Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Ukuran kebahagiaan


__ADS_3

"Maaf Pak. Kalau siswa yang bernama Michel apa. sudah keluar kelas gitu? Saya sudah menunggu lama tapi belum juga terlihat." Ratna bertanya pada penjaga di gerbang sekolah sekaligus security sekolah itu.


"Michel yang murid baru ya?" Tanya nya pada Ratna.


"Benar pak." Ratna melihat pada penjaga sekolah itu dengan tatapan optimistis.


"Maaf Bu.. Michel tidak mengikuti pelajaran hari ini. Tadi pamannya kecelakaan. Jadi tadi izin tidak masuk sekolah." Terang penjaga sekolah itu menjelaskan.


"Apa kecelakaan? Yang benar saja pa? Mungkin ada Michel yang lain." Ratna kaget sekaligus tidak percaya apa yang dikatakan penjaga sekolah itu. Pasalnya Raisya tidak menceritakan apapun. Mungkin saja di sekolah itu ada nama yang sama.


"Betul bu. Michel yang bule itu kan? Pamannya juga bule. Tadi dia ketabrak mobil saat mau menyebrang menjemput Michel. Katanya ibunya juga sedang dirawat di klinik." Penjaga sekolah panjang lebar memberikan informasi yang diketahuinya.


"Yang ini bukan pak?" Irwan memperlihatkan foto profil Raisya yang sedang berfoto bertiga.


"Iya betul. Di sekolah ini tidak ada nama Michel kecuali murid baru itu." Jawab penjaga sekolah meyakinkan Ratna juga Irwan.


Degg...


Ratna seketika itu juga lemas. Entah apa yang terjadi dengan Jacky sehingga tuan Robert merahasiakan kecelakaan itu dari Raisya. Apa kemungkinan Jacky kritis? Ratna sedang menduga-duga.


"Beb.. kamu tidak apa-apa?" Irwan yang menahan badan Ratna melihat Ratna dengan cemas.


"Ki.. ta... ke sana.. yang.. " Ratna saking kagetnya bicara terbata-bata.


"Iya.. kita ke sana. Tapi kamu nya yang kuat ya!" Irwan memberi suport pada Ratna.


Ratna mengangguk lemah dengan tatapan mata yang kosong.


"Terim kasih pak informasinya. Kalau boleh tahu mereka dirawat dimana ya pak?" Irwan yang masih dibilang tegar menanyakan alamat rumah sakit tempat Jacky dirawat.


"Menurut keterangan polisi, mereka telah dibawa ke rumah sakit xxxx." Penjaga sekolah itu memberikan informasi sesuai dengan apa yang diketahuinya.


"Sekali lagi terimakasih pak!" Ucap Irwan.


"Iya sama-sama pak." Jawab penjaga sekolah.

__ADS_1


"Hayu beb.. kita jenguk ke sana. Kamu tenang aja! Kita berdoa semoga Jacky tidak terlalu parah lukanya." Irwan terus berprasangka baik pada keadaan Jacky.


"Iya." Ratna yang sudah merasa dekat dengan Jacky, tentu saja hatinya sangat cemas. Bagaimana pun dia bertahun-tahun melewati masa-masa kebersamaannya ketika bekerja bersama Jacky juga Raisya. Apalagi semenjak Jacky menyukai Raisya, hubungan Jacky dengan sepasang suami-istri itu semakin dekat. Ya bisa dibilang bestie.


Irwan menuntun Ratna masuk ke dalam mobil. Mereka hendak mengunjungi Jacky di rumah sakit, karena sangat penasaran mengenai keadaan Jacky paska kecelakaan.


Sampailah mobil yang dikendarai suami istri itu di depan rumah sakit. Irwan berjalan menuju administrasi untuk menanyakan di ruang mana Jacky dirawat.


Ratna kembali terhenyak, manakala petugas memberikan informasi tentang Jacky yang masih di ruang ICU.


"Beb... sabar! Kamu yang kuat! Kita akan ke sana sekarang." Ucap Irwan sambil menggandeng tubuh Ratna yang lemas.


Keduanya menyusuri koridor dan sampailah di ruang ICU.


Ruang ICU memang dijaga ketat. Tak bisa sembarangan masuk ke dalam ruangan itu. Untuk masuk ke ruangan itu harus melewati ruang administrasi dan ruang petugas medis.


"Maaf.. apa boleh saya menjenguk teman saya yang sedang ada di dalam sana pak?" Ucap Irwan pada seorang security yang berjaga di depan pintu ICU.


"Tidak bisa pak. Hanya petugas media dan dokter saja yang boleh masuk." Jawabnya tegas.


"Kalau boleh bertanya, pasien yang bernama Jacky apa dia terluka parah?" Ratna penasaran tentang keadaan Jacky.


"Iya Pak.."


"Kalau ingin bertanya seputar pak Jacky, anda boleh bertanya pada dokter jaga. Mari saya antar!" Petugas itu mengantar masuk ke ruang para medis.


"Maaf dok. Ini ada temannya pak Jacky, mau jenguk dan mau ngobrol sama dokter." Petugas keamanan memberitahu dokter jaga yang ada di ruang medis.


"Oh.. iya terima kasih pak." Salah satu dokter menjawab.


"Baik saya tinggal dulu ya pak bu." Petugas itu pun kembali berjaga.


"Perkenalkan nama saya dokter Edward." Dia mengulurkan tangannya mengajak berkenalan.


"Oh.. saya Irwan dan ini istri saya Ratna. Kami temannya pak Jacky." Irwan dan Ratna menyambut tangan dokter dan bersalaman.

__ADS_1


"Silahkan duduk! Ada yang bisa saya bantu?" Dokter Edward melihat Ratna dan Irwan silih berganti.


"Saya ingin menjenguk teman saya dok. Dan saya ingin bertanya tentang keadaannya dok." Jawab Irwan ingin mengetahui keadaan Jacky. Karena kalau tidak parah pastinya dia akan berada di ruang perawatan.


"Sebenarnya pak Jacky belum sadar dari komanya. Ada benturan yang mengenai kepalanya yang menyebabkan gegar otak dan retak di sekitar wajah. Patah tulang di tangan juga retak di bagian kaki juga bahu. Kita menunggu pak Jacky sadar, nanti bisa langsung dipindahkan ke ruang perawatan.


"Kalau mau lihat, bisa dari balik kaca. Silahkan!" Dokter Edward berdiri diikuti Ratna dan Irwan. Mereka melihat kondisi Jacky yang sedang terbaring di ruang ICU.


"Kita doakan bersama, semoga pak Jacky segera sadar." Ucap dokter Edward.


"Aamiin." Irwan mengelus punggung Ratna memberikan kekuatan. Terlihat Ratna berkaca-kaca melihat Jacky dengan kondisi seperti itu.


"Baik. Terimakasih ya dok atas bantuan anda memberi kesempatan pada kami untuk melihatnya.


"Sama-sama."


"Kalau begitu kami permisi dulu dok. Sekali lagi kami ucapkan terimakasih. Semoga pak Jacky bisa segera sadar dan kembali sembuh seperti semula." Ucap Irwan.


"Iya aamiin."


Keduanya bersalaman tanda pamit lalu keluar dari ruang ICU.


"Kamu mau duduk dulu beb?" Irwan yang melihat Ratna meneteskan airmata mengajaknya duduk dulu.


"Kita doakan saja ya. Semoga Jacky kuat." Irwan kembali mengusap punggung Ratna. Ratna mengangguk dengan menyeka air mata.


"Aku sangat takut melihat Raisya sama Jacky yang. Kenapa sih mereka hidupnya rumit?" Ratna melihat ke arah suaminya.


"Setiap orang diuji beb dengan kadar kemampuannya. Bisa jadi kita melihat mereka menderita, tapi siapa tahu justru mereka bahagia."


"Ibarat orang yang mendaki gunung, kata kita mungkin mereka menderita. Tapi malah orang yang menjalaninya senang dan bahagia melakukan itu semua."


"Jadi.. kita tidak bisa mengukur kebahagiaan orang lain itu dengan kacamata yang bisa kita lihat. Tapi dengan kacamatanya sendiri." Terang Irwan.


Ratna mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Irwan.

__ADS_1


"Apa kita mesti memberitahu Raisya?" Ratna meminta pendapat pada Irwan apakah dia mesti memberitahu Raisya atau tidak.


"Sebaiknya kita jangan gegabah. Bisa jadi ada pertimbangan lain yang diambil tuan Robert untuk tidak memberitahu Raisya mengenai kecelakaan yang menimpa Jacky."


__ADS_2