Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Racun cinta


__ADS_3

"Dasar gila! Tahu orang tidak satu divisi juga!" umpat Ratna.


"Emang dia kaya gitu ya Rat?' Tanya Hesti mengundang penasaran.


"Lah segitu mah gak ada apa-apa. Dia bisa bunuh siapa aja kalau mengenai si anak beruang." Ratna yang masih mengingat kekejaman Nathan pada Raisya, merasa kesal.


"Wah... sayang ya... ganteng-ganteng serigala." Hesti menggigit jarinya sambil melihat Nathan yang sedang tebar pesona apalagi itu dadly.. semakin sukses membuat para wanita tertegun.


"Aku mau lihat Raisya mbak!' Ratna pergi meninggalkan Hesti yang masih tersihir oleh pesonanya Nathan.


"Eh.. tunggu!" Hesti langsung mengikuti Ratna.


Di atas blankar Raisya sudah di infus dan dibantu dengan oksigen. Kesadarannya sudah penuh.


"Raisya, Kamu gak apa-apa?" Ratna menggenggam tangan Raisya.


Raisya mengangguk. Lalu bangkit, duduk menghadap Ratna.


Raisya membuka katup oksigen yang menutup area hidung dan mulutnya.


"Eh.. kok dibuka?" Ratna kaget melihat Raisya membuka bantuan oksigen yang telah dipasang petugas.


"Gue udah baikan kok!" Jawab Raisya.


"Beneran?"


Raisya mengangguk.


"Eh Rat.. itu GGS ngapain nyamperin kesini?" Hesti menyikut tangan Ratna.


"Tau!" Ratna menatap sinis.


"Tolong deh itu baju kancingin dulu! Bikin kita susah nafas." Hesti tak tahan melihat kemeja Nathan terbuka dan mengekspos dada bidangnya.


Nathan mendekati blankar Raisya.


"Gue lapar Rat!" Keluh Raisya yang telah melewatkan makan siangnya. Dia melihat Ratna dan menghindari pandangannya dari Nathan.


Ratna tak berani menjawab, karena Nathan sudah ada di depan mereka.


"Tante.. kenapa pake kaya gituan?" Michel yang mengamati Raisya menanyakan hal yang baru dilihatnya.


"Mmmh anu... " Raisya terdiam dia memalingkan mukanya melihat kancing kemeja Nathan semua terbuka. Rona pipinya merah menahan malu dan hasrat yang sempat tadi terpancing karena adegan yang diluar dugaannya. Walau tadi dia sesak nafas tapi kesadarannya masih utuh. Mulai dari bantuan Nathan untuk memberikan nafas buatan sampai dia harus meringkuk di dada bidangnya yang terasa nyaman. Apalagi dada bidangnya itu sekarang berkibar seolah melambai-lambai menunggu untuk dielus.


"Michel duduk dulu!" Nathan mendudukkan Michel di atas blankar yang masih ada ruang kosong.

__ADS_1


Nathan sepertinya membaca ketidaknyamanan para wanita yang ada di depannya. Dia mengancingkan beberapa dan menyisakan satu kancing terbuka yang lebih dekat ke area tengkuknya.


"Michel lapar daddy..." Michel yang tadi tidur pulas belum mengisi perutnya untuk makan siang.


"Sebentar daddy panggil mbak Ina." Nathan memanggil Ina yang tak jauh berdiri di belakangnya.


Lalu membawa bekal Michel yang dibawanya dari rumah. Nathan membuka kotak makan Michel dan membawa air mineral dari tas Michel.


"Tunggu daddy mau ambil air minum sama makan untuk tante Raisya. Nanti daddy suapin makannya ya!" Nathan berlalu menghampiri para tim regu penyelamat dan meminta air minum mineral kemasan yang sudah tersedia.


Dia kembali mendekati blankar.


"Minumlah!" Nathan memberikan sebotol minuman yang tadi dibawanya.


Nathan membuka tutup botol agar memudahkan Raisya langsung meminumnya.


Dengan wajah menunduk Raisya menerima botol pemberian Nathan dan meneguknya. Kerongkongan Raisya terasa kering setelah tadi sesak nafas. Begitu air minum mengalir di tenggorokannya ada rasa segar langsung menjalar di tubuhnya. Air itu habis hampir setengahnya.


Kriuk


Kriuk


Suara itu cukup terdengar keras oleh semua orang yang ada di depan Raisya.


"He he.. perut tante bunyi. Tante lapar juga kaya Michel?" Anak itu menertawakan Raisya yang mendengar suara perutnya yang keroncongan.


Sontak semua mata menatap pada Michel yang telah memberikan ide gila yang tak mungkin seharusnya Nathan lakukan.


"Daddy... kenapa melototi Michel?" Michel merasa aneh dengan tatapan ayahnya yang seperti sebuah peringatan. Padahal menurutnya idenya tidak salah.


Nathan yang ditegur Michel langsung menunduk merasa malu karena harus melakukan apa yang disarankan anaknya.


"A... " Michel langsung membuka mulutnya meminta diisi. Nathan yang sudah siap dengan sendok terisi makanan langsung mendekatkan sendok itu ke mulut Michel dan memasukkannya.


"Daddy.. kasih juga tante Raisya!" Michel yang sudah menerima suapan menyuruh ayahnya memberi makan Raisya.


"Gak usah Michel! Biar nanti tante makan." Tolak Raisya.


"Buka mulutmu!" Suara itu terdengar otoriter. Jari-jari Nathan sudah siap menyuapi Raisya.


Manik Raisya membulat melihat Nathan. Dia tak percaya laki-laki psikopat itu mau menyuapinya.


"Cepet buka! Malah melongo!" Nathan agak membentak!


Raisya terpaksa membuka mulutnya dan menerima suapan dari tangan Nathan.

__ADS_1


"Kenapa Daddy menyuapi pakai tangan?" Protes Michel.


"Biar tidak terkontaminasi!" Jawab Nathan ketus.


Emang gue TBC apa? Bukannya dia tadi juga sudah menukar udara denganku? Pastinya gue yang terkontaminasi virus elu bapak beruang!


Raisya mengumpat dalam hatinya kesal mendengar Nathan berbicara seperti itu.


Michel hanya mengangguk entah mengerti atau memang tak mau memperpanjang masalah.


Hesti menyikut lengan Ratna yang sedari tadi menatap tajam Nathan seolah sedang menghunuskan pedang mengancam Nathan.


"Apa sih?" Ketus Ratna pada Hesti.


"Kita pergi darisini. Mata gue kelilipan." Hesti berbisik di telinga Ratna.


"Gak! Gue akan awasi dia! Takutnya dia menaruh racun!" Tolak Ratna dengan ketus.


Nathan yang merasa tersindir langsung menatap Ratna dengan sorot mata menyalang.


"Lu pikir gue mau kasih racun anak gue?" Nathan marah.


"Kali aja! Elu kan... " Tangan Raisya langsung menyubit Ratna.


"Awww.. Sakit!" Ratna meringis merasakan sakit karena dicubit Raisya.


Nathan langsung menyuapi Michel lagi dan membiarkan Raisya.


"Kenapa Daddy tak menyuapi lagi tante? Dia masih lapar. Kasian kan badan tante gede.. butuh makan banyak." Michel melihat Nathan tak lagi menyuapi lagi Raisya.


"Tantenya takut keracunan!" Ketus Nathan merasa marah pada Ratna. Padahal dia sudah menurunkan harga dirinya hanya karena mengikuti keinginan Michel.


"Daddy kasih racun gitu? Kapan?" Anak kecil ini tak percaya begitu saja apa yang dibicarakan ayahnya.


"Racun cinta.... he he." Hesti terkekeh.


"Gue pergi dulu ya.. takut mata suci gue terkontaminasi racun cinta." Hesti langsung menarik lengan Ratna agar menjauh dari blankar.


"Apaan sih mbak?" Langkah Ratna terseok-seok karena ditarik paksa oleh Hesti.


"Elu kagak ngerti juga Sapi! Kasih kesempatan buat Rasa ayam goreng mu untuk menerima dewa arjunanya. Umur berapa sih? Kok kagak ngerti kaya ginian?" Hesti heran melihat Ratna malah mengerucutkan bibirnya.


"Gue kagak ikhlas!" Ratna melepaskan tangannya dari Hesti lalu berjalan dengan menghentakkan kakinya pergi menjauh dari Hesti.


"Lah.. maksud kagak ikhlasnya apa ya?" Hesti menautkan kedua alisnya mencerna omongan Ratna.

__ADS_1


"Daddy kenyang!" Michel menahan suapan ayahnya.


"Daddy.. suapin tante aja kasian dia masih lapar!"


__ADS_2