Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Mudah luluh


__ADS_3

"Bunda... " Bibir Michel bergerak replek mengatakan kata itu dengan tatapan masih melekat pada Raisya.


Raisya tidak memberi respon apapun, padahal keringat dingin mulai mengucur dari segala arah.


"Sya... " Ratna menoleh pada Raisya, melihat wajah sahabatnya memucat.


"Eh.. apa?" Raisya terlihat gugup.


"Kamu kenal sama anak itu?" Ratna mengerutkan dahi mempertanyakan apakah Raisya mengenal anak abg itu yang telah memanggilnya bunda.


"Tidak.. " Raisya langsung mengubah raut wajahnya seperti pura-pura tidak mengenalnya sambil tersenyum tipis ingin terlihat tenang. Padahal dadanya saat ini sedang dipacu debaran hebat karena sakit hati yang empat tahun lalu yang ingin dia lupakan muncul kembali.


Tentunya interaksi Raisya dan Ratna pun terdengar oleh Michel karena posisinya memang dekat dan Michel yang sedang menatapnya dengan inten pun berubah kecewa.


"Oh.. ya sudah aku tinggal dulu ya! Mudah-mudahan Arsel baik-baik saja ya!" Ratna yang benar-benar tidak mengenali Michel dengan polosnya berbicara pada Raisya seperti biasa saja.


"Oke.. aku antar sampai depan." Jawab Raisya yang sebenarnya ingin menghindari tatapan Michel yang dari tadi tidak berubah arah mengamatinya.


Keduanya pun berjalan sampai area parkir dan tak biasanya juga Raisya mengantarkan Ratna seperti itu.


"Sya.. lu beneran gak kenal bocah tadi?" Ratna kembali bertanya pada Raisya karena dia tak lantas percaya dengan apa yang dikatakan Raisya tadi sewaktu di dalam.


"Tidak." Bohong Raisya pada Ratna dengan pura-pura tersenyum. Dia tak ingin sahabatnya ini terbebani jika dirinya berterus terang.


"Ya sudahlah..aku pergi dulu kalau begitu." Ratna masuk ke mobilnya untuk mendampingi Irwan. Rencananya hari ini Ratna akan mendampingi suaminya untuk mengundurkan diri sekalian acara di perusahaan.


"Oke. Hati-hati." Raisya melambaikan tangan pada Ratna untuk memperlambat dirinya bertemu Michel.


Mobil yang dikendarai Ratna pun berlalu dari hadapannya. Dia berjalan masuk ke dalam toko dengan mendorong pintu handle toko yang terbuat dari kaca.


Brukkk...

__ADS_1


Seseorang telah memeluk pinggangnya dengan erat dengan melingkarkan tangannya ke perut Raisya dan melabuhkan kepalanya di punggung. Kini tinggi Michel sudah hampir menyamai Raisya.


Sejenak Raisya terdiam sambil memejamkan mata. Hembusan demi hembusan nafasnya seolah merobek luka lama. Rasa sakit hati yang menggunung masih jelas terasa. Itu menyesakkan dadanya sekarang.


Ingin sekali dia membukakan tangannya pada Michel karena ia sama rindunya. Tapi dia tak ingin seseorang dibalik itu akan kembali melukainya lebih dalam lagi.


Raisya menyentuh tangan Michel dan melepaskan tangannya yang sedang melingkar dengan perlahan.Michel melonggarkan pelukannya dan melepaskan tangannya menyadari ada pergerakan dari Raisya.


Raisya membalikkan badannya menghadap Michel. Kini mereka saling bersitatap. Dengan sejuta rasa sakit dalam dada Raisya memaksakan tersenyum palsu.


"Maaf.. adek siapa ya?" Tanya Raisya dengan tersenyum palsu berpura-pura tidak Michel.


"Bunda.. ini Michel.. masa bunda lupa?" Michel melihat Raisya dengan tatapan penuh harap. Waktu ini adalah saat yang paling ditunggu-ditungu oleh Michel. Ketika Raisya membuka tangannya lalu memeluknya penuh rindu.


"Mmm... maaf. Adek mungkin salah, tante tidak mengenal adek. Mungkin adek salah lihat." Ada iris yang sedang menusuk di kalbunya saat harus mengatakan kebohongan di hadapan anak yang tak tahu dosa itu.


"Tidak bunda.. bunda boleh lupa aku. Tapi aku, Michel tidak akan lupa bunda sampai kapanpun." Sepasang bola mata Michel yang indah nampak berkaca-kaca menhan rasa sedihnya. Ternyata orang yang ada di depannya tidak mengenalinya. Tapi dia tahu bahwa Raisya sedang berbohong, karena ketika dia pertama kali dia melihat Michel nampak rasa keterkejutan di wajah Raisya.


Bukk..


Hik hik hik...


Suara tangisan itu begitu mengiris hati Raisya. Tangisan Michel seolah tak bisa ditahan. Dia duduk bersimpuh di belakang Raisya sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Langkah Raisya terhenti tapi dia tak berani melihat Michel. Tentu dia takut kalau air matanya akan ikut jatuh jika dia melihat Michel seperti itu.


"Pelayan... tolong antarkan anak itu!" Dia memanggil pelayan yang sedari tadi pelayan itu hanya berdiri melihat interaksi mereka.


"Baik bu." Dia mendekati Michel menyamakan diri duduk berjongkok melihat Michel.


"Maaf dek.. adek duduk dulu yuk!" Pelayan tadi tidak tega untuk mengusir langsung Michel yang sedang duduk sambil menangis.

__ADS_1


Michel tidak menjawab dia sesenggukan menahan sedih. Dia hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.


Pelayan tadi hanya bisa mengusap pundak Michel, dia melirik ke arah ruangan melihat Raisya dan menggelengkan kepalanya memberitahu bahwa Michel tidak mau diajaknya.


Raisya yang melihat Michel seperti itu hanya bisa mengusap wajahnya kasar. Hati Raisya yang lembut kadang suka gampang meleleh melihat adegan seperti ini. Dia menundukkan pandangannya tak mampu berbuat lebih. Kenyataan ini pasti akan datang padanya. Menghindar bukan solusi, karena kalau hari ini dia menolaknya pasti esok lusa dia pasti akan datang lagi.


Raisya sedang berpikir keras bagaimana menghadapi Michel. Dia tahu kalau Michel terluka pastinya Nathan akan mengamuk. Akhirnya drama pura-pura nya pun dibatalkan. Raisya berdiri lalu berjalan keluar dari ruangannya. Dia memberi isyarat tangan agar pelayan tadi menyingkir dari samping Michel.


"Maafin bunda sayang... " Raisya memeluk Michel yang sedang menangis. Hati Raisya luluh melihat Michel menangis sesenggukan.


Sejak pertama pertemuan dengan Michel, entah angin darimana dia jadi menaruh sayang. Kalau bukan karena perbuatan Nathan yang kasar bisa saja Raisya mungkin akan menerima pernikahan itu dengan tulus.


Perlahan tangis Michel mereda. Dia membuka matanya menatap Raisya dengan mata merah dan sembab.


"Benarkah ini bunda?" Masih dengan deraian air mata tangannya mengelus wajah Raisya. Ditatapnya dengan detail semua yang ada di wajah Raisya.


Raisya hanya tersenyum melihat anak yang dulu pernah diasuhnya. Sekarang wajah yang munggil dan lucu itu sudah beranjak abg.


Raisya menyeka buliran-buliran yang jatuh di pipi.


"Bunda... " Hanya kata itu yang diulang-ulangnya. Michel memeluk Raisya erat menumpahkan segala kerinduannya selama ini.


Haus akan kasih sayang juga perhatian membuat Michel menganggap Raisya seperti ibunya sendiri.


"Berdiri!" Raisya menuntun Michel ke ruangan kerjanya. Lalu mengajaknya duduk di sofa yang berada di ruangan itu.


Tangan Michel tak juga lepas dari Raisya. Dia masih erat memegang pinggang Raisya.


"Hei... kok kaya koala gini anak bunda." Protes Raisya pada Michel.


"Abis bunda tega banget... aku tak mau lepas lagi dari bunda.. " Michel menyusupkan kepalanya ke dada Raisya.

__ADS_1


Raisya mengelus lembut punggung Michel.


__ADS_2