Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Cantik luar dalam


__ADS_3

"Kenalkan ini bu Sinta! Dia GM di sini." Ucap tuan Baron memperkenalkan Raisya pada seorang wanita cantik seksi juga tak kalah fashionable.


"Perkenalkan saya Raisya. Senang bertemu anda." Ucap Raisya sambil menyodorkan tangan pada Sinta. Dengan wajah dingin Sinta menerima tangan Raisya. Setelah selesai memperkenalkan Raisya dengan Sinta, keduanya pun keluar dari ruangan kantor GM. Tak banyak yang dibicarakan antara ketiga orang itu selain basa-basi dan tugas Raisya yang harus dilaksanakan ke depannya.


"Baiklah. Anda bisa bekerja mulai saat ini. Dan ini ruangan bagian keuangan. Anda bisa mengaudit laporan keuangan dan bisa melaporkan langsung pada saya." Tedi asisten pribadi Baron mengarahkan Raisya pada pekerjaan yang harus dilakukannya.


"Terimakasih pak." Raisya memberi hormat pada Tedi atas bantuannya memperkenalkan dirinya pada semua staf dan pejabat perusahaan. Kini Raisya menjabat sebagai audit keuangan perusahaan.


"Kalau tidak ada yang ditanyakan saya pergi dulu bu Raisya." Pamit Tedi setelah mengenalkan Raisya.


"Oh iya baik pak!" Raisya mempersilahkan Tedi untuk meninggalkan ruangannya.


Tak disangka setelah menerima perkenalan Sinta menemui Baron di ruangannya. Dua orang itu memang sudah sejak lama akrab. Sinta sejak dulu sudah menaruh hati pada Baron sang duda keren dengan sejuta pesona. Tapi Baron sama sekali tidak pernah menanggapi Sinta kecuali sebagai rekan kerja.


"Apa kamu sendiri yang menyeleksi karyawan baru bagian audit itu?" Tanya Sinta dengan nada cemburu.


"Mmm." Jawab Baron sambil memeriksa dokumen-dokumen yang harus ditanda-tanganinya.


"Kamu yakin?" Sinta melihat tajam pada laki-laki yang sejak dulu dikaguminya.

__ADS_1


"Aku hanya memberi kesempatan pada semua orang berdasarkan pengalaman yang dia miliki. Semoga perkiraan aku tidak meleset. Kenapa? Kamu merasa ada masalah dengan dia?" Baron menghentikan pekerjaannya dan melihat ke arah Sinta.


"Tidak. Aku hanya ingin tanya saja. Apa tidak ada pelamar yang laki-laki gitu?" Pertanyaan itu semakin memperjelas perasaan Sinta saat ini.


"Kalau ada, pengalamannya memang dibawah dia. Aku hanya mencoba yang terbaik untuk saat ini. Apalagi kondisi perusahaan membutuhkan orang yang kompeten di bidangnya yang bisa menyelesaikan masalah secepatnya." Ucap Baron jujur.


Kondisi perusahaan yang Baron miliki memang sedang bermasalah di bidang keuangan. Dia membutuhkan orang untuk mengaudit keuangan perusahaan agar secepatnya bisa ditangani dan diperbaiki. Karena selama ini Baron belum menemukan orang yang cocok dalam pekerjaan itu. Dan masalah perusahaan menjadi buntu. Untuk itu dia membuka lowongan kerja untuk orang yang berpengalaman di bidang audit keuangan secara baik agar permasalahan perusahaannya segera selesai. Selama ini perusahaannya mengalami kerugian besar dan Baron belum bisa menemukan akar masalahnya dimana.


"Baik. Aku selalu mendukung usahamu. Tapi jangan lupa kalau dia tidak profesional maka dia harus segera dipecat dari perusahaan." Sinta yang notabene anak dari pemegang saham terkadang senang mengatur dan menekan Baron dalam perusahaan. Dari sikapnya yang seperti itu, Baron sering tidak nyaman dengan Sinta. Meski dia seorang duda beranak dua dan membutuhkan pasangan, dia sama sekali tidak tertarik dengan Sinta. Bukan karena tidak cantik, tapi sikapnya yang egois seringkali membuat Baron tidak nyaman.


"Iya." Baron tak mau banyak berdebat dengan Sinta. Dia kembali ke pekerjaannya malas untuk menanggapi Sinta yang hanya menghabiskan waktu dan emosinya.


"Aku tidak janji. Kalau pekerjaanku selesai, oke. Tapi kalau tidak sepertinya aku memilih makan di sini saja." Jawab Baron tak mau Sinta banyak berharap.


Sikap Sinta yang posesif terkadang membuat karyawan di kantor perusahaan juga tidak nyaman. Setiap kali Baron ada acara atau apa saja, dia ingin terlihat tampil menjadi pasangan Baron. Dia tak ingin karyawan ataupun kolega Baron dekat dengan sang pujaan hati. Dia ingin menunjukan bahwa Baron adalah miliknya dan tak boleh ada yang dekat dengan dia.


"Ya sudah kalau kamu makan di kantor aku juga." Jawab Sinta yang tak ingin lepas dari Baron sedikitpun.


Baron hanya diam. Selama tidak mengganggu kerjaannya Baron jarang protes dengan keberadaan Sinta di sisinya.

__ADS_1


"Aku pergi dulu." Pamit Sinta melangkah hendak meninggalkan ruangan Baron. Di pintu masuk Tedi sudah menunggu Sinta keluar dari ruangan Baron. Tedi yang tahu kebiasaan Sinta yang tak mau diganggu disaat berdua dengan Baron menunggu di balik pintu dengan perasaan kesal.


"Apa?" Sinta melebarkan matanya ketika netranya beradu dengan Tedi. Dia tahu Tedi memang kurang suka dengan dirinya.


Tedi tak menjawab apapun. Dia memalingkan muka dari Sinta agar tidak terlibat adu mulut dengan wanita yang sok berkuasa itu. Semua karyawan takut jika sudah berhubungan dengan Sinta yang suka seenaknya memecat atau menghukum karyawan.


Keduanya saling bersimpangan lalu keduanya pun masing-masing menjauh setelah Sinta masuk ke ruangannya dan Tedi masuk ke ruangan Baron.


"Pak.. ini laporan dari bu Raisya mengenai audit perusahaan pusat tiga tahun ke belakang. Kata bu Raisya dia akan menyelesaikan laporan auditnya lima tahun ke belakang setelah dua hari sejak sekarang." Tedi membawa lembaran juga file yang dikirimkan Raisya.


"Baik. Coba lihat!" Baron menyuruh Tedi menyerahkan berkas-berkas yang dibuat Raisya.


Baron membaca dengan detail setiap angka dan analisa yang dilaporkan Raisya dalam berkas itu. Dalam hati dia mengagumi pekerjaan Raisya yang cepat dan tepat. Dengan merekrut dia sebagai karyawan, dia sudah memangkas biaya konsultan yang biasa Baron sewa untuk mengaudit perusahaan setiap tiga tahun sekali.


"Bagus. Dia bisa bekerja cepat. Aku rasa aku tidak salah pilih dia sebagai tim audit. Kalau sudah selesai mungkin aku akan mengajaknya turun ke anak perusahaan yang kita punya. Karena tiap tahun laba perusahaan terus saja berkurang bukannya bertambah." Ucap Baron yang ingin mencari bukti dari permasalahan perusahaan yang kini dia pimpin. Selama ini dia telah berusaha memperkerjakan tim, tapi selalu saja menemukan jalan buntu. Entah apa penyebabnya membuat Baron frustasi.


"Baik pak. Saya juga sangat senang dengan kinerja bu Raisya. Selain cantik ternyata dia juga pintar." Mulut Tedi tidak tahan untuk tidak memuji Raisya di depan bosnya. Dia berharap sang bos bisa kenal lebih dekat dengan Raisya yang mempunyai kepribadian yang menyenangkan. Tedi yang baru saja kenal dalam beberapa hari langsung seperti terhipnotis dengan sikap Raisya yang humble dan friendly. Ternyata di balik cantik ada kepintaran yang tersembunyi.


"Awas! Kerjamu hanya melototi perempuan cantik. Kalau ketahuan kamu lalai aku tak akan segan-segan mengganti asisten." Ancam Baron pada Tedi.

__ADS_1


"Weis.. ceritanya bapak ngancam? Gak mempan tuh. Paling bapak yang memohon saya untuk tidak meninggalkan bapak. Memanga ada calon asisten yang sebaik saya pak?" Ucap Tedi percaya diri.


__ADS_2