
Hendrik yang baru pertama kali melihat Raisya tidak memakai kerudung matanya melongo.
"Cantik." Kata itu tersemat dalam hati Hendrik. Selama dia bergaul dengan wanita cantik belum pernah hatinya bergetar seperti melihat Raisya sekarang.
"Waduh kenapa junior ku bangun? Padahal aku tidak sedang dalam nonton blue. Sial!" Hendrik merutuki dirinya sendiri dalam hati.
Kedatangannya pagi-pagi ke kostan Raisya yang masih menyimpan energinya yang full melihat pemandangan indah seperti barusan membuat nafsu ke laki-lakiannya muncul begitu saja. Apalagi karena dia laki-laki dewasa yang normal, tentu saja jika instingnya terangsang akan menimbulkan ketegangan di area bawah. Kalau sudah begitu? Dia akan pusing sendiri mengatasinya.
Ratna langsung membawakan kerudung Raisya ke kamar mandi. Setelah menggunakan kerudung praktis, Raisya keluar dari kamar mandi dan digantikan oleh Ratna yang membawa baju stelan kantornya yang siap dipakai.
"Kak Hendrik subuh banget kesini? Ini malah baru adzan. Jam berapa dari rumah?" Raisya datar saja melihat Hendrik ada di depannya yang wajahnya sudah berubah seperti disengat kumbang.
Antara menahan hasratnya yang besar di pagi hari, ditambah Raisya wara wiri menyebarkan aroma wangi, itu melemahkan pertahanan Hendrik sebagai laki-laki..
"Jam 4." Suara Hendrik berubah parau. Dia memejamkan matanya untuk tidak melihat Raisya.
"Kakak sakit?" Raisya malah memperhatikan Hendrik dari dekat otomatis wangi Raisya begitu tajam masuk ke dalam hidungnya. Walau bukan parfum mahal tapi malah sangat menggoda.
Hendrik menggelengkan kepala sambil menundukkan kepalanya.
"Sebaiknya kak Hendrik segera ke mesjid! Sebentar lagi subuh." Raisya mengingatkan Hendrik agar pergi dari ruangannya karena kurang nyaman buat Raisya beraktivitas.
"Aku pulang lagi Sya!" Suara Hendrik melemah. Dia harus pulang untuk mengatasi hasratnya yang tiba-tiba timbul. Padahal selama ini belum pernah Hendrik merasakan seperti ini walau bergonta-ganti pacar.
"Ohh.. iya." Raisya menatap aneh Hendrik yang keluar buru-buru.
Raisya segera menggelar sajadah tak memusingkan perubahan Hendrik yang sedang menahan sesuatu.
"Lah kak Hendrik mana?" Ratna yang sudah keluar dari kamar mandi heran melihat kakaknya sudah tidak ada.
"Pulang." Jawab Raisya pendek.
"Ohh.. " Begitu pun Ratna yang tak ambil pusing dengan kepulangan kakaknya. Dia malah senang karena keberadaan kakaknya akan membuat Raisya canggung. Apalagi di pagi buta dia ada di sebuah kamar perempuan, pastinya akan menimbulkan fitnah.
Setelah melakukan shalat subuh Ratna membuka tas yang berisi wadah-wadah yang dibawa Hendrik.
__ADS_1
"Sya.. makan berat ini mah. Kapan mama masak? Jam segini sudah pada mateng." Ratna melihat aneka lauk pauk dan juga menu beberapa pilihan.
"Apa Rat?" Raisya ikut mengintip menu yang telah dibuka.
"Kamu mau sarapan yang mana? Kayaknya ini bisa dibekal juga Sya, buat makan siang." Ratna senang sekali melihat menu kesukaannya ada dibeberapa wadah.
"Wah beneran banyak ini mah. Buat dua orang malah lebih Rat. Gimana nanti makan siang, kita makan bareng saja sama mbak Hesti di ruangan perduitan?" Istilah itu diadopsi Raisya dari Hesti. Kebetulan divisi keuangan memang selalu sepi. Berbeda dengan divisi-divisi lain selain karyawannya banyak sering keluar masuk tamu.
"Oh iya satu lagi. Ada sate. Tadi malam kak Hendrik juga bawa sate." Raisya mengambil bungkusan sate yang belum dibukanya sejak semalam.
"Wah kita makan itu dulu aja ya Sya, bagaimana? Yang ini kita bekal buat nanti siang. Kita makan bareng sama-sama saja di ruangan perduitan." Ratna mengikuti istilah Raisya.
"Oke."
Keduanya menikmati sarapan sate lontong pemberian Hendrik tadi malam dengan senang. Lalu setelah sarapan mereka menyiapkan diri untuk berangkat lebih pagi ke kantor dengan berjalan kaki.
"Assalamu'alaikum.. " Suara ciri khas Raisya terdengar jelas di ruangan divisi pemasaran membuat penghuni divisi langsung fokus melihat pintu.
"Raisya... 'semua yang ada di ruangan itu nampak terkejut melihat Raisya membawa box berisi barang-barang nya.
"Gue bilang apa... pasti si Raisya balik lagi kesini!" Irwansyah langsung menghampiri Raisya.
"Lah... sekarang hujan pun telah datang." Irwan dengan bebas menari-nari di depan Raisya. Kelihatannya senang sekali dengan kedatangan Raisya.
"Eh.. inget... petir dan badai menanti...!" Ucap Tedi yang sedang memperhatikan Irwan yang kegirangan menyambut Raisya.
"Bener Ted... seratus buat gue!" Raisya menaruh box itu di atas meja bekas Ratna lalu menatanya satu persatu sebelum memulai kerja.
"Badai... pasti berlalu... " Irwan malah bersenandung.
"Wah... badai baru datang." Raisya berbicara pelan begitu pintu dibuka
"Wah yang muncul bos arogan tuan besar Nathan Alberto bersama.... " Irwan langsung menghentikan bicaranya langsung berjalan menuju mejanya.
"Halo.. tante Raisya... " Anak bule itu langsung berjalan menuju meja Raisya.
__ADS_1
"Halo anak cantikk.. wah pagi ini kayanya matahari pindah ya.. " Raisya menyapa ramah Michel. Dia tak mau ada masalah dengan anak itu juga ayah beruang yang senang sekali menerkam.
"Kenapa tante.. kok mataharinya pindah?" Michel menautkan alisnya sambil menatap serius Raisya.
"Nah itu di dada Michel!" Raisya menunjukkan gambar matahari di dada baju Michel.
"Ohh.. he he daddy memilihkan baju ini tadi pagi buat Michel. Katanya Michel mataharinya daddy.. " Anak itu polos saja bercerita.
"Baik matahari.. sekarang tante mau bekerja. Michel mau apa?" Raisya menatap gemas Michel pipi embul, mata coklat juga rambutnya yang pirang.
"Michel! Bukan matahari!" Bibir Michel mengerucut tidak mau dipanggil matahari oleh Raisya.
"Oke! Raisya membulatkan jempol dan telunjuknya tanda Oke.
Raisya membuka laptopnya. Reza sang asisten mendekati Raisya sambil berbisik.
"Kamu gak keberatan hari ini mengantarkan Michel ke sekolah?"
"Apa?"
"Dia mogok sekolah. Dan sering memukul teman-temanya. Pak Nathan sekarang ada pertemuan. Jadi gak mungkin mengantarkannya ke sekolah." Reza melihat Raisya menunggu jawaban.
"Baik. Aku mau bicara dengan daddy dulu. Jangan sampai dia menyiksaku lagi jika terjadi apa-apa dengan Michel."
Reza hanya mengangkat alisnya. Sebagai tanda isyarat kata 'terserah'
Raisya mendekati Nathan. Mata Nathan yang tajam menatap Raisya dengan penuh perhatian.
"Aku bekerja disini untuk membantu perusahaan. Bukan menjaga anakmu!" Raisya langsung to the point membuat Reza yang awalnya setuju menjadi heran mendengar Raisya berkata begitu.
"Lalu?" Nathan hanya menatap tanpa sedikitpun ada rasa takut. Malah melihat Raisya tegas dirinya seperti tertantang.
"Kenapa juga aku harus mengantarkan Michel ke sekolahnya?" Raisya melipat kedua tangannya di dada. Dan mulai berani tegas pada Nathan.
"Baik.." Nathan langsung berdiri lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Raisya. Bahkan deru nafas Nathan bisa terasa di pipi Raisya. Mata Nathan menatap Raisya inten.
__ADS_1