Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
kerja paruh waktu


__ADS_3

"Wah.. dia bisa juga tidur dengan lelap! Biasanya dia rewel banget kalau kamarnya tidak nyaman." Hendrik melihat sekeliling kamar Raisya yang begitu sederhana bahkan untuk sekelas dia ruangan itu mirip sebuah gudang kosong. Hendrik duduk melihat Ratna yang tidur sambil memeluk guling Raisya. Ada perasaan kasihan melihat kondisi kostan Raisya sekarang. Tapi dia tak berani berbicara mengomentari kondisi kamarnya, hal itu akan menyinggung.


"Kakak sudah lihat kan Ratna tidur lelap?" Raisya agak tak nyaman melihat Hendrik masih diam di kamarnya. Bagaimana kalau ada menggerebeg mereka karena tak ada izin dari pemilik kost untuk masuk ke dalam kamar. Walaupun kostan ini terbilang longgar aturan dibanding kostan sebelumnya. Tapi Raisya tetap tidak nyaman dan hati nuraninya menolak untuk menerima kebebasan.


"Apa bangunkan saja Ratna? Kalau dia tidur disini, bagaimana dengan dirimu? Bantal sama gulingnya cuman ada satu. Kamu tidur pasti tidak nyaman dempet-dempetan gitu." Hendrik berinisiatif untuk membangunkan Ratna.


"Sebentar saya coba bangunkan kak." Raisya mendekati Ratna yang sudah tenang dalam tidurnya.


"Rat.. Rat.. " Raisya menepuk pelan tangannya Ratna.


Kelopak mata Ratna bergerak lalu menyipit melihat Raisya, sebentar mengucek sebentar menatap.


"Kak Hendrik jemput kamu Rat!" Raisya berkata pelan mengajak kesadaran Ratna untuk mendengarkan apa yang dikatakan Raisya.


"Kak Hendrik... " Ratna bangkit dari tidurnya lalu duduk dengan mata yang masih berat.


"Ratna.. kita pulang yuk! Kasian Raisya mau tidur dimana?" Hendrik berusaha membujuk adiknya.


Ratna malah menggelengkan kepala sambil menutup mata lalu menjatuhkan lagi ke kasur kembali memeluk guling.


"Eh.. malah tidur lagi!" Keluh Hendrik melihat reaksi adiknya. Dia mendekati Ratna dan menepuk kembali badannya.


"Rat... ayu pulang. Kamu besok kan harus kerja. Mana gak bawa ganti baju.' Hendrik berusaha mengingatkan adiknya yang kembali tertidur tapi telinganya masih jelas mendengar.


"Kakak bawakan saja besok kesini!" Ratna malah semakin erat memegang guling dan melanjutkan tidurnya tanpa terganggu dengan Hendrik.


"Sudahlah kak! Besok kakak bawakan saja baju gantinya kesini! Lagian ini sudah malem banget kak! Dia gak akan bangun kalau sudah begitu." Raisya melihat Ratna dan sudah tahu kebiasaan Ratna kalau sudah tidur gak bisa diganggu kalau bukan ada kebakaran atau mendadak ada gempa.


"Ya sudah. Tapi kamu bagaimana Sya?" Perasaan Hendrik tidak enak sama Raisya karena Ratna malah tidur si tempat sempitnya Raisya.


"Gak pa-pa kak! Aku sudah biasa kok!" Raisya tidak mengeluh sedikit pun. Justru agak malu ketika melihat tatapan Hendrik yang agak mengintimidasi keadaan kamarnya.

__ADS_1


"Ya udah kakak pulang dulu. Besok subuh kakak bawa bajunya Ratna kesini. Kamu segera istirahat, ini sudah malam!" Hendrik berdiri. Raisya membuka pintu kamarnya mengantarkan Hendrik sampai teras.


"Udah masuk lagi! Hati-hati ya kalian!" Pesan Hendrik pada Raisya.


"Kak Hendrik juga!"


Hendrik mengangguk dengan berat meninggalkan kostan Raisya.


Raisya kembali melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi. Raisya tak lupa pula membuka lowongan kerja bagian keuangan yang bisa dikerjakan paruh waktu untuk menambah income saat ini. Kalau tidak segera mencari uang tambahan, bisa-bisa Raisya akan minus tiap bulannya. Sisa gajinya tidak besar, walaupun sudah dikurangi uang kostan dan uang transportasi. Raisya tak bisa memasak untuk makan sehari-hari karena alat dan yang lainnya tidak ada. Terpaksa harus membeli makanan yang sudah jadi.


"Ah... alhamdulillah ada." Raisya senang sekali begitu ada lowongan kerja paruh waktu. Raisya langsung mengisi biodata dan langsung mengirimkannya. Rencananya besok siang di jam istirahat dia akan datang melamar.


Setelah mengisi biodata dan membuat surat lamarannya, Raisya mengirimkan ke alamat yang tertera.


Raisya menutup laptopnya lalu membaringkan tubuhnya di samping Ratna. Matanya melirik pada Ratna dan merasa kasihan harus tidur beralaskan kasur tipis. Biasanya teman manjanya ini selalu dimanjakan dengan semua fasilitas mewah. Sekarang malah memilih tidur di tempat sempit juga panas karena tak ada ac maupun kipas angin.


Raisya menatap lamat-lamat wajah sahabatnya dalam keadaan tidur. Dia tersenyum. Entahlah apa yang sedang dirasakan Raisya saat ini. Ratna cukup setia menemani Raisya bahkan dalam keadaan sulit. Bahkan dia tak mampu memberikan apa yang telah Ratna korbankan untuk dirinya. Raisya hanya bisa memberikan tenaganya untuk Ratna. Karena selain itu Raisya tak mempu memberikan apapun untuk pengorbanan Ratna selama ini.


Sebelum subuh Ratna sudah bangun.


Padahal di rumahnya sendiri Ratna paling sulit dibangunkan. Dia tak ingin Raisya mengeluh atas kemanjaannya dan berefek akan melarangnya untuk datang lagi ke tempat kostannya.


"Numben anak mamih mandi air dingin?" Raisya agak menyindir Ratna karena menggigil terkena air dingin. Biasanya walau udara Jakarta panas Ratna kalau di pagi memakai air hangat untuk acaramandinya.


"He he seger.. Aku kaya kemping eungg.. " Ratna cengengehan menertawakan dirinya sendiri merasakan tidur beralaskan kasur tipis dan mandi air dingin.


"Lah kemping... kurang menderita kalau kemping mah. Segini mah nyaman atuh!" Raisya melayangkan protes.


"Iya kemping di kostan kamu!" Ratna memeluk Raisya yang belum mandi.


"Ih geli.. main peluk-peluk gini ah!" Raisya menyingkirkan tangan Ratna yang melingkar di perutnya.

__ADS_1


"Ah ga pa-pa itung-itung latihan. Nanti juga dipeluk suami kamu Sya kaya gini!" Ratna mendaratkan dagunya di bahu Raisya.


"Ih.. sana gue mau mandi." Raisya buru-buru ke kamar mandi.


tok


tok


tok


Suara pintu diketuk.


"Siapa subuh gini sudah ngetik pintu?" Ratna membuka pintu.


"Kak Hendrik...?" Ratna kaget.


"Iya. Nih aku bawain baju ganti kamu sama sarapan pagi dari mama. Katanya suruh aku kesini pagi-pagi." Hendrik mencari-cari alasan untuk datang lagi ke kostan Raisya.


"Raisya mana?" Hendrik mengedarkan mata mencari keberadaan Raisya dan duduk bersandarkan pada dinding dekat pintu.


"Tuh lagi mandi!" Ratna langsung membawa baju yang masih digantung di hanger.


"Eh kamu.. ganti baju di kamar mandi! Meski ini kakak, kamu juga mikir kakak kamu laki-laki" Hendrik kaget melihat Ratna membuka piyamanya begitu saja di depan Hendrik.


"Iya lupa." Ratna kembali memasangkan piyama yang dipinjamkan Raisya.


Tak lama kemudian keluarlah Raisya dari kamar mandi dengan aroma yang mengguar seisi ruangan sempit kostannya. Aroma sabun, shampo dicampur dengan wanginya Cologne membuat hidung Hendrik kembang kempis sedang mencium wangi yang baru saja lewat di indra penciumannya.


"Eh kak Hendrik.. " Raisya kaget tidak memakai kerudung langsung terbirit-birit masuk lagi ke kamar mandi.


"Ratna tolong bawakan kerudung!"

__ADS_1


__ADS_2