
Tatapannya begitu tajam melihat seseorang yang sedang tak memandangnya. Dia sedang berbicara lewat netranya yang dalam.
"Sya.. " Irwan menyikut Raisya sambil setengah berbisik.
"Ya?" Mata Raisya menoleh ke arah Irwan.
"Ntuh!" Badan Irwan pura-pura sedikit condong.
Raisya melihat ke depan dimana Nathan sedang berdiri menatapnya dengan sorot mata yang tajam seperti tajamnya pedang sedang terhunus pada lawan.
Mata Raisya beradu dengan Nathan. Wajahnya bah pangeran seperti magnet, seolah sedang menarik mangsa untuk siap ditarik dan dimakan.
"Ehem.. ehem.. " Raisya bedehem mengusir kegugupan melepaskan tatapan maut Nathan.
"Baik. Perkenalkan nama saya Raisya dari divisi keuangan yang bertugas mengadakan rapat dengan divisi pemasaran. Salam hormat saya untuk pimpinan kami yang sudah hadir disini pak Adam." Raisya menganggukkan kepalanya sebagai hormat. Adam dengan netranya yang terlihat kalem dan berwibawa hanya mengedipkan matanya saja.
"Juga yang saya hormati kepala divisi keuangan bu Mia, juga pak Jacky yang telah memberikan kepercayaannya pada saya untuk mengadakan rapat keuangan pada hari ini." Raisya mengangguk hormat. Bu Mia mengacungkan jempolnya dengan satu senyuman teranggun nya yang hanya ke luar saat dibutuhkan. Dan Jacky hanya menggerakkan bibirnya maju mundur ke depan ke belakang.
"Baiklah saya akan menanggapi laporan perencanaan strategi pemasaran untuk periode ke depan berdasarkan analisis dan teoritis yang saya kuasai. Saya mohon maaf dan bimbingannya jika ada hal yang keliru." Raisya sambil mengambil nafas dan mengatur irama jantungnya agar lebih relax. Dia membuka laporan yang sudah ditandai sebelumnya.
"Pertama dari analisis laporan 3 tahun kebelakang yang saya baca dan analisa bahwa di bagian divisi ini mempunyai strategi yang setiap periode ada penambahan yang baru ada juga strategi lama. Tentu setiap periode akan ada penambahan budget dari periode sebelumnya. Namun setelah akhir periode akan dihitung profit rugi laba yang masuk ke perusahaan untuk menilai sejauh mana strategi pemasaran akan meningkatkan profit perusahaan. Tapi saya lihat dalam periode kebelakang kenaikan profit untuk perusahaan sangat kecil bahkan tidak sesuai dengan budget yang dikeluarkan untuk biaya strategi pemasaran. Saya disini melihat beberapa kelemahan yang selalu diulang tanpa melihat perihal penting kebutuhan dari sebuah pemasaran.
Display tempat juga renovasi tiap galeri yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit yang tujuannya adalah menarik pelanggan.
__ADS_1
Event fashion show yang tidak mengukur pada low budget hanya mementingkan wah tapi tidak menambah daya beli pelanggan.
3.Penyewaan model dari periode ke periode yang tidak dikenal oleh sasaran pelanggan dan merek tidak bisa membawa brand merk perusahaan kita di sasaran target pembeli.
Promo yang sulit dimengerti oleh pelanggan sehingga budget hanya terbuang begitu saja tanpa bisa meningkatkan profit bagi perusahaan.
5.Member aktif dan pasif tidak ada pemeliharaan sehingga mereka hanya membeli produk bukan karena loyalitas tapi hanya sekedar membeli dan pergi tanpa kembali sehingga merugikan kita harus mengulang promo berkali-kali.
Menurut saya strategi ini hanya diulang-dan diulang tanpa dikaji apakah efektif mendatangkan keuntungan atau malah merugikan perusahaan.
Menurut analisa saya sebaiknya pemakaian model disesuaikan dengan pangsa pasar. Kalau untuk pasar eropa tidak masalah kita menggunakan model yang sudah karena bisa dibuktikan ada peningkatan pemasaran yang naik lebih besar. Tapi untuk pemasaran daerah asia sepertinya kita harus menggunakan model asia sendiri yang dianggap fanatik fans. Contohnya ketika merk D menggunakan model Artis Korea yang lagi trending topic padahal produk yang baru saja dibuat, begitu diluncurkan langsung laris manis. Tapi berbeda dengan produk C menggunakan artis kelas papan atas bintang Hollywood seperti Angel itu malah tidak begitu diminati. Jadi penggunaan model untuk membantu pemasaran buat saya sangat penting."
Netra Nathan masih tak mau lepas dari Raisya. Begitu Raisya melihat Nathan dia langsung mengalihkan pada Jacky.
Jacky menggerakkan jempolnya ke arah bibir dan menempelkannya sambil menatap Raisya. Itu kode isyarat. "Aku suka pendapatmu." Tapi itu terkesan agak sedikit mesum dan menggoda.
Tanpa disadari orang yang sedang berdiri di depan yang sejak tadi pandangannya mengikuti Raisya. Dia tahu betul dengan isyarat tadi. Itu bukan hal yang baru untuk Nathan. Karena ketika dulu semasa hidup dengan Sherly dia sering mendapatkan kode itu.
"Baik itu patut dicoba! Kamu bisa kolaborasi kan dengan strategi yang pernah kamu lakukan selama Amerika tapi catatan pangsa pasar kita berbeda dan harus memperhatikan apa yang disukai pelanggan kita dan calon pelanggan kita agar bisa meningkatkan daya beli mereka terhadap produk yang kita tawarkan." Adam akhirnya berbicara menanggapi semua yang telah dipresentasikan oleh Nathan juga analisa bagian keuangan untuk divisi pemasaran atau marketing.
"Baik ada yang menambahkan?" Nathan kembali berbicara. Tapi tak ada yang berani bicara lagi untuk menambahkan masukan ataupun protes.
"Kalau sudah kita akhiri saja rapat ini. Dan satu hal lagi, saya perlu bicara empat mata dengan anda!" Nathan memasang wajah terdinginnya menatap ke arah Raisya.
__ADS_1
"Saya pak?" Raisya menunjuk telunjuk pada wajahnya sendiri.
"Iya kamu!" Nathan kembali menjawab.
Raisya terdiam tapi hatinya bergemuruh.
Kena deh gue
"Gue rasa elu bakal balik lagi deh ke divisi lama." Irwan setengah berbisik sambil mendekatkan wajahnya.
"Ngarep lu!" Raisya menutup laptopnya sambil membereskan beberapa kertas bekas rapat.
Tling
Sebuah notifikasi masuk ke handphone Raisya.
Raisya merogoh saku blazernya dan mengambil handphone pemberian Jacky. Lalu mengusap layar untuk membuka layar di bagian pesan.
Pesan yang masuk sudah bisa diperkirakan pasti datang dari Jacky. Karena dalam handphone baru Raisya hanya baru tersimpan satu nomor saja tak lain pemberi benda itu.
"Ra.. aku kangen. Kamu jangan buat aku meledakkan bom Hiroshima di ruangan ini." Raisya menutup mulutnya begitu membaca pesan.
Jacky diseberang meja sedang menatap dengan aura penuh harap kalau Raisya akan menatap ke arahnya.
Satu dua tiga. Benar saja Raisya langsung melihat Jacky menyunggingkan sebelah bibirnya ke atas.
"Idihhh... dasar mesum."
Jacky kembali mengirim pesan.
"Ra...jangan sampai gue harus maksa lagi! Gue gak mau si ular narik racun buat elu. Tetep di divisi kita. Atau elu mati kena racunnya!" Sepertinya ubun-ubun Jacky naik suhu. Dia tahu Nathan pasti bakal membutuhkan Raisya.
__ADS_1
yukk ikuti novel temen aku yang ini.. ceritanya menarik..