak saling bicara apalagi bertegur sapa dengan orang yang dibelakangnya. Semuanya seolah saling tak mengenal.


Tling


Suara pemberitahuan bahwa lantai yang dituju sudah sampai. Tertera lantai 15 di atas pintu.


"Aku duluan ya Rat!" Lirih Raisya pada Ratna.


Ratna melihat wajah Raisya nampak berubah murung. Padahal barusan terlihat ceria seperti biasanya.


"Iya. Bay!" Ratna melambaikan tangannya yang hanya dibalas senyuman malas.


Raisya pun keluar tanpa ada keinginan untuk melihat ke belakang apalagi harus berbalik. Dia pun berjalan ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaan setelah shalat di dalam ruangannya terlebih dahulu.


Ratna bergeser menempati tempat berdirinya Raisya tadi. Ratna menoleh ke belakang untuk sekedar menyampaikan kesopanannya walau biasanya tidak seperti itu.


"Maaf." Raisya sedikit menganggukkan kepalanya diiringi senyuman yang tulus sebagai tatakrama karena telah membelakanginya.

__ADS_1


Senyuman itu dibalas dengan ekspresi datar dari keduanya. Akan tetapi hal itu tak menjadi soal bagi Ratna. Dia mengambil prasangka baik dengan menyimpulkan 'Mungkin dia harus menjaga wibawa karena sedang berada dengan seseorang.


Selesai sudah Raisya merevisi, lalu mencetak file yang diminta bu Mia dan membawanya pada bu Mia.


"Ini bu revisinya." Raisya menyodorkan kertas itu ke hadapan bu Mia.


"Ma kasih ya Rat!" Bu Mia tak banyak bicara. Di depan meja sudah ada seseorang yang mau memeriksanya yang tak lain ada pengacara perusahaan yang ditunjuk untuk memeriksa dokumen yang diperlukan.


"Sama-sama Bu!" Raisya membalikkan badannya sambil menatap meja Jacky yang masih kosong, lalu berjalan menuju kubikel nya.


Raisya duduk di depan meja kerjanya sambil melorotkan tangannya di atas meja kerja. Lalu menyimpan kepalanya di atas tangan. Sambil memikirkan ekspresi seseorang yang tadi ada di dalam lift yang tak lain adalah Jacky.


Setelah pertengkaran tadi malam lewat telepon, Jacky tak ada kembali menghubunginya. Bahkan terlihat jelas sejak pagi eskpresi wajahnya begitu kecut melihat Raisya.


Apakah dia marah padaku? Apa aku perlu berbicara padanya menjelaskan bahwa handphone itu memang benar-benar hilang dan tak tahu rimbanya dimana. Tapi .. seharusnya dia tuh mikir kalau handphone aku hilang terus ada yang menemukannya pasti nomor aku dibuang. Tapi jika nomor itu aktif dan bisa mengirimkan pesan seperti itu, pastinya orang yang menemukan handphone itu orang yang dikenal. Lalu kira-kira siapa? Kenapa juga dia harus marah seperti yang ketahuan selingkuh?.Dan maksudnya marah begitu apa ya?


Tling


Tling


Sebuah notifikasi masuk.


"Sya kamu ada masalah dengan Jacky? Kok aku melihat kalian kaya sedang bertengkar?" Ratna agak penasaran dengan perubahan sikap Jacky dan Raisya.


"Tau.. "


"Ada apa sih Sya? Kok aku aneh melihat tingkah kalian yang biasa akrab tapi tiba-tiba seperti orang yang asing.


"Tau."


"Ini mau jawab atau mau beli tahu sih?" Ratna yang awalnya ingin tahu malah dijawab dingin oleh Raisya.


"Terserah!" Raisya tak menanggapi protesnya.


"Ah.. kalau elu sudah bilang terserah. Berati elu kalah Sya!"


Hei.. hei readers yang baik hati... InsyaAllah author tiap akhir bulan akan bagi-bagi pulsa bagi readers yang setia mendukung. Jangn lupa ya kasih vote biar author tambah semangat dalam berkarya..


Author kasih ucapan banyak terimakasih atas dukungan readers selama ini.. jangan lupa baca karya author yang lain jika sempat😊😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2