Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Lolos wawancara


__ADS_3

"Kamu tuh ya.. Belum juga jadi adik ipar sudah berani-berani nya mengghibah aku!" Adam pura-pura ketus dan kesal.


Jason tertunduk malu. Karena pembicaraan ketahuan oleh Adam.


"Maaf kak.. " Jason tak ingin Adam mempunyai kesan buruk pada dirinya.


"Maaf.. maaf.. baru ketemu saja kamu sudah begitu, apalagi sudah jadi! Apa kamu gak malu?" Adam yang tak biasa marah pun seolah ingin terlihat berwibawa di hadapan Jason.


"Sekali lagi maaf kak.. " Jason masih menunduk tak berani mengangkat wajahnya di depan Adam.


"Lain kali aku tidak akan memaafkan mu! Jangan dibiasakan bersikap seperti itu!" Ungkap Adam dibuat segarang mungkin. Padahal dalam hati kecilnya dia ingin tertawa melihat Jason ketakutan di depannya.


"Baik kak.. tolong maafkan saya!" Ucap Jason lirih. Nyalinya mendadak menciut ketika Adam berbicara begitu. Padahal selintas wajah Adam tidaklah menyeramkan, bahkan lebih terlihat wajah yang friendly. Tapi begitu marah semua image awal langsung buyar di hadapan Jason.


"Baik. Aku maafkan. Sekarang duduk yang tegak dan lihat aku!" Adam yang biasa memimpin tak pernah kalah bicara dengan orang yang berada di depannya. Meski wajahnya friendly tapi karena sudah dibentuk sejak kecil sebagai pemimpin mau tidak mau dia selalu menjaga imagenya jika berhadapan dengan orang.


"Baik." Jason pun membenarkan cara duduknya dan menurut dengan apa yang dikatakan Adam barusan padanya.


"Sejak kapan kamu kenal sama Raisya?" Tanya Adam mengawali pertanyaannya.


"Sejak Sma kak.. " Jawab Jason dengan jantung yang berdetak tak karuan.


"Tahu sudah lama kenapa baru sekarang mau menikahi Raisya?" Tanya Adam kembali. Sikap Adam mirip sedang mewawancarai seorang pegawainya yang sedang mengikuti sesi wawancara.


"Karena... saya tidak tahu keberadaan Raisya kak. Baru kemarin sejak Raisya bekerja di perusahaan pertambangan kami dipertemukan kembali." Jawab Jason berharap jawabannya tidak mengecewakan.

__ADS_1


"Kamunya aja kurang usaha! Kalau mencarinya sungguh-sungguh-sungguh pasti ketemu." Adam tidak mau kalah.


"Iya kak. Yang penting sekarang sudah ketemu dan mau menikah." Jason menjawab begitu saja argumen dari Adam. Dan itu membuat skak mat Adam.


"Lalu apa yang membuatmu tertarik sama Raisya?" Meski Adam terkena skak mat dia sudah terlatih percaya diri dan tak pantang menyerah dengan mudah.


"Sejak mengenalnya saya jatuh cinta. Dia perempuan yang baik." Jason mengungkapkan alasan kenapa dia menyukai Raisya. Memang sejak awal pertemuan nya dia sudah mempunyai kesan baik terhadap Raisya yang membuatnya jatuh cinta.


"Baik saja tidak cukup. Di dunia ini masih banyak kok perempuan yang baik. Kenapa kamu memilih dia?" Adam tak pantas percaya begitu saja jawaban Jason.


"Dia juga cantik. Dan entah kenapa saya hanya tertarik dengan Raisya tidak dengan perempuan yang lainnya." Jason memang sudah banyak menemukan perempuan cantik juga baik, tapi entahlah hatinya hanya terpaut dengan Raisya.


"Apa kamu tahu dia seorang janda... ?"


"Iya.. dan punya anak." Jason tak mau Adam ragu pada pendirian nya.


"Aku tak tahu kak... yang jelas hati aku ingin memilih dia. Mungkin takdir juga menuntun kami untuk berjodoh." Jawab Jason tak mau Adam menemukan celah kekurangan pada dirinya.


"Oke. Buat aku Raisya sudah seperti adikku sendiri. Selama ini hidup Raisya cukup menderita. Dan aku tak rela jika kedatangan kamu akan menambah Raisya menderita lagi. Selagi ada kesempatan, kamu boleh pergi dan mengundurkan diri sebagai suami Raisya. Karena kalau jika kamu berani menyakiti Raisya... aku dan keluargaku tak segan-segan membuatmu menderita." Ancam Adam tak main-main. Padahal selama ini adiknya lah yang memperparah penderitaan Raisya. Dan Adam tahu Raisya adalah perempuan yang sabar juga baik. Dia tak ingin melihat Raisya kembali menderita ketika nanti menikah dengan Jason.


"Tidak kak. Aku ingin berusaha membahagiakan Raisya dengan segala kemampuan ku. Aku sadar aku banyak kekurangan. Tapi aku ingin berusaha semaksimal mungkin membahagiakannya. Aku berjanji, jika suatu saat kakak melihatku memberikan penderitaan pada Raisya, kakak boleh menghukum aku." Jawab Jason sunguh-sungguh. Selama ini Jason tak pernah mempermainkan perempuan. Justru dialah yang dikhianati oleh calon istrinya sebelum nya.


"Baik. Kalau kamu yakin. Aku ingin lihat janjimu. Aku hanya tak ingin adik dari istriku menderita. Jika kamu yakin bisa membahagiakan nya, kami akan menunggu janji kamu." Jawab Adam tak main-main dengan kata-kata nya.


"Terima kasih kak. Kakak sudah mau mempercayai aku. Aku janji tak ingin mengecewakan. Semoga pernikahan kami lancar dan langgeng sampai tua nanti. Itu harapanku. Sekali lagi aku ucapkan banyak Terima kasih atas restu kakak." Jason sangat senang akhirnya Adam merestui pernikahannya meski dengan persyaratan yang tak mudah.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong kalian berencana kapan akan menggelar pernikahannya?" Tanya Adam ingin tahu pasti.


"Kami.. akan pergi ke Singapura dulu kak. Meminta izin orang tua saya dulu. Setelah itu baru kami akan menggelar acara. Raisya ingin pernikahannya di gelar di Amerika dan acaranya ingin sederhana. Cukup keluarga dekat saja yang hadir. Saya akan mengikuti keinginannya kak." Jawab Jason sesuai dengan kesepakatan dengan Raisya.


"Baiklah. Aku akan menunggu kabar selanjutnya." Ucap Adam tak mau ikut campur lebih dalam mengenai pernikahan Raisya. Cukuplah dia menguji nyali sang adik ipar hanya sebatas itu. Karena dalam lubuk hati terdalamnya, dia sangat bersyukur Raisya dipertemukan kembali dengan jodohnya, meski dia tidak yakin apakah Jason laki-laki yang bisa menepati janjinya atau tidak. Tapi dari sorot matanya dia melihat ada kesungguhan yang dipancarkan Jason. Semoga penilaian nya tidak melenceng.


Tak lama kemudian, Sarah datang menemui keduanya.


"Makanan sudah siap. Mari kita makan bersama!" Ajak Sarah pada keduanya.


"Baiklah sayang... ayo Jason!" Ajak Adam pada Jason.


"Baik kak." Jawab Jason. Acara menegangkan kini selesai sudah. Keringat dingin yang sedari tadi mengucur kini bisa berhenti sesaat.


Dan akhirnya ke empat orang itupun duduk di satu meja menikmati makan sore bersama diselingi dengan beberapa obrolan ringan yang tidak terlalu menegangkan seperti tadi.


Setelah makan sore, ke empat orang itu bisa berbincang-bincang santai. Dan begitu malam menjelang mereka masuk ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat.


Di dalam kamar tamu Jason dan Raisya masih bermain handphone sebagai alat komunikasi. Keduanya sedang membicarakan tentang obrolan tadi sore dengan Adam.


"Bagaimana wawancaranya lancar?" Tanya Raisya sambil tersenyum di balik handphonenya.


"Tau deh... jantung aku sampai deg-degan gak karuan. Belum keringet dingin. Rasanya kalau bisa aku ingin langsung menikah saja daripada melewati sesi itu." Jawab Jason yang merasa lebih tegang.


"Ha ha.. Kak. Adam gitu. Tapi akhirnya lolos kan?" Tanya Raisya.

__ADS_1


"Mmm. Aku jadi gak sabar ingin menikahi kamu besok." Jawab Jason yang sudah tidak sabar menantikan pernikahannya.


__ADS_2