
"Ih.. daddy...kita jadi malu." Michel cemberut.
"Iy.. ya.. maafin daddy ya..!" Nathan tak ingin Michel marah padanya. Seketika itu juga dia langsung mencium pucuk kepala Michel dengan lembut. Dia berusaha untuk menyenangkan Michel.
Untungnya Michel anaknya tidak neko-neko jadi lebih memudahkan Nathan untuk mengasuh dan mendidiknya. Bahkan dia lebih dewasa dari umurnya. Sekarang Michel menginjak kelas satu sekolah menengah.
Keduanya berjalan melalui eskalator, tetapi mata Nathan tetap mengamati lajunya lift yang transparan.
Tapi karena laju eskalator harus melalui dulu lantai di bawah nya, lift yang sedang diamatinya tertinggal dari pengamatannya. Begitu sampai di lantai 1dia menghela nafas, karena usahanya memantau tidak berhasil.
Nathan dan Michel berjalan ke area parkir. Tangisan yang mirip gempa kembali terdengar di area parkir.
"Wah.. si anak petir kayanya jadi lagi." Begitu mendengar suara tangisan yang keras Michel langsung berkomentar. Padahal objeknya tidak terlihat.
"Ishhh... kamu! kamu apalagi gledek..! " Nathan menahan tawanya.
"Aku merepotkan ya dad?" Michel melirik Nathan.
"Wah.. sangat." Nathan jadi teringat pada Raisya. Dia mengedarkan pandangan mencari asal suara.
Sementara itu Irwan dan keluarganya masih sama-sama di tempat parkir. Kebetulan posisinya berbeda. Arsel yang masih mengantuk terbangun lalu mengamuk. Raisya agak kewalahan menghadapi tenaga Arsel yang lumayan kuat.
"Sini sama papa sayang.. " Irwan yang merasa kasihan langsung mengambil ambil Arsel. Irwan belum masuk ke dalam mobil masih meredakan tangisan Arsel. Empat tahun bersama Raisya juga Arsel, Irwan merasa sudah tidak canggung lagi memperlakukan Arsel layaknya anaknya sendiri.
"Mama sama papah duluan ya!" Orangtua Ratna kebetulan membawa mobil sendiri memilih duluan.
"Iya mah. Raisya biar sama Ratna aja. Kasian Arsel masih mengantuk." Tadinya Raisya ikut bersama kedua orang tua Ratna tapi melihat Arsel mengamuk, Ratna tak tega membiarkan sahabatnya kesusahan. Kebetulan suaminya pawang Arsel. Kalau dia menangis seperti itu biasanya suka langsung reda jika digendong Irwan
Entahlah apa anak itu merindukan sosok ayah sehingga Irwan menjadi tempat mencurahkan emosinya.
"Yuk.. biar papa gendong sambil menyetir." Anak. yang lucu dan imut itu mengangguk senang. Apalagi memang hobinya dengan mobil.
Tanpa mereka sadari dua pasang mata sedang memperhatikan interaksi drama Arsel.
__ADS_1
Nathan dan Michel yang hendak menaiki mobil tiba-tiba mendengar seseorang memanggil nama Raisya. Seketika itu juga jantung Nathan seperti terkejut. Dia berdiri mematung di depan pintu mobil menatap ke arah mobil yang sedang terparkir di seberang kebetulan terhalang hanya dua mobil dari mobil Nathan.
"Dad.. " Michel melihat wajah ayahnya.
"Chel.. itu bukannya bunda... " Kedua netra Nathan sulit diartikan ketika dia melihat jelas Raisya ada di antara Ratna dan Irwan.
Kebetulan masker yang dari tadi dipakai Raisya terbuka karena Arsel tidak sengaja menariknya sampai putus ketika tadi mengamuk.
"Ya Allah.... " Mata Michel membola, kedua telapak tangannya menutup mulut merasa tidak percaya melihat perempuan yang selama ini dirindukannya, kini berada tak jauh dari keduanya.
Setelah mereka masuk ke dalam mobilnya dan melaju, Nathan pun langsung masuk ke dalam mobilnya.
"Daddy... kenapa tadi tidak menyapanya?" Tanya Michel dengan nada lirih.
"Mmm... kalau daddy menyapanya takut bunda merasa ketakutan." Jawab Nathan dengan asumsi yang ada di kepalanya.
"Lalu sekarang apa yang akan daddy lakukan?" Tanya Michel penasaran.
"Daddy mau mengikutinya. Daddy pengen tahu rumahnya dimana?" Nathan begitu antusias mengikuti mobil yang sedang dikendarainya.
"Ya... kita lihat saja nanti." Ucap Nathan tak putus harap. Dia sangat penasaran ingin tahu banyak tentang kehidupan Raisya.
"Sebaiknya daddy... hentikan!" Michel menatap ke samping tepatnya Nathan yang sedang fokus menyetir mengikuti mobil Irwan.
"Apa?" Nathan yang sedang memakai kacamata hitam melirik sebentar pada Michel.
"Sebaiknya daddy hentikan untuk mengikuti bunda! Biarkan bunda mempunyai kehidupan dengan keluarganya." Imbuh Michel.
"Kenapa?" Tanya Nathan karena dia tidak mengerti kenapa Michel tidak setuju dengan apa yang dilakukannya.
"Aku.... takut dad!" Mata Michel berkaca-kaca. Dia mengenang kesedihannya ketika kehilangan Raisya sewaktu dari tangga dan juga ketika mendengar bahwa Raisya harus bercerai dengan ayahnya. Dia takut ayahnya akan mengulangi perbuatannya.
"Mmmm....tapi Michel... " Nathan yang aslinya memang keras masih bersiteguh dengan sikapnya.
__ADS_1
"Kalau daddy... masih mau mengikutinya. Michel mau pergi dari daddy.... "
Cekitt....
Seketika itu juga Nathan mengerem mobilnya secara mendadak dan menimbulkan derit mobil yang cukup kencang.
"Tidak..... Michel tak boleh pergi dari daddy.. " Dengan nada bergetar Nathan mengatakan ketidaksanggupannya jika Michel sampai meninggalkannya.
"Lebih baik kita pulang saja dad.. " Ucap Michel terdengar sedih. Meski dirinya ingin sekali bertemu dengan Raisya, tapi dia harus menahannya demi kebaikan ayahnya. Dia sangat khawatir jika ayahnya tidak bisa mengembalikan emosinya seperti dulu.
"Ba... baik. Daddy sekarang putar arah ya. Kita pulang ke rumah." Nathan yang sangat ketakutan kehilangan Michel memilih untuk kembali ke. rumahnya tidak lagi mengikuti mobilnya Irwan.
Keesokan harinya.
Ini adalah hari pertama Michel pergi ke sekolah. Dia sekarang memasuki kelas satu sekolah menengah pertama yang berada di Jakarta.
"Daddy... nanti pulangnya Michel dijemput apa tidak?" Michel sambil sarapan menanyakan hal itu pada Nathan.
"Nanti daddy suruh sopir kantor buat jemput kamu ya!" Nathan tidak mungkin menjemput karena ini hari pertama bekerja dan sudah banyak agenda yang harus dikerjakan di perusahaan.
Kini Nathan menggantikan Adam di Indonesia dan Adam untuk sementara di rolling dengan Jacky.
"Ya.. " Ucapan Michel pendek.
Setelah mengantarkan Michel, Nathan pergi ke kantor
Sebagian karyawan sudah mengetahui pergantian direktur baru, tak terkecuali Irwan. Semua pejabat perusahaan sedang berkumpul di ruang aula untuk penyambutan pejabat direktur baru.
Irwan yang baru melihat foto Nathan tadi pagi di ruang lobi perusahaan agak kaget. Ternyata yang menggantikan posisi Adam adalah Nathan.
Sepanjang acara Irwan lebih banyak menundukkan pandangan dari Nathan. Tapi sebaliknya Nathan malah menyoroti Irwan. Sampai giliran acara perkenalan tiap pejabat pun berlangsung tiap divisi memperkenalkan kepalanya masing-masing. Banyak perubahan struktural dalam perusahaan diantaranya kepala divisi yang sekarang malah dijabat oleh Irwan. Irwan sangat kaget dia mendapatkan jabatan barunya.
"Selamat ya Wan!" Nathan menjabat tangan Irwan.
__ADS_1
"Terimakasih pak Nathan." Ucap Irwan dengan jantung yang berdegup kencang. Bukan tanpa alasan Irwan agak deg-deg an. Mulai saat ini pastinya interaksinya akan lebih inten dengan Nathan.