Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Rahasia lama


__ADS_3

"Ini salah!" Raisya segera melepaskan diri dari kungkungan dokter Ferdi. Sontak membuat dokter Ferdi kaget.


"Kenapa Raisya?" Matanya masih berkabut hasrat.


"Ini salah!" Raisya menutup wajahnya menyesali perbuatan yang baru saja dilakukannya bersama dokter Ferdi.


"Sya.. maafin aku ya! Aku.. sekarang mau bicara sama ayah kamu, buat melamar kamu. Aku tahu kamu juga menyukaiku bukan? Aku tahu.. dari bahasa tubuhmu." Dokter Ferdi berniat bertanggungjawab dengan serius ingin melamar Raisya pada kedua orang tuanya.


Raisya menoleh melihat dokter Ferdi.


"Dokter Ferdi mau membunuh ayahku? Dokter tahu ayahku lagi sakit. Dan dokter... hik hik hik. Raisya menangis.


"Iy.. iya.. maafin aku ya! Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku khilaf." Dokter Ferdi hendak memeluk Raisya. Baru tangannya menyentuh bahu, Raisya langsung menepisnya.


"Maaf.. duh gimana ini? Aku replek aja kalau deket sama kamu. Apa harus bagaimana ya? Daripada kita banyak dosa, mending kita menikah saja Sya! Aku tahu kita sama-sama dewasa, dan saling membutuhkan. Kita tak bisa menolak Raisya! Apa yang menghalangi kamu buat menerima aku?" Dokter Ferdi mengusap kasar wajahnya. Antara bingin takut kehilangan dan tak ingin membuat Raisya terbebani. Hanya jalan satu-satunya adalah menikah.


"Raisya.. " Ibunya Raisya memanggilnya. Raisya buru-buru menyeka air matanya agar tidak terlihat habis menangis.


"Iya ma.. " Raisya berdiri mendekati ibunya.


"Bapak ingin bicara sama kalian." Ibunya Raisya tidak bisa dibohongi, dia masih melihat mata Raisya kemerah-merahan. Dia menduga, mungkin Raisya sedang bersedih karena penyakit ayahnya.


"Oh iya mah.. " Raisya melihat ke arah dokter Ferdi. Memberi isyarat bahwa dia mengajaknya.


"Oh iya, saya juga membereskan jarum-jarum itu." Dokter Ferdi bergegas mengikuti Raisya masuk ke dalam kamar orang tuanya.


"Maaf om.. jarumnya mau saya cabut dulu ya! Bagaimana keadaan om? Baikan?" Dokter Ferdi sejenak melupakan kejadian bersama Raisya. Sekarang dia sedang bertanggungjawab dengan pengobatannya.

__ADS_1


Pak Kardi hanya mengangguk. Tenaganya mau disimpan untuk bicara serius pada ketiga orang yang ada di depannya.


"Sudah beres. Saya harap om habis ini bisa memeriksakan diri ke rumah sakit!" Ucap dokter Ferdi yang telah selesai membereskan alat-alat akupuntur nya.


"Maaf.. bapak mau bicara serius sama kalian!" Pak Kardi bicara lirih.


"Sebaiknya bapak istirahat dulu! Bapak tidak usah banyak pikiran!" Raisya menahan ayahnya untuk berbicara serius dulu. Dia tahu, baru saja ayahnya terkena serangan jantung ringan, dan baru saja baikan. Lalu sekarang harus mau berbicara serius.


"Tidak Raisya. Bapak harus bicara sekarang mumpung ada kesempatan." Wajahnya pak. Kardi terlihat bersedih.


"Iya om. Om sebaiknya tenang dan istirahat!" Dokter Ferdi ikut bicara.


"Aku tidak akan tenang sebelum mengatakan hal ini." Pak. Kardi bersikukuh untuk bicara.


"Raisya.. biarkan bapak berbicara. Mungkin ada yang ingin dibicarakannya pada kita." Ibunya Raisya malah bertolak belakang dengan Raisya juga dokter Ferdi.


"Mah.. seandainya bapak punya dosa sama mamah, apakah mamah mau memaafkan bapak?" Pak Kardi menatap satu pada istrinya. Dia tak kuasa untuk memendam rahasia lagi.


Ibunya Raisya mengerutkan dahi.


Apa yang telah dilakukannya sehingga harus meminta maaf seperti ini? Setahu mamah, bapak adalah sosok laki-laki yang baik selama ini. Bahkan dia mau menerima mamah selama ini yang menjadi janda dengan dua anak.


"Bapak tidak punya salah. Malah mamah yang banyak kekurangan ini mohon maaf jika ada salah." Ibunya Raisya menunduk. Perkataan suaminya seperti tidak biasanya. Dia agak takut.


"Raisya.. sini!" Pak Kardi menepuk pinggiran kasur agar Raisya duduk di sampingnya. Raisya pun menurut duduk di samping pak Kardi yang tengah bernafas turun naik.


"Bapak minta maaf ya Raisya... selama bapak jadi ayah kamu, bapak belum bisa berbuat yang terbaik. Malah bapak banyak merepotkan kamu Raisya. Bapak mohon maaf sebesar-besarnya sama kamu nak.. " Mata pak Kardi terlihat berkaca-kaca. Seisi ruangan kamar itu terasa mendung.

__ADS_1


"Tidak pak.. Bapak adalah ayah Raisya yang terbaik. Meski bapak bukan ayah kandung Raisya, tapi Raisya sangat menyayangi bapak. Bapak.. jangan bicara kaya gitu.. Bapak kaya dengan siapa saja. Bukankah antara anak dan ayah seharusnya saling menyayangi. Bapak harus percaya sama Raisya.. Raisya sangat menyayangi bapak.. " Raisya merangkul pak Kardi lalu menangis di bahunya.


"Jika seandainya bapak punya salah.. apakah Raisya akan memaafkan bapak? Kalau seandainya ada sesuatu yang terjadi dengan bapak, apa Raisya mau tetap menyayangi adik-adik kamu?" Pak Kardi meneteskan air mata nya.


"Bapak... sayang Raisya tidak akan berubah dari dulu sampai sekarang.. Raisya tetap akan menyayangi kalian semua. hik hik hik." Raisya menangis.


"Bapak senang mendengar mamah sama Raisya berkata seperti itu. Bapak harap suatu hari jangan membenci bapak ya!" Ucap pak Kardi sambil mengusap Raisya.


"Ada apa sih pak kok bapak tumben-tumbenan bicara seperti itu?" Ibunya Raisya tak Ingin membuat suaminya bersedih apalagi sekarang dia sedang sakit. Dia takut.. ini adalah perkataannya yang terakhir.


"Begini ya mah.. Raisya... Bapak harap kalian bisa lapang dada menerima kenyataan yang sudah lama bapak rahasiakan. Mungkin waktunya sekarang bapak akan bercerita pada kalian sesuatu yang selama ini bapak tutupi sari kalian."


Degg


Ketiga orang yang ada di depan pak Kardi termasuk dokter Ferdi juga agak heran sekaligus bertanya-tanya, kenapa pak Kardi tiba-tiba bicara rahasia-rahasiaan.


"Dulu... sebelum bapak menikah dengan mama kamu, bapak sudah menikah dengan perempuan lain."


Deggg


Ibunya Raisya agak terhenyak pada perkataan pak Kardi. Selama ini suaminya tidak pernah mengatakan bahwa dirinya pernah menikah sebelumnya. Apa dia sengaja atau ada yang sedang ditutupinya.


Apa maksudnya bapak berkata seperti itu sekarang? Kenapa tidak dari dulu bapak jujur dengan keadaan bapak sendiri. Apa jangan-jangan...


Ibunya Raisya langsung menatap curiga pada dokter Ferdi. Pasalnya dari awal ibunya Raisya sudah curiga. Kenapa wajah dokter Ferdi mirip sekali dengan suaminya di waktu muda.


"Maksud bapak bagaimana?" Raisya merenggangkan pelukannya dari pak Kardi.

__ADS_1


"Bapak pernah menikahi seorang perempuan yang sangat cantik, baik juga kaya raya. Tapi sayang pernikahan kami tidak direstui oleh orangtua kami. Sampai akhirnya istri bapak melahirkan seorang anak. Karena kondisi bapak saat itu serba kekurangan istri bapak meninggal tidak tertolong saat melahirkan anak kami. Dalam amanah terakhirnya bapak disuruh menitipkan anak kami di panti asuhan, dan menyuruh bapak menikah lagi. Istri bapak takut orang tuanya akan membunuh anak kami dan akan menghabisi bapak jika ketahuan kami sudah menikah. Bapak terpaksa menyimpan Ferdi di panti selama ini."


__ADS_2