
"Pih.. ada Sherly di luar?" Sewaktu Jacky masuk ke mansion nya dia melihat Sherly bersama mamih nya sedang mengobrol. Mereka terlihat akrab dan santai. Jacky melihat sekilas lalu masuk ke dalam mansion dan mengetuk ruang kerja ayahnya.
"Mmm.. kemarin sore dia datang. Dia ingin membawa Michel dan ingin hidup bersamanya." Ucap Tuan Robert memberitahu nya. Sejak kemarin Tuan Robert sudah bingung, apa yang mesti diputuskannya. Terlebih kondisi Sherly yang sekarang berbeda dengan yang dulu.
"Ya seharusnya dari dulu dia hidup dengan Michel. Dia kan ibunya!" Jacky sinis menanggapi pembicaraan ayahnya. Rupanya dia setuju-setuju saja kalau memang Michel dibawa Sherly, karena anak itu butuh kasih sayang seorang ibu.
"Namanya manusia, baru sadar kalau tahu dia akan mati." Ucap tuan Robert sambil menyandarkan punggungnya pada kursi kerja sambil menghela nafas.
"Maksud papih?" Jacky mengernyitkan dahi setelah mencerna kalimat apa yang dikatakan ayahnya.
"Sherly mengidap kanker payudara." Jawab tuan Robert mengusap mukanya kasar ada rasa iba di wajah tuan Robert ketika membicarakan Sherly.
"Apa?" Jacky terhenyak kaget mendengar Sherly sedang sakit. Dia tak menyangka mantan istrinya itu sedang mengidap penyakit mematikan.
"Mmm.. papih kasian juga sama dia. Papih jadi teringat dengan Nathan. Makanya papih menyuruh mu datang. Ada yang ingin papih bicarakan sama kamu berkenaan dengan Sherly juga kamu." Tuan Robert bingung untuk menyampaikan permintaan Sherly untuk yang terakhir kalinya pada Jacky.
"Maksud papih bagaimana? Apa hubungannya denganku?" Jacky tak mengerti kenapa keadaan Sherly dikaitkan dengannya. Meski dulu dia mencintai Sherly dan pernah menikah dengannya. Tapi untuk sekarang dia sudah tidak ada hubungannya lagi dengan perempuan itu.
__ADS_1
"Sebagai permintaan terakhirnya, dia ingin menikah denganmu. Bagaimana menurutmu?" Tuan Robert langsung to the point. Malas sepertinya harus bermain kata-kata.
"Apa? Menikah denganku? Papih gimana? Urusan aku saja belum selesai dengan Raisya. Sekarang aku mesti menikah dengan Sherly? Aku gak mau pih... " Tolak Jacky yang menurutnya ini benar-benar tidak etis. Meski dulu cintanya sama Sherly lebih besar, tapi entahlah setelah kedatangan Raisya cintanya seolah goyah. Apalagi melihat Sherly hamil oleh Nathan, semakin hancur lah perasaannya sama Sherly. Itulah Jacky, kalau dia sadar, dia sedang mengalami pengalaman yang kedua kalinya. Nasibnya memang.
Ketika Sherly datang kembali lalu menguji cintanya lagi, Jacky pun tak bisa mengelak dari godaan Sherly. Masih ada getar-getaran yang tumbuh di hatinya ketika Sherly datang kembali. Meski dia pun tak mau kehilangan Raisya juga waktu itu. Dia memang serakah tak mau kehilangan keduanya sehingga membuat Raisya jatuh pada Nathan.
Jacky memang mempunyai emosi tak stabil. Begitu menikahi Sherly, dia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Sherly hanya karena cemburu pada Raisya yang sudah menikah dengan Nathan waktu itu. Keromantisan keduanya membakar api cemburunya. Karena kesal akan sikap Jacky, maka Sherly pun membuat sandiwara dia tidur bersama Nathan di malam pengantinnya. Alhasil membuat kehancuran di dua pernikahan, yaitu pernikahan Jacky juga pernikahan Raisya. Semuanya begitu tragis memang nasib pernikahan keluarga Alberto.
"Kamu pikirkan kembali. Sherly hanya mempunyai waktu yang sedikit dengan penyakitnya yang sekarang. Jangan sampai kamu menyesal seperti papih pada Nathan. Atau Raisya pada Nathan. Lagian kamu juga tidak akan bisa kembali pada Raisya di tengah kehamilannya. Jujur papih sebagai laki-laki, pastinya hasrat kamu tak bisa ditahan terlalu lama." Tuan Robert hanya bisa mengatakan hal itu tanpa bisa memaksanya.
Ditempat yang lain dokter Ferdi menyuruh pembantunya untuk mengawasi rumah yang pernah ditempati Raisya dahulu. Sejak menghilangnya Raisya di rumah sakit, dia sibuk juga mencari Raisya ke sana ke mari. Hatinya yang masih tertambat pada Raisya, dan dia pun sangat candu pada Raisya membuat pikirannya selalu tertuju pada Raisya.
"Maaf, den Ferdi.. di rumah itu cuman ada seorang laki-laki. Katanya sih masih saudara almarhum. Itu kata satpamnya." Orang suruhannya melaporkan.
"Apa tidak terlihat ada orang lagi?" Ferdi masih penasaran.
"Tidak den. Saya sudah tanyakan pada satpam, dia menjawab tidak ada siapa-siapa lagi katanya."
__ADS_1
Kemana Raisya pergi ya? Di Bandung pun tidak ada. Aku tidak banyak tahu tentang dirinya. Apa. dia tinggal di rumah mertuanya? Masa iya? suaminya malah tinggal disini.
Ferdi sedang berpikir kemana kira-kira Raisya pergi.
"Apa dia mengunjungi rumah sakit lain untuk menggugurkan kandungannya?" Itu yang terbersit di dalam pikirannya. Dia mesti menyewa seseorang untuk mencari keberadaan Raisya secara profesional. Karena kalau mengandaikan Art nya dia tak bisa maksimal mencari Raisya.
"Apa aku harus bertanya pada kak Sarah? Dia pasti tahu keberadaan Raisya sekarang. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana kalau dia sudah tahu kelakuan aku pada Raisya? Apa aku harus menyuruh orang juga untuk bertanya padanya? Tapi siapa kira-kira?" Itulah kebingungan dokter Ferdi sekarang. Memikirkan dimana keberadaan Raisya.
Sang Art dari tadi melihat gerak-gerik sang majikan. Dia tahu majikannya menyukai perempuan yang pernah tinggal di rumah itu. Selama ini majikannya belum pernah terlihat akrab dengan perempuan lain selain Raisya. Ada niat ingin membantu sang majikan agar bisa bertemu dengan perempuan yang bernama Raisya itu, tapi dia bingung caranya bagaimana. Paling dia hanya bisa menanyakan informasi dari satpam rumah itu.
Dokter Ferdi menelpon seseorang yang mungkin bisa membantunya melacak keberadaan Raisya saat ini. Dia tak mau menunda-nunda nya lagi apalagi sekarang Raisya sedang keadaan hamil. Kemungkinan besar dia pergi meninggalkan suaminya, karena Jacky terlihat sendirian di rumah itu sejak beberapa hari yang lalu.
Di tempat yang lain, Raisya hanya duduk, makan dan tidur saja pekerjaannya. Walau sesekali dia pun suka mengobrol dengan Aisyah tapi itupun tidak banyak. Tak ada kata semangat atau gairah dalam dirinya sekarang. Dia hanya menunggu waktu saja sampai dirinya melahirkan. Karena tidak ada rencana apapun dalam benak pikiran Raisya selain menunggu hari-hari berlalu.
"Mbak Raisya mau kapan periksa kehamilan? Biar nanti saya antar." Aisyah menyodorkan buah-buahan ke hadapan Raisya agar ibu hamil itu makan dan mengisi perutnya. Tak banyak memang permintaan ibu hamil ini. Dia hanya menerima pemberian Aisyah. Itu membuat Aisyah bingung juga. Apa Raisya menahan diri dari meminta, padahal dirinya rela jika Raisya ingin dibelikan sesuatu seperti ibu hamil lainnya. Tapi ini malah tidak.
"Mmm.. tidak tahu." Jawab Raisya singkat. Sepertinya dia tidak terlalu peduli kapan dia harus diperiksa dan kapan dia harus pergi ke dokter. Padahal keberadaan Raisya di rumah itu hampir satu bulan. Malah Aisyah yang rajin menghitung usia kandungan Raisya.
__ADS_1