Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Kenyataan kadang tidak semanis bayangan


__ADS_3

"Tidak.. tidak... Raisya milikku. Kamu tidak boleh menikah dengan kamu!" Suaranya tercekat, dengan aura emosi yang tidak terbendung dia menghampiri Jason lalu menarik laki-laki itu dari kursi.


"Kakak.. Hentikan!" Salah satu adik Raisya berteriak begitu melihat sang kakak menarik kerah Jason. Mereka ingin menghentikan aksi kakaknya yang arogan.


"Bukkk.. " Satu pukulan langsung menghantam wajah Jason dengan cepat tanpa bisa dicegah.


"Ferdi... " Raisya langsung terkulai lemas begitu melihat kekerasan di depan matanya yang dilakukan oleh Ferdi.


Raisya syok melihat siapa yang baru saja datang dan menghantam pukulan ke arah wajahnya Jason.


"Raisya... " Ibunya Raisya kini syok melihat Raisya pingsan terkulai lemas di atas sofa. Trauma juga rasa takutnya Raisya kini menjadi satu. Berkumpul menarik semua ingatan sadar Raisya yang menyakitkannya.


"Ra.. " Jason menoleh ke arah Raisya. Dia tidak peduli dengan rasa sakit bekas pukulan yang menghantam wajahnya barusan. Dia langsung mendorong Ferdi dan segera menghampiri Raisya.


"Ra.. " Dia memanggil kembali Raisya. Wajah cemas Jason begitu kentara melihat perempuan yang dia sayangi kini terkulai lemas, pingsan.


"Raisya... " Ferdi yang mematung melihat Raisya pingsan memanggil namanya dengan bibir bergetar.


"Minggir kamu!" Kini Ferdi mendorong Jason ingin melihat keadaan Raisya.


"Kakak... bisa tidak kakak tidak kasar? Lihat perbuatan kakak mengagetkan juga membuat kak Raisya takut!" Salah satu adiknya Raisya mengingatkan Ferdi akan sikapnya yang arogan.


"Kakak mau.. periksa dia." Ferdi seperti kehilangan akal sehatnya begitu melihat Raisya yang selama ini dicarinya kini ada di hadapannya. Dan begitu bertemu malah dia membawa laki-laki lain untuk dijadikan suaminya. Pikiran dan hatinya sangat tidak ikhlas kalau Raisya jadi milik orang lain. Dia sudah tidak peduli dengan image dirinya sendiri.

__ADS_1


"Bawa kak Ferdi ke kamarnya!" Ibunya Raisya tak ingin Ferdi menyentuh Raisya. Dia menyuruh anak laki-laki nya membawa Ferdi ke kamarnya dan menjauhkan anak tirinya dari Raisya.


"Ma... aku... seorang dokter. Aku mau memeriksa dia." Pekik Ferdi menolak perintah ibunya Raisya.


"Tolong Fer.. mama harap kamu kuasai dirimu! Jangan begini!" Ibunya Raisya tak ingin terjadi keributan di depan Jason yang memperlihatkan aib keluarga. Ibunya memberi isyarat agar anaknya membawa Ferdi menjauh.


"Tidak ma... Ferdi gak mau mama memisahkan Ferdi sama Raisya... sudah Ferdi bilang Ferdi sangat mencintai Raisya ma.. " Pekik Ferdi sambil meronta menolak ajakan adiknya untuk masuk ke kamarnya. Untungnya adik Raisya badannya lebih tinggi besar. Dibantu kedua adiknya dia memaksa menarik Ferdi menjauh dari Raisya dan membawanya ke dalam kamar.


Jason masih menatap Raisya. Ternyata kedatangannya kali ini tak bisa mulus begitu saja. Dia belum tahu siapa laki-laki yang baru saja mengaku mencintai Raisya. Bahkan adik-adik Raisya memanggilnya dengan sebutan 'kakak'


Banyak yang belum diketahui Jason tentang keluarga Raisya ini. Meski begitu Jason tidak putus asa atau menjadi berubah pikiran. Setiap orang pasti punya masalah. Begitupun dengan Raisya dan dirinya.


"Maaf kedatangan kamu kesini jadi tidak menyenangkan." Ucap ibunya Raisya melihat Jason yang masih terdiam.


"Tadi itu kakak tirinya Raisya. Dia sangat mencintai Raisya bahkan sebelum dia tahu bahwa dia bersaudara. Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Raisya adalah saudara. Mama mohon maaf." Tangan ibunya Raisya mengulur mengusap bahu Jason.


"Iya.. mama setuju. Jangan dulu kembali kesini sebelum situasi disini aman. Kakak Raisya tidak akan tinggal diam melihat Raisya dekat dengan laki-laki lain. Dia sangat terobsesi ingin menikahi Raisya. Mungkin itu yang menyebabkan Raisya ketakutan dan syok." Terang ibunya Raisya pada Jason.


"Baik ma. Kalau begitu Jason pergi dulu. Jason permisi mau membawa Raisya ke rumah sakit terdekat." Jason mengangkat badan Raisya yang masih pingsan. Dan ibunya membantu membukakan pintu mobil agar Raisya bisa dibawa pergi dari rumahnya.


"Hati-hati di jalan!" Ibunya Raisya terpaksa meminjami Jason mobil. Karena tadi keduanya datang dengan taxi online.


"Iya ma. Kami pergi dulu assalamu'alaikum." Ucap Jason sambil memundurkan mobil agar keluar dari halaman rumah ibunya Raisya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam." Jawab ibunya Raisya yang ikut sedih melihat kondisi Raisya yang seperti itu.


******


Di kamar Ferdi masih berteriak-teriak histeris minta dibukakan pintu. Dia seperti orang kesetanan meronta dan memukuli pintu. Selain teriakan nya yang histeris pintu kamar pun yang tak salah apa-apa menjadi korban tendangannya.


"Ma... aku mencintai Raisya ma... Ferdi meluruhkan badannya di belakang pintu setelah kelelahan berteriak dan memukuli pintu. Tangisannya yang mirip anak kecil itu terdengar memilukan. Hatinya sakit melihat perempuan yang selama ini dicarinya malah dibawa pergi oleh laki-laki lain. Bahkan dia berharap dari sejak itu tumbuh janin di tubuh Raisya yang bisa memaksanya untuk bisa memiliki Raisya seutuhnya. Tapi tadi selintas dia tidak melihat Raisya seperti berbadan dua. Malah terlihat lebih ramping dari sebelumnya.


"Raisya... jangan tinggalkan aku...!!!!" Tak henti-hentinya Ferdi berteriak di kamar memanggil-manggil nama Raisya.


"Ma... bagaimana ini? Kita tak mungkin kan terus-terusan mengurung kak Ferdi di kamar?" Salah satu anaknya Raisya mengingatkan ibunya.


"Iya.. mama juga bingung. Sebentar, mama mau telepon kakeknya dulu." Ibunya Raisya tidak mau disalahkan atas perbuatan Ferdi apalagi dia bukan orang biasa. Tapi dia juga tak mau Raisya akan jadi korban kegilaan anak itu juga apalagi sebelumnya Ferdi sudah menyakiti Raisya.


Di rumah sakit Jason dengan setia menunggu Raisya siuman dari pingsan. Tekanan darahnya sangat rendah. Kata dokter Raisya mungkin punya trauma yang membuatnya anteng tak sadarkan diri.


"Ra.. bangunlah! Aku sangat khawatir sama kamu. Apalagi aku belum mengenalkan sama ibu aku. Aku harap jangan lama-lama tidurnya." Bisik Jason sambil mengelus tangan yang sedang terkulai lemah dan sedang mendapatkan infus.


Jason hanya bisa duduk di samping Raisya tanpa tahu harus berbuat apa. Menunggu dengan sabar, agar Raisya kembali bangun.


Tak terasa malam pun datang menggantikan siang. Jason yang mungkin kelelahan tertidur di samping Raisya dengan tangannya yang masih menggenggam tangan Raisya.


Perlahan-lahan mata Raisya mengerjap. Lalu melihat apa yang ada di sekelilingnya dengan tatapan asing.

__ADS_1


Sekarang pandangannya beralih pada lelaki yang tertidur di dekatnya dengan beralaskan tangannya sendiri. Raisya merasa terharu melihat Jason yang ketiduran di sampingnya. Dia tak berani membangunnya, tapi tangan yang digenggamnya terasa kesemutan. Perlahan Raisya menarik tangannya agar Jason tidak terbangun dan akhirnya dia berhasil lepas dari genggaman Jason.


"Ya Allah.. apakah dia masih bisa menerimaku meski keadaan kotor dan ternoda?" Lirih Raisya teringat akan kejadian masa lalu dengan Ferdi.


__ADS_2