
"Apa aku boleh masuk? Ada barang yang masih tertinggal di dalam kamarku." Jason menatap wajah Raisya yang sedikit sembab.
"Mmm.. " Raisya membuka pintu kamarnya dengan lebar.
Sepasang netra Jason masih memindai wajah Raisya yang terlihat sedih.
"Kamu menangis?" Tanya Jason begitu masuk ke dalam kamar. Rasanya hatinya tidak tenang melihat Raisya bersedih.
"Mmm.. tidak. Hanya bangun tidur." Raisya berbohong untuk menutupi bekas air matanya yang masih merah.
Jason hanya mengangguk tidak mau bertanya lebih meski hatinya menduga Raisya berbohong.
"Maaf laptop dan beberapa dokumen masih tertinggal di meja kerjaku." Jason memberitahu maksud kedatangannya pada Raisya.
"Ambillah! Aku akan menunggu di luar." Raisya tak berani berdua-dua an di dalam kamar khawatir mencurigakan.
"Mmm... " Jason pun mengambil barang yang dimaksud di laci mejanya.
"Terima kasih. Jika kamu perlu bantuan jangan sungkan untuk meminta bantuan." Ucap Jason sambil menatap dalam Raisya. Khawatir dan kepedulian Jason pada Raisya entah kenapa menjadi besar. Padahal sebelumnya dia tak pernah peduli dengan perempuan manapun.
Setelah Jason mengambil barang yang dimaksud Jason pun segera keluar dari kamar itu. Hal sama yang dipikirkan Jason. Dia tak mau orang menilainya buruk dengan bedua-dua an di kamar dengan perempuan.
Setahu Jason menyukai bos besarnya. Apa jadinya kalau ada gosip miring tentang keduanya. Perasaan suka disimpannya dalam di hati Jason. Apalagi setelah tahu Raisya malah menyukai laki-laki lain, Jason memilih untuk menahan diri. Dia tak mau dikatakan sebagai laki-laki penghancur hubungan orang lain. Rasanya sakit ketika pasangan kita berselingkuh dengan pria lain, ada yang membekas di hati Jason tentang suatu hubungan dengan perempuan. Dimana dulu dia pernah berhubungan serius dengan seorang perempuan bahkan di saat hari-hari menjelang pernikahannya, sang perempuan malah berselingkuh dengan kakaknya sendiri. Itu menjadikan pelajaran bagi Jason untuk menjaga suatu hubungan dan tak mau dia hadir menjadi orang ketiga.
"Sama-sama. Kalau sudah tidak ada lagi barang yang dicari aku akan masuk." Ucap Raisya hendak masuk kembali ke kamar nya.
__ADS_1
"Mmm... jaga diri baik-baik!" Hati Jason tak bisa dibohongi. Meski ingin bersikap dingin, tetap saja bibirnya malah bicara khawatir. Netranya berkata bahwa Raisya sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Itu yang membuat Jason tak bisa bersikap tak peduli.
"Terimakasih." Ucap Raisya sambil menutup pintu kamar. Raisya masih berdiri di depan pintu dengan memejamkan matanya. Rasa sakit di hatinya kenapa sulit untuk dialihkan. Kenyataan Jacky memutuskan itu terasa menusuk-nusuk hati sanubarinya.
Ah.. kenapa hatiku seperti ini? Kenapa aku harus sesakit ini kehilangan dia. Melihat dia melepaskan aku
Air mata Raisya kembali meleleh dan tubuhnya melorot ke bawah. Raisya terisak menahan rasa sedih yang besar. Tanpa disadari ternyata dia masih mencintai Jacky. Perasaan yang tumbuh sejak lama dan kenangan bersamanya tak mampu hilang dan dihapus dengan mudah. Ya.. kebersamaan dengan Jacky tak bisa dibilang sebentar. Sejak dia bekerja sampai saat ini hati mereka saling tarik menarik.
Jason yang masih berdiri mematung di depan pintu malah ikut mendengarkan Raisya terisak. Suaranya meski samar-samar tapi Jason masih mendengar dengan jelas bahwa orang yang di balik pintu sedang menangis. Meski dia tidak tahu apa penyebabnya, ingin sekali dia ikut meringankan beban perempuan yang pernah menjadi cinta pertamanya.
Perlahan tangannya mengulur meraba daun pintu seolah tembus ke dalam. Ingin sekali dia membelai perempuan yang sedang terisak itu. Entah kenapa hatinya ikut terasa sakit melihat Raisya sesedih itu.
******
balkon kamarnya. Menatap jauh sepanjang mata memandang. Seolah ikut pergi jauh bersama perempuan yang dicintainya.
Separuh nafas dan semangatnya kini telah pergi. Hanya meninggalkan kehampaan yang entah kapan terisi lagi.
Kepulan asap-asap yang keluar dari mulutnya mengepul seolah mengeluarkan semua beban-beban yang sedang menghimpit dalam pikiran dan hatinya. Tapi sayang itu cuman sekedar hayalan. Begitu benda yang disesapnya habis pikiran itu seolah kembali dan memaksa Jacky menyulut kembali rokoknya sampai tak bersisa satu pun.
Ah.. Sesakit ini rasanya harus melepasnya? Lebih baik aku sakit karena luka pukulan daripada aku sakit tak berdarah seperti sekarang..
Jacky menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya kasar.
"Ra.. apa kita memang tidak ditakdirkan bersama? Jika memang kita tidak ditakdirkan bersama, aku doakan semoga kamu mendapatkan laki-laki yang baik, yang bisa menjagamu sampai akhir. Maafkan aku.. selama ini aku tidak memberikan kebahagiaan padamu. Hanya rasa sakit yang pernah aku berikan padamu. Makanya Tuhan menghukum ku dengan rasa sakit ini." Jacky hanya bicara sendiri di dalam hatinya.
__ADS_1
Sherly yang sudah terlelap tidur, tidak tahu Jacky meninggalkan ranjangnya. Dia malah asik dengan kegelapan malam tanpa rasa kantuk. Obat yang diberikan dokter tak mampu membuat Jacky untuk memejamkan mata sehingga dia memilih untuk keluar dan berdiri di atas balkon yang ada di kamarnya.
Kling
Kling
Kling
Suara notifikasi terdengar datang dari handphone Jacky yang sedang ditaruh di sampingnya.
Jacky melirik sebentar melihat ke arah layar handphonenya.
"Raisya.. " Panggil Jacky lirih. Buru-buru dia meraih handphonenya dan membuka pesan itu. Hati nurani memang tidak bisa dibohongi, meski barusa dia berkata ingin melepasnya tapi hati kecilnya malah berkata harap.
Kotak pesan dengan cepat Jacky buka seolah tidak sabar, apa yang dikirimkan Raisya padanya.
"Terima kasih Jack.. kamu sudah melepaskan aku. Aku harap kamu hidup bahagia dengan Sherly juga keluarga kecilmu nanti. Semoga jika suatu hari nanti kita bertemu hati kita sudah saling melupakan apa yang pernah terjadi diantara kita. Mari kita berpisah dan hidup bahagia." Raisya
Jacky membekap mulutnya. Tak kuasa membaca pesan itu yang memberikan pesan seolah dia sedang menguliti perasaan yang pernah ada. Jacky menggelengkan kepalanya seolah tidak setuju untuk saling melupakan. Hatinya rapuh sekarang ini. Raga memang laki-laki tapi hati tetaplah sakit melihat satu sama lain harus menerima kenyataan harus saling melupakan. Melupakan kenangan manis dan pahit selama ini.
Jacky mampu meredam sakit sewaktu dulu sebelum menikah. Tetapi berbeda rasanya ketika sesudah menikah dengan Raisya. Untuk berkata 'berpisah' rasanya dia harus mengeluarkan energinya yang besar. Apakah ini yang dinamakan cinta?
Bulir-bulir bening tak terasa keluar dari kedua kelopak mata Jacky. Ditatapnya pesan itu dan dibacanya berulang-ulang. Matanya yang membaca kenapa telinganya seolah mendengar Raisya berbicara. Tanpa Jacky sadari malah jarinya menekan nomor Raisya dan mendekatkan benda pipihnya ke telinga.
"Jacky.. kamu belum tidur?"
__ADS_1