
Nathan sudah tidak memperdulikan lagi penampilannya yang amburadul. Sudut bibirnya masih terlihat bengkak dan terluka dibiarkan begitu saja walau terasa sakit. Kini hanya satu yang sedang dikhawatirkannya yaitu istrinya, Raisya.
Begitu pun Jacky. Beberapa lebam bekas perkelahian sudah diobati oleh perawat. Semua ini adalah ulah dirinya. Kenapa dia harus mengusik malam pengantin Nathan bersama Raisya? Semata-semata dia tidak rela Raisya menjadi milikNathan. Tapi terlambat, dia sudah sah secara hukum dan agama. Jika dia bersikukuh menganggu rumah tangga kakaknya berarti dia sudah menjadi pebinor. Yang kapan saja bisa dilaporkan karena telah mengganggu rumah tangga orang lain.
Jacky duduk di bangku lobi menunggu hasil Raisya. Perasaan menyesal kembali menyelimuti Jacky. Untuk kedua kalinya dia mengulang kesalahannya. Dia tertunduk sudah tak ada gairah untuk memikirkan yang lainnya, bahkan persiapan pernikahannya.
Nathan menunduk mengguar rambutnya menunggu Raisya siuman. Dua laki-laki yang nota bene adalah saudara duduk saling berjauhan karena hati mereka masih sama-sama belum bisa berdamai.
Nathan menatap kosong pemandangan yang ada di depannya. Entah apa yang dilihatnya yang jelas dia sedang berbicara dengan pikirannya sekarang.
"Ah begini rasanya mempunyai istri. Merasakan khawatir, senang dan takut kehilangan. Semua itu bercampur menjadi satu. Setelah sekian lama hatiku hamp dan kosong, kini seperti terisi.
"Maaf.. anda suaminya?' Salah seorang dokter membuyarkan lamunannya dan bertanya pada Nathan.
"Iya dok. Saya suaminya." Nathan berdiri menghampiri dan menemui dokter yang menangani Raisya
"Istri bapak butuh donor darah yang sesuai dengan golongan darahnya." Terang dokter.
Raisya yang telah mengiris urat nadinya memang telah kehilangan banyak darah. Sedangkan golongan darah Raisya memang jenis langka dan membutuhkan pendonor yang sama.
"Ambil saja dok darah saya!" Nathan tak ingin istrinya menunggu lama untuk mendapatkan pertolongan.
"Bapak golongan darahnya apa?" Dokter melihat Nathan serius.
"Golongan darah saya O dok." Terang Nathan.
"Duh gimana yah? Darahnya tidak bisa disumbang dengan golongan lain harus B+ pak." Dokter agak bingung mencari pendonor.
"Dimana saya harus menemukannya darah itu dok?" Nathan akan mengusahakan mencari golongan darah yang sama untuk Raisya.
Sejenak hening.
"Apakah diantara keluarganya ada mempunyai golongan darah yang sama?" Dokter baru mengingat biasanya dari pihak keluarga ada yang mempunyai golongan darah yang sama.
__ADS_1
"Sebentar dok. Saya akan menghubungi kakaknya." Nathan langsung menelpon Sarah. Meski dia takut Sarah akan menyalahkan kejadian ini pada dirinya.
"Halo kak Sarah." Nathan agak sungkan menelpon Sarah. Tapi dia terpaksa harus menghubunginya demi Raisya.
"Iya Halo. Ada apa Nat?" Sarah agak mengerutkan dahi ketika Nathan menelponnya.
"Maaf kak.. boleh bertanya, Apakah golongan darah kakak B+?" Nathan langsung bicara ke intinya.
Deg
Jantung Sarah seperti berhenti berdetak.
"Ada apa dengan Raisya? Apa yang kamu lakukan?" Sarah langsung berpikiran negatif begitu Nathan menanyakan golongan darahnya.
"Maaf kak.. tadi.. Raisya mencoba bunuh diri. Dia kehilangan banyak darahnya." Nathan berkata pelan agak takut menyampaikan berita itu.
"Dimana dia sekarang?" Sarah langsung membentaknya. Pasti sesuatu telah terjadi dengan Raisya sampai dia melakukan tindakan itu.
"Di rumah sakit xxx kak." Nathan memberi tahu keberadaan Raisya dirawat.
Telepon ditutup sepihak. Nathan tahu pastinya Sarah marah besar mendengar berita ini.
Setelah mendapatkan berita bahwa Raisya sedang berada di rumah sakit, Sarah langsung pergi tak menghiraukan lagi apapun. Cemas, takut, dan kesal itu menjadi satu dalam dada Sarah. Dia terus memanjatkan doa sepanjang perjalanan agar Raisya baik-baik saja.
Tak lama berselang Sarah sampai di rumah sakit yang dituju dan dengan langkah terburu-buru dia menyusuri lorong-lorong yang ada di rumah sakit untuk segera sampai di ruangan dimana Raisya dirawat.
"Kak Sarah.. " Sepasang bola mata Nathan menangkap sosok Sarah yang sedang berjalan menghampirinya.
Plakk
Tamparan keras langsung mendarat di pipi Nathan. Sarah menumpahkan segala isi hatinya bersamaan dengan melayangnya tamparan.
Wajah Nathan yang kusut ditambah ujung bibirnya yang bengkak lengkap sudah ditambah tamparan. dari Sarah. Tapi semua sakit itu ditahannya demi kebaikan Raisya.
__ADS_1
"Maaf kak.. kakak. mohon tenang dulu! Raisya butuh pertolongan kakak segera. Kakak boleh marah nanti." Nathan sangat khawatir jika menunda-nunda waktu, nyawa Raisya bisa terancam.
Masih diliputi kecemasan Sarah masuk ke ruangan diantar Nathan untuk menemui dokter.
"Maaf saya kakaknya pasien. Ambil darah saya segera! Kebetulan golongan darah saya sama dengan adik saya." Ucap Sarah tak mau Raisya menunggu lebih lama.
"Baik.. berbaringlah. Saya akan memasangkan selang untuk mengalirkan darahnya langsung ke pasien." Dokter merasa tenang setelah pasien mendapatkan pendonor.
Sarah pun berbaring di sebelah ranjang Raisya untuk diambil darah.
Nathan duduk di samping Raisya mengamati detail wajah istrinya. Dia mengurai rambut Raisya dan mengelusnya dengan lembut. Ada rasa tenang yang hadir dalam hatinya begitu melihat wajah yang sedari tadi belum siuman. Ya rasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dia masih tak percaya bahwa kini perempuan yang sedang tergolek lemah telah menyandang status istri. Tak ada sama sekali niat untuk memperistrinya tapi takdir malah secepat itu datang memberinya kesempatan menyandang status suami.
Perlahan Raisya membuka kelopak matanya. Dia mengerjap-ngerjap bola matanya karena belum kuat melihat sinar lampu yang ada di ruangan itu.
"Raisya.. " Suara Nathan menarik pandangan Raisya untuk melihat laki-laki yang sedang duduk. di sampingnya.
Netra mereka beradu saling menatap dalam membaca apa yang terpancar dari bola matanya.
"Kamu.. baikan?" Nathan menatap Raisya.
Raisya tak menjawab. Bola matanya yang sendu kini sedang berkaca-kaca lalu cairan bening itu jatuh tanpa bisa dicegah.
Rasa sedih yang Raisya rasakan belum juga sirna. Dia baru saja syok mendapatkan perlakuan dari Nathan yang melanggar perjanjiannya sendiri. Belum lagi Jacky yang arogan menerobos masuk ke kamar pengantin dan berkelahi dengan Nathan. Sungguh itu membuat Raisya bertambah stress.
Ditengah kesedihannya Raisya melihat Nathan dengan rasa iba. Baju yang menempel di badannya masihlah sama. Berarti dia belum sempat mengganti baju pengantin. Bahkan beberapa luka lebam yang belum sempat diobati terlihat bengkak. Wajahnya nampak kacau.
"Pulanglah! Ganti pakaianmu dan obati lukamu!" Raisya menyuruh Nathan pulang. Dia merasa kasihan melihat kondisi Nathan yang terlihat amburadul.
"Iya.. nanti setelah kamu baikan." Nathan tak mau meninggalkan Raisya di rumah sakit.
"Sya.. " Sarah yang sudah selesai mendonorkan darahnya memanggilnya.
"Kakak.. " Raisya terkejut kenapa Sarah ada satu ruangan.
__ADS_1
"Iya.. kakak ada disini. Kamu harus janji jangan bertingkah konyol lagi dengan melakukan seperti itu. Jangan sia-siakan pengorbanan kakak selama ini!"