Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Mencuri Start


__ADS_3

"Om... ayahnya Raisya?" Dokter Ferdi masih belum percaya apa yang baru dilihatnya. Raisya dan ibunya hanya bisa saling memandang tanpa tahu, ada hubungan apa diantara mereka.


Jantung pak Kardi terasa nyeri, dia hanya meringis tanpa bisa memberitahu apa yang terjadi sebenarnya. Bahkan untuk menjawab pertanyaan dokter Ferdi saja dia tak kuat. Tiba-tiba dadanya sesak seperti tertindih benda besar, lehernya seperti tercekik. Wajannya kian pasi. Dokter Ferdi yang melihat perubahannya di wajah pak Kardi langsung mendekat dan mengambil tindakan. Dia membuka baju pak Kardi dan mengambil alat yang dibutuhkannya untuk melubangi nadi yang dekat ke arah jantung.


"Dokter.. kenapa bapak?" Raisya panik melihat tindakan dokter Ferdi. Pastinya ada penyakit berat yang sedang diderita pak Kardi.


"Sepertinya ayahmu sesak nafas." Dokter Ferdi memberi terapi akupuntur untuk pertolongan pertama bagi pak Kardi.


"Apa sebaiknya langsung dibawa ke rumah sakit?" Hati Raisya tidak karuan melihat kondisi pak Kardi yang payah. Padahal tadi masih bisa bicara dan bergerak walaupun terlihat lemah.


"Kita tunggu syok bapak hilang dulu, baru kita bawa ke rumah sakit. Kalau sekarang dibawa khawatir bapak sesak dijalan." Dokter Ferdi tak mengatakan yang sebenarnya, kalau pak Kardi dibawa dalam kondisi sesak, bisa jadi dia akan meninggal diperjalanan.


"Dokter.. apa yang terjadi dengan suami saya? Dan.. kenapa dokter bisa mengenali suami saya?" Ibunya Raisya tak kalah panik melihat suaminya seperti yang mau sekarat.


"Mah.. tenang dulu! Biar dokter Ferdi menolong dulu bapak." Raisya mengusap lembut bahu ibunya agar tenang. Padahal dirinya juga sebetulnya juga tak kalah tidak tenang. Tapi Raisya berusaha mengendalikan diri, karena sindrom panik bisa membuat ayahnya juga tidak tenang. Yang perlu dilakukannya adalah, menunggu dokter Ferdi melakukan pertolongan pertama.


Perlahan kondisi pak Kardi bisa bernafas dengan lega setelah mendapatkan pertolongan dari dokter Ferdi. Wajahnya yang tadi memucat, kini berangsur-angsur normal.

__ADS_1


Dokter Ferdi pun ikut merasa lega melihat perubahan pak Kardi. Jarum-jarum yang dipasangkan di beberapa bagian tubuh pak Kardi berhasil membantu menahan serangan syoknya.


"Raisya.. kita bisa bicara di luar?" Dokter Ferdi mengajak Raisya keluar kamar kedua orangtuanya. Ada yang mesti dibicarakannya.


Raisya mengangguk. Kemudian keduanya keluar dan menutup pintu. Raisya mengajak duduk di ruang keluarga agar suaranya tidak terdengar sampai kamar.


"Raisya... barusan ayahmu terkena serangan jantung. Apakah ayahmu mempunyai riwayat penyakit jantung?" Dokter Ferdi yang sudah mengenali gejala-gejala penyakit jantung, menyampaikannya pada Raisya.


"Setahuku bapak kena diabetes sudah lama. Tapi dia tak mau berobat. Jadi penyakit yang barusan dokter katakan,alah saya baru mengetahuinya." Raisya kaget juga mendengar dokter Ferdi mengatakan ayahnya menderita penyakit jantung.


"Sebaiknya nanti kalau jarum itu sudah saya cabut. Ayahmu segera kita bawa ke dokter. Biar bisa diperiksa lebih intensif. Kalau perlu operasi, ya apa boleh buat. Soalnya serangan jantung bisa saja terjadi lagi dan kapan saja bisa datang." Terang dokter Ferdi.


"Ya sudah.. kita tunggu sepuluh menitan, biar jarum-jarum akupuntur itu bekerja dahulu. Nanti saya akan mencabutnya setlah sepuluh menit." Ucap dokter Ferdi.


"Terimakasih dok! Sudah mau menolong ayah saya." Mata Raisya berkaca-kaca.


"Mmm... tak cukup terimakasih." Dokter Ferdi mendekatkan wajahnya pada Raisya. Seketika itu juga Raisya agak kaget melihat dokter Ferdi mendekatkan wajahnya. Raisya sedikit mundur. Kebetulan Raisya dan dokter Ferdi duduk berdampingan.

__ADS_1


"Wajah kamu merah Raisya." Wajah Dokter Ferdi kian dekat sekali, sampai hembusan nafasnya pun terasa di pipi Raisya. Dada Raisya kian bedebar tidak karuan. Kedua tangan Raisya langsung menangkub wajahnya dan menutup matanya begitu dokter Ferdi mendaratkan bibirnya. Desiran aneh menjalar di kedua tubuh insan yang baru saja bersentuhan. Dokter Ferdi sudah tidak bisa menahan kerinduannya lagi. Cinta yang menggebu hadir dengan cepat dalam diri dokter Ferdi. Sebagai laki-laki dewasa pastinya ada hasrat yang menggunung yang perlu untuk disalurkan.


Jantung keduanya seperti berhenti berdetak begitu kedua pasang bibir saling menempel. Raisya yang belum berpengalaman dalam bidang itu, dia merapatkan bibirnya. Meski dulu Nathan menyentuhnya itupun tidak pernah mendapatkan respon Raisya. Begitu pun ketika Hendrik mendaratkan bibirnya dengan rakus, Raisya malah melawannya. Tapi anehnya ketika dokter Ferdi menyentuhnya Raisya tidak menolaknya. Apakah ini pertanda dia pun menyukainya?


Dokter Ferdi yang sudah pengalaman, dia tahu cara membuat ciuman lembut. Dia merasakan Raisya seperti kaku, seperti belum pernah disentuh. Dia berusaha perlahan membuka bibirnya dan melahap kedua bibir Raisya dengan. sangat lembut agar Raisya merasakan apa yang sedang dirasakannya. Mengungkapkan isi hatinya lewat sentuhannya yang sangat lembut.


Tangan dokter Ferdi perlahan menahan tengkuk Raisya dan terus menyentuh bibir Raisya tanpa henti. Dia merasakan sesuatu yang berbeda. Desiran yang sekarang dia rasakan benar-benar berbeda. Seperti candu yang begitu manis.


Raisya yang mendapatkan sentuhan yang begitu lembut dari dokter Ferdi seolah terlena dan menuntut lebih. Raisya seolah lupa janjinya pada dirinya sendiri yang akan menghindari dokter Feri. Dia baru merasakan sentuhan lawan jenis yang mempunyai rasa dalam hatinya. Apakah ini yang disebut cinta?


Suasana sunyi tapi hati keduanya tidaklah sunyi. Seperti ada tabuh genderang yang sedang bertalu-talu sehingga jantung keduanya saling memompa dengan cepat yang membuat adrenalin keduanya meningkat.


Dokter Ferdi melepaskan ciuman dalamnya dengan perlahan. Kedua pasang bibir kini terlepas. Mata dokter Ferdi masih tajam melihat bibir Raisya yang manis. Sedangkan Raisya masih menutup mata masih belum sadar dari alam. khayalannya.


Dokter Ferdi tersenyum melihat reaksi Raisya yang tidak menolak sentuhannya. Ujung jempol menesuri detail setiap inci bibir Raisya.


Raisya membuka matanya. Kedua netranya beradu pandang. Panah-panah asmara kini seakan sedang saling memanah. Dan tembus menuju hati keduanya.

__ADS_1


"Bibir kamu manis sekali. Bolehkah aku menyentuhnya kembali?" Suara parau yang penuh hasrat seakan terdengar merdu di telinga Raisya.


Raisya hanya terdiam. Dokter Ferdi yang tahu itu bukan penolakan, langsung memiringkan wajahnya kembali menyentuh bibir bawahnya Raisya. Dia sedikit menarik bibir agar Raisya mau membuka mulutnya. Berhasil. Lidah dokter Ferdi langsung menerobos masuk ke segala penjuru mulut Raisya, mengabsen setiap inci nya menumpahkan segala rindu dalam balutan hasrat yang salah. Ya salah karena mencuri star pernikahan.


__ADS_2