
Malam itu adalah malam terindah yang dirasakan keduanya. Raisya yang sudah pernah menikah begitu terasa dilakukan. Sedangkan Jason yang belum pernah dekat dengan perempuan manapun bahkan berhubungan intim, merasakan begitu kenikmatan luar biasa hanya dengan berdekatan saja dengan Raisya.
Setelah shalat juga membaca doa di atas ubun-ubun sang istri keduanya makan malam terlebih dahulu. Lalu merek duduk santai berdua dengan posisi Jason memeluk Raisya dan Raisya menyandarkan badannya di bahu Jason yang lebar juga wangi. Ada debaran yang hebat yang dirasakan keduanya meski baru hany sedekat itu.
"Sayang... " Jason mencium pucuk kepala Raisya.
"Mmm... " Raisya menyahut dengan posisi masih menyandarkan diri di badan Jason.
"Aku.. ingin pacaran dulu boleh gak? Kita kan baru dekat belum lama ini. Aku ingin menikmati seperti layaknya orang berpacaran." Ungkap Jason pada Raisya.
"Mmmm... maksudnya gimana ya?" Raisya menoleh sambil melihat ke wajah suaminya.
Jason menatap wajah istrinya dengan senyuman termanisnya.
"Itupun kalau kamu tidak keberatan. Aku.. belum mau menyentuhmu.. selayaknya suami istri. Aku.. ingin kita pacaran aja dulu. Tapi kalau kamu gak kuat, aku dengan senang hati akan menyentuhmu." Jason berbisik nakal di telinga Raisya sambil tersenyum lalu menggigit cuping istrinya pelan melakukan sentuhan kecil.
"Ih.. geli... " Raisya menarik diri karena merasakan kegelian.
"Ah.. baru segini aja dadaku kaya mau meledak." Jason menarik kembali badan Raisya lalu di dekapnya.
"Aku ingin dengar darimu Raisya? Apa sebaiknya malam ini unboxing saja?" Jason menempelkan wajahnya di pipi Raisya sambil gemas.
"Aku setuju. Tapi aku tidak yakin seorang laki-laki akan tahan dengan hal itu." Jawab Raisya yang sudah pengalaman meski dia kurang menikmati malam pengantin nya dahulu.
"Oh ya? Tapi kalau aku gak tahan... apa. kamu tidak keberatan?" Tanya Jason menarik dagu Raisya agar menghadap wajahnya.
"InsyaAllah. Kami sudah berhak atas diriku." Jawab Raisya sudah siap untuk melakukan tugasnya sebagai istri.
__ADS_1
"Terima kasih sayang.. aku sangat bahagia bisa menikahimu."
Cup
Jason mencium bibir Raisya ringan.
"Ih.. " Raisya pura-pura protes, padahal dirinya sangat senang sekali mendapatkan perlakuan manis dari Jason.
Cup
Lagi-lagi Jason mencium ringan bibir Raisya ringan. Dia gemas sekali melihat wajah istrinya. Ingin Rasanya dia mencium seluruh tubuh istrinya seperti bermain-main layaknya orang pacaran ala ala anak remaja.
"Ih.. " Raisya protes manja.
"Aku sekali melihat kamu kaya gini... Mari kita kembali ke masa abu-abu!" Ucap Jason mencium pipi Raisya bertubi-tubi.
Jason malah tambah gemas. Dia malah menggoda Raisya dengan melabuhkan ciuman-ciuman ringan di tempat yang bisa disentuhnya.
"Ampun... Jason... aku geli." Raisya langsung mengalungkan tangannya di leher Jason. Kalau tidak begitu Jason akan terus menggelitik nya dengan aksi ciuman-ciuman seperti tadi.
"Oke-oke aku berhenti." Jason benar menghentikan aksinya. Dia melerai rambut-rambut halus Raisya ke pinggir telinga. Lalu mengusap pucuk kepalanya dan menciumnya di kening dengan ciuman yang begitu lama. Keduanya larut menikmati sentuhan. Keduanya memejamkan mata lalu kembali terbuka.
"Sayang... kamu mau pakai kb dulu gak? Aku... khawatir jika kamu hamil sayang.. " Ucap Jason lirih.
"Kenapa? Bukannya kamu senang kalau kita cepat hamil?" Raisya mengerutkan dahi.
"Terus terang aku akan senang jika kamu hamil anakku. Tapi.. aku sangat takut sayang.. aku... tak siap jika aku melihat kamu menderita dan harus mengalami hal-hal buruk seperti yang pernah kamu ceritakan. Buatku tak masalah jika kamu tidak hamil lagi. Bukankah kamu sudah punya Arsel? Buatku itu sudah cukup sayang... aku ingin selalu dekat dengan mu dan menua bersama." Wajah Jason terlihat sedih.
__ADS_1
"Mmm... baiklah kalau begitu. Berarti malam ini... kamu jangan menyentuhku dulu. Aku... tidak membawa pil KB atau.. yang lainnya." Jawab Raisya menyetujui keinginan suaminya.
"Tenang saja... itu nanti kita bisa atur sayang... " Jason kembali berbisik nakal menggoda Raisya.
"Mmm... Kata-kata laki-laki itu sulit dipercaya memang. Katanya tidak mau, tapi mau. Yang benar yang mana ya?" Raisya pura-pura bingung memasang wajah berpikir dengan memasang telunjuknya di kening sambil memutar bola matanya.
"Ha.. ha.. iya ya... itulah bahayanya laki-laki. Makanya jangan dekat-dekat kalau belum muhrim. Sekali dekat kaya magnet gak bisa lepas. Contohnya sekarang." Jason langsung memangku badan kaya ala bridal.
Seketika badan Raisya melayang, dan jantung Raisya seakan berpindah dari tempatnya karena Jason tanpa aba-aba membawa tubuhnya melayang. Selain kaget akan perlakuan Jason, Raisya begitu terpesona melihat wajah Jason yang begitu mempeson.
"Kenapa melihatku seperti itu? Kagum?" Jason membaringkan istrinya di kasur dan dia tidur menyamping melihat sang istrinya sedang menatapnya dengan detail.
Raisya bukan menjawab. Tangannya malah meraba-raba wajah sang suami mulai dari alisnya yang tebal dan tegas lalu turun ke hidung lalu bergerak ke arah bibirnya yang merah alami karena Jason buka laki-laki perokok.
"Masih serasa mimpi." Ungkap Raisya begitu heran menatap wajah laki-laki yang sama-sama kini sedang menatapnya dengan kagum juga.
"Aku juga sayang... kamu seperti hadiah yang diberikan Tuhan. Kamu karunia terindah dalam mimpiku. Selain ibuku, kamu adalah perempuan terindah yang aku lihat sayang... " Kini Jason menyentuh wajah Raisya dan matanya begitu detail melihat setiap bentuk dan lekuk wajah Raisya secara dekat.
"Terima kasih sudah menerimaku apa adanya Jason.. aku sayang sama kamu.. " Raisya memeluk badan kekar Jason yang lebar. Jason membalas memeluk Raisya dengan lembut.
"Sama-sama sayang... " Jason kembali mencium pucuk kepala istrinya dan membawa badan Raisya yang ramping ke pelukannya.
"Kita istirahat saja sayang... biarkan malam pengantin kita, kita habiskan berpelukan begini. Aku merasa damai.. " Ucap Jason berbisik pada Raisya.
"Mmm... " Raisya semakin menyusup ke dada bidang Jason mencari kenyamanan di sana. Rasanya begitu nyaman. Meski sudah dua kali menikah dada laki-laki ini terasa paling nyaman dan damai yang Raisya rasakan.
Perlahan malam pun larut. Keduanya menutup mata dengan damai. Bermimpi indah dan terbang ke nirwana. Merasakan kenikmatan mempunyai pasangan yang halal. Tanpa beban dan pikiran yang menyusahkan. Semuanya terasa nikmat dan bahagia dalam naungan halal. Begitulah yang dirasakan sepasang pengantin yang kini sedang terlelap tidur. Keduanya pergi ke alam mimpi dengan ringan juga nyaman. Tanpa takut dan tertekan.
__ADS_1
Merajut angan dan asa. Mencapai bahagia juga cita. Mereka akhirnya bertemu dalam takdirnya. Takdir yang sudah disiapkan Tuhan untuk orang-orang baik dan mampu bersabar. Itulah kenikmatan hakiki yang bisa diraih oleh pernikahan yang di dasari lillah.