Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Ucapan perpisahan


__ADS_3

Raisya terisak sambil menahan suaranya. Tubuhnya melorot lalu duduk di belakang pintu kamar.


Sesekali dia menyeka airmatanya.


Ya Allah.. sabarkan hatiku.. kuatkan jiwa dan ragaku menerima ujian ini.


Raisya segera mengambil handphone dan menghubungi jasa tukang angkut barang untuk segera memindahkan barang-barangnya dari kamar yang selama ini di tempatinya.


Tidak banyak barang memang yang dimiliki Raisya di tempat Ratna. Dia tahu diri selama ini dia hanya menumpang. Jadi jarang sekali membeli barang-barang yang tidak penting. Sebagian barang-barangnya pun kemarin sudah dibawa ke rumah tuan Robert. Dia hanya menyisakan barang-barang yang memang belum diambilnya. Meski begitu, barang-barang nya tidak akan muat untuk masuk ke dalam mobilnya yang bukan khusus angkutan barang.


"Bun... " Suara Michel terdengar dari balik pintu.


"Iya sayang... " Raisya segera menyeka air matanya agar Michel tidak curiga dia telah menangis.


"Sebentar!" Raisya pergi ke kamar mandi dan mencuci mukanya agar terlihat segar. Lalu mengelapnya dengan handuk. Setelah memastikan wajahnya di cermin dia membuka pintu kamar.


"Iya ada apa sayang?" Raisya memaksakan tersenyum.


Mata Michel melihat ke dalam kamar.


"Bunda lagi beres-beres?" Michel mengerutkan dahi. Dia melihat baju-baju bertumpuk di atas kasur


"Iya.. bunda mau beres-beres Chel.. " Jawab Raisya kembali berjalan mengeluarkan isi lemarinya lalu menyimpan di atas kasur.


"Bunda mau pindahan?" Michel duduk di tepian kasur.


"Mmm." Jawabanya pendek.


"Biar Michel bantu bun." Michel segera mengeluarkan baju-baju dari hanger dan melihatnya dengan rapih.

__ADS_1


"Kamu.. bisa bantu bunda bawakan dus dan lakban juga guntung gak?" Raisya meminta Michel untuk mengambilkan barang-barang yang diperlukannya.


"Baik bun. Tapi dimana?" Michel tidak terlalu tahu dimana benda-benda itu berada. Berhubung ini adalah rumah asing baginya.


"Kamu coba ke ruko. Minta sama karyawan di sana ya! Mama mau masukin dulu baju-baju ke koper. Biar nanti sisanya kita masukan ke dus-dus." Raisya memberi arahan untuk membantunya.


"Baik bun.. " Michel segera pergi mencari barang yang diperlukan.


Tak lama kemudian Michel membawa barang-barang itu dan ikut membantu Raisya mengepak semua barang.


"Kamu capek. sayang?" Raisya berkeringat meski kamar itu ber ac. Ya bolak-balik mengepak dan membereskan kamar itu agar rapih kembali lumayan menguras tenaganya.


"Enggak kok bun. Seneng bisa bantu bunda malah." Anak itu memang jarang sekali mengeluh. Mungkin karena sudah biasa mandiri sejak kecil jadi sudah terbiasa melakukan hal-hal seperti ini.


Raisya mengelus lembut Michel dan menatapnya lamat-lamat.


"Barang ini mau dipindahkan kemana bun?" Michel ingin tahu rencana Raisya.


"Gak pa-pa. Aku ikut saja bun. Kemana bunda pergi aku ikut. Yang penting bunda jangan tinggalkan aku!" Michel tertunduk.


"Mmm... bunda tidak akan meninggalkan kamu. Cuman bunda sendiri punya tanggungjawab yang lain Michel. Mommy kamu masih ada. Oppa dan omma juga lebih berhak atas kamu karena daddy kan anak mereka. Sedangkan bunda? Bunda bukan siapa-siapa Michel. Kalau oppa sama mommy kamu pergi ke pengadilan mengajukan gugatan, mereka akan berhasil membawa kamu, karena bunda tidak punya kekuatan atas kamu Michel. Makanya bunda berusaha agar oppa dan omma senang agar mereka tidak membawa Michel dari bunda." Raisya memberi pengertian pada Michel tentang keadaan yang harus dihadapi Raisya.


"Kenapa bunda tidak menikah saja sama om Jacky? Kan kita bisa tinggal di sana bareng. Bunda tidak usah khawatir kehilangan semuanya. Michel juga bisa bareng sama bunda." Michel yang belum mengerti persoalan orang dewasa nampaknya tidak terlalu beban jika Raisya harus menikah dengan Jacky.


"Iya.. nanti bunda pikirkan ya. Bunda kan punya orang tua Michel. Mereka butuh waktu dan bunda juga. Persoalannya tidak semudah itu Michel." Ada hal lain yang membuat Raisya belum bisa menikah dengan yang lain, itu menyangkut persoalan kesehatannya jika melahirkan kembali. Karena ketika melahirkan Arsel, dia sempat kehilangan banyak darah juga sempat koma. Itupun harus dipertimbangkan kembali jika dia harus menikah dengan laki-laki lain yang menuntut untuk melahirkan anak.


"Iya bun. Maafin Michel." Michel akhirnya meminta maaf pada Raisya. Dia tahu betul kalau Raisya sangat baik, dan dia tidak ingin kehilangan Raisya sebagai ibunya.


"Sya... " Ratna tiba-tiba berdiri di depan pintu kamar dengan mata membola.

__ADS_1


"Eh Rat.." Raisya berdiri menghampiri Ratna.


"Kamu.... beneran... mau... pjndah?" Ratna melihat beberapa dus sudah terbungkus rapih. Dia curiga Raisya membawa semua barangnya dan tidak berniat untuk kembali ke rumahnya.


"Iya Rat. Sini duduk! Aku ingin bicara dulu sama kamu!" Raisya menarik tangan Ratna ke tepian kasur yang sudah kembali rapih.


"Mmm.. Michel temani Arsel dulu ya!" Raisya tak ingin pembicaraannya didengar oleh Michel.


"Iya bun." Michel keluar dari kamar itu mencari adiknya.


"Kamu.. kok kaya gak balik lagi sih Sya! Kamu tersinggung ya sama aku?" Ratna mulai berkaca-kaca.


"Mmm.. mana mungkin aku tersinggung Rat. Aku gak napa-napa kok! Lagian aku datang kesini memang sudah niat mau mindahin barang-barang aku." Ucap Raisya tidak sepenuhnya jujur.


"Tapi.. kok dibawa semua Sya? Kamar ini milik kamu. Kamu bebas menyimpan barang kamu disini. Kamu bisa kapan juga tinggal disini. Kalau kamu pindah tak usah membawa barang kamu semua! Ini mah kaya yang gak bakal kesini lagi." Ratna meneteskan air matanya.


"Maafin aku ya Rat! Aku tidak bermaksud begitu."


"Sebenarnya.. aku ingin memulai kehidupan aku Rat. Memulai kehidupan baru dengan dua anak itu tanpa harus bergantung pada orang lain. Aku minta maaf selama ini banyak merepotkan kalian juga telah membuat kalian menjadi salah faham. Aku benar-benar minta maaf."


"Aku juga mengucapkan banyak terima kasih sama kamu yang sudah mau membantuku selama ini. Aku tidak akan melupakan itu Rat."


"Aku butuh waktu untuk menata diri, menata hati aku juga menata hidupku sendiri."


"Andaikan waktu bisa diputar ke belakang. Aku tak ingin membuat kesalahan yang membuat orang lain menderita. Tapi kita tidak boleh berandai-andai, bukan? Kita harus bersyukur dan banyak berterima kasih pada Allah SWT yang selalu melindungi kita juga memanjangkan umur kita sampai saat ini."


"Aku bersyukur mempunyai sahabat sebaik kamu Rat. Aku minta maaf sebesar-besarnya sama kamu. Aku banyak merepotkan kamu juga keluarga kamu."


"Aku tak ingin hubungan baik kita jadi berubah, karena beberapa hal."

__ADS_1


Ratna memeluk erat Raisya, menangis tersesu-sedu. Dia merasa Raisya akan meninggalkannya.


__ADS_2