
Nathan dan Michel yang mendengar pernyataan Raisya langsung terhenyak kaget. Apa maksud belum mati?
"Ini bunda sayang.. bunda kamu, yang kuburannya sering kamu kunjungi." Raisya luruh di tanah sambil menangis sesenggukan.
Semua orang yang berada di sana mengerutkan dahi, apa maksud perkataan Raisya? Meraka tidak tahu apa yang telah terjadi diantara Michel dan keluarganya.
Michel yang bersembunyi di belakang pak Ahmad pun perlahan melongokkan kepalanya menatap Raisya yang sedang menangis.
"Bunda... benarkah itu bunda Raisya yang dulu?" Ucap Michel lirih.
Deg
"Raisya?" Dada Nathan berdetak lebih kencang, kalau benar tebakannya, apa benar Raisya yang di depannya, perempuan yang sering ditangisinya, perempuan yang pernah diceraikannya adalah perempuan yang disangka mati selama ini.
"Iya sayang.. bunda belum mati. Kuburan itu... palsu sayang." Ucap Raisya yang sudah tidak tahan menutupi kebohongan selama ini.
"Bunda... " Michel langsung lari memeluk Raisya yang luruh di tanah. Keduanya menangis histeris. Semua mata yang memandang drama dua orang yang ada di depannya ikut menitikkan air mata. Irwan memeluk Ratna. Ada rasa bahagia bercampur haru telah mempertemukan Raisya dan Michel. Anak itu seperti menemukan sesuatu yang berharga. Mereka saling berpelukan meluapkan tangis juga rindu yang sudah lama dipendam.
Pak Ahmad menggenggam tangan istrinya. Bu Nuri menyeka air matanya yang terharu melihat kedua wanita beda umur saling berpelukan.
Pak Ahmad dan bu Nuri mendekati keduanya lalu keduanya saling memandang.
"Berdirilah! Mari duduk dulu disana!" Pak Ahmad mengajak keduanya untuk berdiri dari tanah yang sedang mereka duduki. Bu Nuri mengangguk begitu Michel melihat ke arahnya sambil berderai air mata.
Pak Ahmad menuntun Raisya dan Michel untuk duduk di atas dipan.
"Kalian boleh duduk!" Pak Ahmad menoleh ke arah pak rt mempersilahkan untuk duduk di kursi yang ada di terasnya.
Meraka pun mengangguk lalu menerima tawaran pak Ahmad.
__ADS_1
"Bu.. ambilkan air untuk semua tamu!" Pak. Ahmad yang tadinya berwajah marah, kini melunak melihat adegan haru antara Michel dan Raisya.
Bu Nuri mengangguk lalu berjalan ke dalam rumah mengambil gelas dan teko berisi teh.
"Terimakasih kasih pak. Bapak sudah menjaga anak saya!" Ucap Raisya pada pak Ahmad dengan air mata yang masih berlinang.
"Mmm.. " Pak Ahmad yang baru saja menemukan kebahagiaan karena Michel mau tinggal di rumahnya, kini harus menyerahkan Michel dengan ikhlas. Pak Ahmad tertunduk sedih.
"Bapak.. " Michel meluk pak Ahmad. Dia tahu bahwa laki-laki tua itu sangat menyayangi dirinya dan sekarang dengan raut wajah tuanya dia terlihat sedih. Michel tidak tega menyakiti hati laki-laki itu. Pak Ahmad balas memeluk Michel, perasan sayang pada seorang anak baru saja hadir dalam hati pak Ahmad, yaitu meluapkan kerinduan mempunyai buah hati.
Baru kali ini Michel merasakan lengkapnya sebuah keluarga, ada bunda, ada pak Ahmad dan bu Nuri mereka memang tidak ada ikatan darah, tapi perasaan hatinya terasa dekat sekali. Bu Nuri dan pak Ahmad sangat baik dalam memperlakukan Michel, layaknya seperti anaknya sendiri. Kalaulah waktu bisa dipanjangkan, mungkin Michel memilih lebih lama tinggal bersama dengan pasangan suami istri itu.
Nathan merasa iri, karena satu-satunya orang yang mempunyai ikatan darah tapi dia tidak diperlakukan selayaknya.
"Silahkan diminum dulu!" Bu Nuri langsung menyodorkan semua gelas-gelas berisi teh hangat pada semua tamunya.
"Terimakasih bu!" Raisya memeluk bu Nuri dengan erat. Dia merasa bersyukur Michel berada bersama orang-orang yang menyayanginya.
'Tidak bu... saya justru sangat senang ibu sudah merawat Michel dengan baik. Ibu akan saya anggap keluarga saya sendiri." Jawab Raisya seperti ibunya Michel. Entahlah sejak pertemuan pertama dengan Michel, hatinya selalu bertaut dengan anak itu.
"Terimakasih neng.. " Bu Nuri memeluk Raisya lalu buliran demi buliran jatuh begitu saja di pipinya Suasana haru menyelimuti kedua keluarga yang baru saja bertemu.
"Sama-sama bu." Jawab Raisya.
Sejenak hening.
"Baiklah... alhamdulillah Michel sudah ditemukan dan ayah bundanya sudah bisa bertemu Michel. Kita ucapkan banyak terimakasih pada pak Ahmad juga bu Nuri yang telah berbaik hati merawat Michel dengan baik. Sekarang saya selalu wakil masyarakat disini menyerah Michel kepada orang tuanya." Pak rt langsung menengahi permasalahan antara kedua belah pihak.
"Saya ucapkan banyak Terima kasih ya pak rt, pak Ahmad, bu Nuri. Mohon maaf anak saya telah merepotkan kalian." Nathan mengucapkan terimakasih pada pasangan suami istri yang telah merawat Michel kemarin.
__ADS_1
"Kami mohon pada bapak, ibunya Michel agar kami memperbolehkan sewaktu-waktu melihat Michel. Saya terlanjur menyayanginya." Pak Ahmad berat melepaskan Michel apalagi mereka berdua sangat mendambakan kehadiran seorang anak dalam rumah tangganya.
"Jangan khawatir pak.. kapan-kapan Michel boleh mengunjungi bapak dan ibu. Atau kalau bapak dan ibu mau, boleh kapan saja datang ke rumah kami." Nathan tersenyum menanggapi pembicaraan pak Ahmad mengenai isi hatinya.
"Bunda.. aku ingin ikut bunda.. " Michel mendongak menatap wajah Raisya dengan penuh harap. Dia masih takut dengan Nathan. Hatinya belum bisa memaafkan sikap ayahnya yang kemarin.
"Iya.. " Raisya membelai wajah Michel dengan sentuhan kasih ibu. Michel kembali memeluk lagi Raisya.
"Kalau begitu kami permisi dulu." Nathan izin berpamitan karena sudah menganggap masalahnya selesai.
Pak Ahmad mengangguk, dia tak berani bicara lagi apalagi melihat istrinya berderai airmata sedih harus berpisah dengan Michel.
"Pak.. Bu maafkan Michel ya.. " Michel mendekati pak Ahmad dan juga bu Nuri untuk berpamitan.
Pak Ahmad hanya mengangguk.
Semua orang saling bersalaman sebagai salam perpisahan.
"Sebentar.. Michel mau mengambil tas Michel bunda.. " Michel meminta izin pada Raisya untuk mengambil tasnya yang berada di dalam rumah pak Ahmad.
Michel masuk ke kamar dan mencari tasnya. Dia lalu membuka resleting tasnya dan mengeluarkan satu amplop coklat yang berisi uang lalu menyimpannya di atas bantal.
Lalu keluar kamar itu membawa tas sekolahnya menghampiri Raisya. Michel mencium punggung tangan pak Ahmad dan bu Nuri untuk berpamitan.
Semua kembali pulang setelah masalah selesai.
"Raisya... " Nathan memanggil Raisya dari belakang. Kebetulan Raisya dan Michel berjalan di depan Nathan.
Raisya enggan membalikkan badan, dia hany berdiri membelakangi Nathan.
__ADS_1
"Aku titip Michel.. " Nathan dengan berat hati harus melepaskan Michel sesuai dengan keinginan anaknya. Meski berat berpisah, setidaknya dia merasa tenang telah menemukan Michel dalam keadaan baik-baik saja.
Raisya tidak menjawab. Ada rasa sakit yang menggunung yang masih melekat dalam hati Raisya.