
"Buka mulut kamu!" Wajah tampan bercula satu itu kentara judes. Dia dengan setengah hati menyiapkan sendok bekas Michel ke mulut Raisya.
"Biar sama saya aja pak!" Raisya tak enak hati dilihat banyak orang, tangannya bergerak mau membawa wadah makanan Michel.
"Suruh buka mulut saja susah! Apalagi buka baju!" Di luar kesadarannya Nathan mengeluarkan kata-kata itu seratus persen berhasil membuat Raisya ketakutan lalu melipatkan kedua tangannya menyilang di atas dadanya takut laki-laki yang di depannya berbuat nekad.
Sepasang netra Nathan naik turun mengamati Raisya dan berakhir di area tangannya yang menyilang di atas dada.
"Kamu??? Hah..!!" Nathan yang tadinya mau menyuapi Raisya mengurungkan niatnya lalu menghempaskan wadah itu dihadapan Raisya. Dia langsung menggendong Michel berlalu dari hadapan Raisya.
"Dadah... " Michel melambaikan tangannya pada Raisya dengan senyuman termanisnya.
Raisya menurunkan kedua tangannya lalu mengambil wadah yang masih berisi makanan setengahnya. Lalu Raisya melanjutkan acara makannya dengan lahap. Tak lagi memikirkan apa yang baru saja terjadi.
"Za.. antarkan aku pulang! Dan urus sisa pekerjaan!" Nathan masuk ke dalam mobil bersama Michel juga Ina.
"Baik." Reza lalu duduk di depan kemudi bersebelahan dengan Ina. Sedangkan Nathan duduk bersama Michel di belakang.
Michel berdiri sambil memeluk tengkuk ayahnya.
"Kenapa Daddy liat terus tante Raisya?" Nathan ketahuan Michel. Netranya tak mau lepas melihat Raisya yang sedang makan sisa Michel yang tadi diberikannya.
"Hhmm." Nathan langsung menarik pandangannya lalu menatap putri kecilnya yang sangat dia cintai. Lalu tangannya yang lebar meraih pinggang Michel menaruh badan Michel dipangkuannya sambil menciumnya gemas.
"He... he... geli daddy.. geli."
"Ah.. daddy gemes liat kamu.." Nathan terus saja menciumi Michel tanpa ampun membuat Michel tertawa-tawa tak tahan diciumi ayahnya.
Reza melihat interaksi anak dan ayah yang begitu akrab. Kedua bibir Reza terangkat, dia tersenyum bahagia melihat keakraban kedua makhluk yang ada di belakangnya. Dan Ina pun tersenyum melihat Reza yang mungkin masih terasa asing melihat keakraban Michel dan Nathan seperti itu.
Nathan langsung menghentikan ciumannya melihat Michel kewalahan minta ampun.
"Daddy nakal!" Manik indah Michel menatap wajah tampan ayahnya.
__ADS_1
"Lho kok nakal?" Nathan heran mendengar celotehan Michel yang mengatasinya nakal.
"Daddy bisanya mencium Michel... kenapa Daddy gak nyari bunda buat Michel? Biar Daddy gak ganggu terus Michel kaya tadi?" Ucapnya jujur.
"Heh?" Nathan sedikit terkejut mendengar anaknya berbicara seperti itu.
"Daddy... aku kangen punya ibu. Seperti yang lainnya. Mereka bisa bermain dan ke sekolah diantar ayah ibunya. Terus kalau Michel ditanya ibu Michel siapa? Michel gak bisa jawab. Teman-teman Michel suka ngetawain. Michel juga mau seperti mereka yang suka jajan sama ibunya." Keluh Michel yang mampu menusuk hati Nathan yang membatu.
Nathan mendekap Michel lebih erat. Bibirnya tak bisa menjawab keinginan anaknya. Yang terlintas dalam benaknya saat ini adalah hanya Sherly. Sejak awal pertemuannya dengan Sherly dia begitu mendamba perempuan cantik dengan bodi aduhai yang sering dipuja para kaum hawa dan adam. Bagaimana tidak, Sherly begitu cantik dan terpilih menjadi model unggulan di sebuah agensi kelas internasional. Bukan sembarang model.
Namun sayangnya di hati Sherly hanya ada seorang nama lelaki yang bukan namanya. Nathan tidak mau menerima kenyataan itu. Kebaikan Sherly padanya disalah gunakan untuk melampiaskan rasa sukanya.
Malam itu Nathan berhasil menggagahi Sherly dengan paksaan. Malam yang naas bagi Sherly tapi tidak buat Nathan. akhirnya Sherly harus cuti satu tahun dari publik dan menyembunyikan dirinya untuk merahasiakan kehamilannya dari para pengejar berita.
Sampai sekarang kedudukan Sherly belum tergantikan di hati Nathan. Walaupun tidak dapat memiliki Sherly dia harus puas memiliki Michel buah dari perbuatannya di malam itu.
Ya.. akal licik sedang menyusun rencana. Kalau dia tidak bisa melupakan laki-laki itu, maka Nathan akan membuat laki-laki itu tidak bisa memiliki siapapun yang dia sukai.
Tak lama kemudian mobil yang ditumpanginya sampai di depan rumahnya. Nathan turun dari mobilnya sambil menggendong Michel.
"Kirimkan padaku apa yang harus aku periksa!"
"Baik pak! Saya permisi dulu!" Reza berlalu dari hadapan Nathan.
Nathan menurunkan Michel begitu masuk ke dalam rumahnya.
"Michel mandi dulu sama mbak Ina. Dady mau mandi juga. Badan daddy sudah lengket.
Michel mengangguk mengerti.
Nathan naik ke lantai 2 dimana di sana kamar nya berada. Dia langsung membuka pakaiannya dan membersihkan diri di kamar mandi sambil berendam di atas bathtub.
Pandangannya menerawang ke atas langit-langit. Dia memikirkan apa yang diucapkan anaknya, Michel. Tak bisa dipungkiri dia pun merasa kesepian hidup tanpa pasangan. Selama ini dia tak membuka hati untuk perempuan manapun kecuali Sherly. Kedatangan Sherly di perusahaan begitu menarik hatinya yang sudah lama membeku. Tapi.. hatinya begitu rapuh tatkala matanya dipaksa melihat ciuman panasnya bersama Jacky. Ya hanya nama wanita itu yang dari dulu sangat didamba. Walaupun lidahnya harus menelan pahit kenyataan yang ada bahwa Sherly mencintai saudaranya sendiri, Jacky.
__ADS_1
Dia sedang memikirkan permintaan Michel akan seorang ibu, apakah dia harus meminta Sherly?
Nathan langsung berdiri mengangkat tubuhnya mengguyur semua badannya di atas shower. Berharap air yang mengucur dari atas shower mampu menjernihkan akalnya saat ini.
Setelah selesai mandi Natha mencari baju rumahan yang biasa dipakainya di rumah. Baju kaos longgar dan celana bahan yang longgar mampu membuat badannya relaks.
Nathan membaringkan tubuhnya di ranjang besar ukuran king size. Dia masih menyimpan foto-foto lamanya di dalam benda pipih yang mampu menampung banyak memori. Satu persatu dibukanya foto lawas Sherly bersamanya. Itu yang setiap waktu dia lakukan ketika dia merindukannya. Hanya memandangnya tanpa bisa memilikinya.
Di lain tempat Raisya susah siap-siap pulang setelah perusahaan memberi kelonggaran untuk pulang lebih awal setelah gempa terjadi.
"Sya.. ada yang mesti aku omongin sama kamu!' Irwan mendekati Raisya.
"Serius?"
"Iya. lu jangan dulu pulang. Kita tunggu Pak Reza sama Tedi pulang duluan. Kita ngobrol disini." Ucap Irwan mengajak Raisya menunggu.
Satu persatu berpamitan dan ruangan kini hanya ada Raisya dan Irwan.
"Ada apa?" Raisya duduk sambil melihat Irwan yang duduk di seberang meja kerjanya.
"Gue mau minta bantuan ke elu Sya."
"Bantuan apa?"
"Antar gue melamar ke rumah Ratna." Ucap Irwan serius.
"Serius lu?" Ratna kaget mendengar Irwan akan melamar Ratna.
"Gue serius Sya. Gue mutusin langsung datang saja."
Hayooo pasti kaget kan????
reader ini ada novel temen aku yang aku juga suka. Nanti mampir ya.. reader's pasti juga suka dengan petualangan cinta... oke. happy reading ☺☺☺☺
__ADS_1