
Sejenak Jacky pandangan Jacky begitu terpesona dengan penampilan Raisya yang semakin hari semakin cantik. Mungkin sekarang Raisya selalu melakukan perawatan diri berbeda dengan penampilannya yang dulu selalu berpenampilan apa adanya dan sederhana.
Lain dulu lain sekarang. Raisya ingin mengubah dirinya, memanjakan diri dengan apa yang dimilikinya yang selama ini Raisya tak lakukan. Apa salahnya dia menikmati semua yang dimilikinya? Memang tidak salah. Mungkin sekarang waktunya dia menikmati hidup dengan harta yang ditinggalkan Nathan untuknya.
Mata Jacky tak lepas melihat Raisya.
"Kamu... mau pergi?" Tanya Jacky begitu Raisya duduk di depannya.
"Iya. Aku tak punya waktu banyak untukmu. Ada apa kamu datang kemari?" Tanya Raisya sambil mengernyitkan dahi.
"Aku.. kangen Ra!" Jawab Jacky apa adanya. Dia tak bisa menyembunyikan apa yang ada dalam hatinya sekarang. Apalagi di saat dirinya hanya ada berdua saja.
"Sudah bukan waktunya Jack! Kita sudah tidak ada hubungan apapun dan tidak terikat dengan apapun. Sebaiknya kita saling melepaskan dan mengikhlaskan Jack!" Ini kesempatan buat Raisya untuk bicara dengan Jacky dan menginginkan Jacky melepaskan dirinya.
"Tidak Ra! Aku tidak bisa. Kamu tahu sendiri aku tak bisa hidup tanpa kamu. Bertahun-tahun aku hidup seperti mayat hidup, dan kini separuh jiwaku pergi bersama kamu. Aku bisa gila jika disuruh untuk melupakanmu." Jawab Jacky yang merasa sakit ketika mendengar Raisya menyuruhnya untuk melepaskan.
"Jack.. sadarlah! Disisi kamu sudah ada Sherly. Apalagi dia sedang mengandung anak kamu. Dia butuh perhatian dan kasih sayang dari kamu. Apa kamu tega menyakiti perasaannya? Jika di posisinya aku akan merasakan hal sama Jack. Aku tak mau kembali padamu!" Raisya harus memberi ketegasan pada Jacky agar dia tidak terus berharap pada dirinya. Raisya berhak menentukan pilihan dengan siapa dia akan hidup. Hatinya merasa sempit selama ini dikekang oleh keluarga Alberto. Harus berkorban untuk dua orang anak laki-laki nya.
"Tidak Ra! Aku tidak mau. Selama ini aku sudah mencoba tapi tidak bisa. Maafkan aku Ra! Aku tahu aku salah padamu. Aku menyesal telah melepaskan kamu Ra! Please Ra.. aku mohon.. kita rujuk ya!" Jacky langsung duduk bersimpuh di depan lutut Raisya.
"Jangan begini Jack! Please.. jangan siksa aku juga! Aku sudah bosan hidup menderita. Aku ingin kebebasan sebagaimana yang lain. Aku juga berhak mendapatkan bahagiaku Jack. Tapi tidak dengan kamu. Aku sudah memaafkan segala kesalahan kamu Jack. Tapi please... aku tak mau kembali padamu. Biarkan aku bebas dengan hidup ku seperti sebelum bertemu denganmu!" Raisya tak mau Jacky semakin dalam mencintainya.
__ADS_1
"Tidak Ra! Cobalah bunuh aku kalau kamu ingin aku melupakanmu!" Jacky merangkul lutut Raisya memegangnya erat seperti anak kecil yang takut kehilangan induknya.
"Jacky please! Aku tak bisa. Aku tak cinta sama kamu!" Raisya bingung harus bagaimana lagi kalau sudah begini. Melihat Jacky menahannya seperti itu membuat Raisya bertambah berat bebannya.
"Tidak.. aku tak mau pergi. Aku akan disini sebelum kamu menerima aku Ra!" Jacky semakin erat memegang kaki Raisya memeluknya dan melabuhkan kepalanya di pangkuan Raisya.
"Jacky.. kamu tak boleh begini! Aku akan panggilkan aparat kalau kamu memaksa seperti ini. Ini sudah melanggar Jacky! Kamu sudah bukan suamiku lagi." Raisya hendak berdiri tapi sulit sekali menyingkirkan tubuh laki-laki itu dari pangkuannya.
"Silahkan saja! Panggilkan siapa yang akan kamu panggil. Aku akan membuat kamu jadi istriku lagi Ra!" Jacky tidak bergeming dengan ancaman Raisya.
"Aisyah... panggilkan Baron kesini! Biar dia yang mengusir Jacky." Tiba-tiba Raisya terbersit dengan ide itu. Baron yang berjanji akan menjemputnya pasti sebentar lagi akan sampai di depan rumahnya juga. Dia ingin meminta perlindungan dari laki-laki itu untuk mengusir Jacky dari dirinya
Aisyah yang sudah sejak tadi berdiri menahan diri di belakang ruang tamu langsung menyahut.
"Baik mbak." Jawab Aisyah menyimpan nampan yang berisi gelas di atas meja ruang keluarga dan mengeluarkan benda pipih miliknya untuk menelpon Baron sesuai permintaan Raisya yang terdesak.
"Apa yang akan kamu lakukan Ra?" Jacky mengangkat kepalanya mendongak melihat Raisya. Dia kaget kenapa Raisya harus memanggil laki-laki rivalnya itu ke rumah Raisya.
"Ya.. sebentar lagi aku akan menikah dengannya. Aku berhak meminta bantuannya untuk mengusir kamu dari rumah ini." Jawab Raisya dengan wajah kecut.
"Hah? Apa? Mengusir ku? Memangnya rumah ini rumah siapa hah? Berani-beraninya kamu akan mengusir aku dari sini. Rumah ini aku beli untuk kamu dan semua yang ada di dalam rumah ini juga aku yang belikan untuk kamu. Jadi pemilik rumah ini siapa hah?" Jacky membentak Raisya. Emosinya kembali muncul merasa kesal Raisya telah menolaknya.
__ADS_1
"Apa?" Raisya kaget. Mendengar semua kenyataan yang baru saja dikatakan Jacky. Tak menyangka Aisyah dan Anwar telah berbohong mengenai rumah yang ditinggalinya sekarang. Ternyata tanpa sepengetahuannya keduanya telah bersekutu dengan Jacky.
"Kenapa kaget? Sekarang kamu masih mau mengusirku? Aku berhak atas semua rumah ini Raisya. Tak ada yang berhak mengusirku dari rumah ini." Jacky mendekatkan wajahnya pada Raisya. Kemarahan Jacky meluap dan tak bisa dikontrolnya lagi. Ditengah rasa marah, nafsu Jacky pun ikut muncul. Entah bisikan apa yang masuk ke telinga Jacky sehingga tak di duga Jacky menarik paksa tengkuk Raisya dan me****bibir Raisya dengan paksa.
Raisya yang mendapatkan serangan secara cepat tidak bisa menghindar. Tubuhnya yang ramping juga tenaganya yang lemah tak bisa mengimbangi tenaga Jacky, seorang laki-laki yang kekar juga atletis.
Raisya meronta-ronta menolak perlakuan Jacky yang memaksanya untuk di ****.Tangan Raisya yang ramping memukul-mukul dada bidang Jacky yang kekar tapi tak sedikitpun membuat Jacky mundur dan bergeming.
Dengan kasarnya Jacky me****bibir Raisya meski Raisya hampir saja kehabisan nafas. Jacky melepaskan pagu***** dari Raisya ketika melihat Raisya kewalahan karena hampir kehabisan nafas.
Tapi begitu dia melepaskan pagu*****, Jacky langsung menarik paksa tangan Raisya dan menyeretnya ke kamar yang berada di ruang tamu. Raisya melakukan perlawanan tapi dirinya kalah tenaga dengan Jacky. Badannya yang ramping otomatis terbawa oleh Jacky masuk ke kamar tamu.
Jacky langsung mengunci kamar itu.
Aisyah yang mendengar jeritan Raisya langsung berlari ke kamar tamu dan menggedor-gedor kamar itu dengan seluruh tenaganya.
Jacky menatap Raisya dengan penuh nafsu. Sekarang pikiran dan tubuhnya sedang dikuasai syetan. Jacky berbuat nekad setelah tadi Raisya memancing kemarahannya.
Raisya yang melihat sikap Jacky yang seperti dikuasai nafsu bejat mundur ke belakang dengan menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak... kamu bukan Jacky.. Jacky tak pernah seperti ini!" Ucap Raisya dengan bibir bergetar.
__ADS_1