Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Aksi


__ADS_3

"Sya.. kamu jadi dipindahkan ke Divisi pemasaran?" Di selang mengunyah makan siangnya Hesti penasaran akan gosip yang beredar seputar Raisya.


"Jadi. Mulai besok mbak." Raisya asik menyeruput kuah soto yang masih mengepul.


"Wah.. sepi dan tambah berat sekarang. Apalagi si Jacky Chan menemui kembarannya." Keluh Hesti dengan malas dia menyuap lagi makanan.


"Semangat mbak." Raisya memeragakan ala popeye sebagai motivasi untuk Hesti.


"Boro-boro semangat. Yang ada gempor Raisya! Kebayang sama elu harus mengerjakan semua laporan dari semua cabang dari seluruh gerai, menghitung laba rugi, belum pemasukan dan pengeluaran perusahaan. Dan itu semua harus gue yang mengerjakan. Kalau dulu sih ada elu sama kunyuk. Eh malah pada mabur begini... Kerjaaan siapa sih ini? Pak Nathan apa pak Adam? Bu Mia sampai ngamuk-ngamuk juga gak didengerin sama pak Adam. Bikin uring-uringan di ruangan. Gue pusing Sya!


"Nanti kan ada Ratna. Bisa ada amunisi bantuan untuk divisi keuangan." Bela Raisya yang hampir menghabiskan kuah sotonya.


"Kayaknya gak bakal segesit elu Sya! Sorry ya meski elu sobatnya, tapi masalah kerja, elu jagonya." Puji Hesti pada Raisya.


"Mbak.. semua juga berproses. Aku juga masih inget pertama masuk ke divisi keuangan banyak diomelin mbak. Sampai-sampai gue lembur tiap hari untuk revisi. Bisa itu karena biasa kan mbak? Semuanya juga gak ada yang ujug-ujug bisa dan langsung ahli. Butuh ketekunan dan keinginan untuk maju mbak. Ratna lebih pinter dari aku lho mbak! Cuman dia kan terbiasa enak, jadi jarang ada tuntutan. Mesti diingatkan kalau dia gak peka. Jadi harap mbak sabar. Nanti juga terbiasa. Emang sih biasanya kita bertiga ya.. he he emang Jacky kemana mbak?" Raisya yang dari kemarin tidak mau mengangkat telepon juga pesannya tidak tahu kalau Jacky sudah tidak ada di ruangannya.


"Lah elu gak tahu si Jacky diover ke cabang Korea?" Hesti agak heran jika Raisya tidak mengetahui kepindahan Jacky. Karena keduanya biasa nampak akrab.


"Ohh." Jawab Raisya pendek tak mau lebih panjang membahas Jacky. Dia berusaha untuk menulikan hatinya dan tak peduli apapun yang terjadi dengan Jacky.


"Kok hanya ohh?" Heran Hesti.


"Ya ga pa-pa mbak. Masa saya harus bilang wow gitu mbak?" Raisya terkekeh.


"Eh dasar siti markonah. Kalau serius bawaannya ngocol aja. Ahh... kayanya bakal kangen elu Sya!" Hesti menghela nafas.


"Lah mbak.. kaya ditinggal jauh ke Arab aja sampe menghela nafas panjang gitu! Bikin oksigen bumi berkurang banyak." Raisya melihat wajah Hesti begitu kasihan. Terlihat lemas tak bersemangat.


"Hooh. Mending ditinggal ke Arab aja lah...pergi naik onta balik lagi naik haji." Celotehan Hesti membuat Raisya tertawa lepas. Orang-orang yang sedang makan di sekitarnya menoleh sambil geleng-geleng kepala.


Satu pasang mata dari tadi memperhatikan Raisya. Ratna yang hari ini diajak khusus makan oleh Nathan di ruang executive tidak bisa bergabung dengan Raisya.


Ratna mengintip dari ujung kelopak matanya memperhatikan Nathan yang sedang melihat ke arah Raisya dan Hesti. Dari tadi sorot matanya tak mau lepas dari Raisya.


Apa yang sedang dilihat dari Raisya? Tatapan yang aneh.


Ratna bermonolog.

__ADS_1


Sementara itu di rumah sakit tempat Sarah bekerja pak Robert sedang mengadakan kunjungan kerja selaku pemegang saham di salah satu rumah sakit itu. Sejak pagi semua yang ada di rumah sakit sudah sibuk menyiapkan tamu kunjungan kerja dari pemegang saham.


"Dokter Sarah kenapa malah duduk di belakang? Bapak mertua sedang datang bukannya disambut" Perawat Lina yang sudah dekat dengan Sarah menggodanya.


"Sst jangan ribut! Jangan sampai direktur memanggilku! Aku males berhadapan dengan mereka. Jadi, lebih baik kamu menghalangi badanku agar tidak ketahuan!"


"Aihhh.. " Perawat Lina bergeser menurut mengikuti keinginan Sarah. Semua tim medis menyambut tamu dengan berdiri berjejer. Sedangkan Sarah memilih berdiri diurutan paling belakang.


Tuan Robert rupanya mengedar mencari keberadaan Sarah dengan ujung kelopak matanya. Tapi diantara deretan berbaju putih tak nampak wajah Sarah di matanya.


Tuan Robert lalu berjalan menatap ke depan dengan tegap dan gagah. Dia dengan penampilannya terlihat sangat berwibawa membuat berdecak kagum siapapun yang melihatnya. Walau usianya sudah berumur tapi sisa ketampanannya masih terlihat jelas.


Setelah acara penyambutan, tuan Robert langsung masuk ke ruangan direktur berbicara empat mata dengan direktur rumah sakit.


"Bagaimana dengan keadaan rumah sakit?"


"Baik. Bahkan ada beberapa peningkatan terutama di bagian bedah. Ada beberapa pejabat yang ingin memindahkan perawatannya ke rumah sakit kita. Karena mereka merasa nyaman atas pelayanan juga penanganan disini." Ucap Direktur rumah sakit.


"Mmhh. Baguslah! Siapa pimpinan di bagian bedah?"


"Dokter Hendra. Dia senior di antara dokter. Tapi yang paling banyak pelanggan di antara dokter bedah malah dokter muda Sarah. Bahkan ada beberapa pelanggan VIP kita tak ingin ditangani dokter lain. Walau mereka tidak mengidap penyakit dalam."


"Ya dia walau masih muda tapi cekatan di bidangnya. Selain itu dia ramah pada semua pasien. Membuat para pelanggan nyaman jika ditangani dia." Terang direktur rumah sakit.


"Begitu ya? Apa ada jabatan kosong di rumah sakit ini buat dia?" Tanya tuan Robert pada direktur rumah sakit.


"Dulu juga ditawari jabatan sebagai humas rumah sakit, tapi dia menolak. Katanya tidak mau terlalu sibuk. Katanya dia akan kembali ke Amerika untuk mengambil S3 nya. Ibunya juga mempunyai rumah sakit di sana katanya. Jadi dalam waktu dekat ini dia akan pergi meneruskan pendidikannya."


"Hhmm. Apa tidak bisa mewakili dirimu. Aku akan memberikan kucuran dana jika kamu sanggup menawari dia. Jangan sampai dia pergi ke Amerika. Kalau bisa tahan dia agar rumah sakit ini bisa lebih berkembang."


"Baik akan saya coba. Tapi bagaimana kalau dia menolak?"


"Ya kalau mau rumah sakit ini menurun drastis silahkan saja!" Ancam tuan Robert.


"Ohh.. iy Iya baik." Direktur rumah sakit agak tergagap dan mengerutkan dahinya. Apakah sepenting itukah dokter Sarah di mata tuan Robert? Dia tak mau main-main dengan ancamannya.


Sarah yang selesai praktek. Sedang menggantung pakaian putih dokternya. Lalu mengambil benda pipih yang ada di atas meja. Menekan nomr seseorang yang ingin dia hubungi.

__ADS_1


"Halo. Drik."


"Iya.Halo."


"Bisa kita makan malam bersama? Ada yang ingin kubicarakan denganmu." Pinta Sarah.


"Jam berapa? Aku mesti jemput adikku dulu."


"Oke. Jam 7 bisa?"


"Hhmm. Ya Sherlock aja tempatnya. Paling aku datang agak terlambat. Soalnya ada acara perpisahan dulu katanya."


"Oke. Aku tunggu! Jangan lupa ya!" Sarah begitu senang.


Hai... readers setia. Hari ini aku mau bagi pulsa lagi ya bagi readers dalam rangka satu bulan pas novel ini membersamai kalian.


Ada readers yang setia like, komen, vote aku juga kasih aku favorit. Nah kalian juga bisa dapatkan jika mau hadiahnya.


Yang paling banyak dukungan aku kasih pulsa 20rb.


Jangan lupa ya ikuti balik. Aku susah menghubungi kalian kalau mau chat.😁😁😁




Santi Ona




Nurlaela



__ADS_1


chat me. kalau dalam jangka 2hari gak ada menghubungi dianggap hangus ya hadiahnya.


__ADS_2