Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Papa tiri


__ADS_3

"Papa baru? Maksud Arsel papa baru yang mana sayang?" Raisya agak mengernyitkan dahinya.


"Papa Acel kan udah mati kata kakak. Telus papa Ilwan katanya bukan papa Acel. Telus... Acel bingung. Kenapa om Jacky mau dipanggil papa? Telus... kalau om Feldi mau jadi papa Acel juga? Acel pucing mah.. kok papa Acel banyak?" Arsel yang belum mengerti hal itu, sedang berpikir keras mengenai posisi ayahnya. Kalau ada lagi laki-laki yang dekat sama Raisya, sepertinya papanya akan terus bertambah.


"Arsel... mendingan sekarang mama mandiin. Biar Arsel mikirnya tidak kemana-mana." Raisya menggendong Arsel lalu membuka bajunya mau dimandiin.


"Ma.. Acel.. mau ketemu papa. Tapi Acel bingung. Papa Acel sebenarnya yang mana ma?" Di sela-sela Arsel yang sedang bermain air di bathtub dia melihat Raisya.


"Papa Arsel sudah meninggal. Arsel kirim doa ya buat papa. Biar nanti papanya tinggal di surga bisa jemput kita barengan tinggal disana." Ucap Raisya agak sedih. Karena Arsel tidak sempat lama mengenal Nathan. Pertemuannya yang singkat, belum bisa membuat Arsel dekat dan mengingat Nathan dengan baik. Malah dia menganggap Irwanlah yang menjadi ayahnya selama ini.


"Telus kenapa mereka mau jadi papa Acel ma? Kan Acel pusing kalau nanti papa Acelnya banyak." Arsel memang aktif bertanya ketimbang Michel kakaknya. Dia senang berbicara dan berceloteh.


"Arsel kan belum punya papa lagi sayang.. kenapa harus bingung dan pusing? Ha?" Raisya menggosok badan Arsel ingin menyudahi mandinya.


"Mmm.. memang kalau papa Acel mati. Acel mesti punya papa lagi ma?" Karena pembicaraannya dengan Michel tadi didengar Arsel. Anak ini terus saja bertanya seputar papa.


"Ya enggak juga Arsel.. kamu tuh ya.. bicaranya papa melulu." Raisya menciumi pipi tembem Arsel.

__ADS_1


"Ah.. mama boong. Mama mau nikah lagi ya? Telus Acel nanti punya papa balu. Papa tili. Nanti papa tili Acel galak." Entah darimana anak itu mendapatkan informasi bahwa dia akan punya papa tiri.


"Eh.. kata siapa Arsel punya papa tiri sayang?"


"Kata si kembar, mama mau nikah lagi. Telus Acel bakal punya papa balu. Papa balu Acel bakal jadi papa tili. Papa tili Acel nantinya galak suka mukulin anak tilinya. Acel gak mau punya papa tili.. nanti Acel digebukin sama papa tili." Arsel cemberut membayangkan dirinya akan dipukuli ayah tiri. Padahal selama ini Arsel belum sekali pun dipukulu. Dia menggidikkan bahunya membayangkan kekejaman papa tiri.


"Eh.. jangan begitu sayang.. kalau Arsel tidak mau punya papa, mama tidak akan menikah sayang. Tapi janji Arsel harus baik ya! Tidak boleh menyakiti mama!" Raisya segera mengangkat tubuh Arsek dan memakaikan handuk mandi.


"Acel janji mau baik dan cayang cama mama." Ank itu mengecup pipi Raisya.


Tak terasa hari berlalu. Raisya tak lagi datang ke klinik. Anak-anak pun hanya diantar sopir dan baby sitter nya Arsel. Itu demi menghindari dokter Ferdi.


Anak-anak nampak bergembira setelah tahu mereka akan mengunjungi neneknya juga adik-adiknya Raisya. Mereka selalu heboh jika sudah datang ke Bandung. Segala keinginan anak-anaknya selalu saja dituruti. Itu yang membuat mereka betah berlama-lama di sana. Apalagi Dira dengan bermacam-macam peliharaan binatangnya membuat Arsel asik dengan binatang kesayangannya itu. Di rumah hanya diperbolehkan memelihara ikan saja. Sedangkan Dira, mempunyai binatang peliharaan yang lucu-lucu seperti kucing, penyu, ikan, burung belum lagi Iguana yang bisa dikatakan hewan sisa dinosaurus itu selalu membuat Arsel asik bermain dengan binatang itu.


"Aduh.. incu emak.. datang." Ibunya Raisya menyambut kedatangan cucunya yang sebelumnya sudah diberitahu akan datang. Ibunya selalu terlihat gembira kalau kedatangan Arsel dan Michel di rumah. Selain cucunya memang cantik dan tampan, mereka juga suka jadi bahan gosipan para tetangga, karena mempunyai wajah bule.


"Emakkk... " Arsel. langsung berlari memeluk ibunya Raisya. Meski ibunya Raisya sudah agak tua dia masih kuat menggendong Arsel. Digendongnya Arsel dan diciuminya berkali-kali membuat orang rumah tertawa melihat Arsel geli.

__ADS_1


"Ampun mak.. Acel geli!" Anak ini geli dan senang ketika ibunya Raisya menciumi pipi gembilnya. Ya wajahnya memang mirip. Michel waktu kecil. Wajah Nathan memang kuat menurun.


Raisya mencium punggung ibunya begitu juga Michel. Mereka bergilir saling cium tangan antara adik-adiknya Raisya juga Raisya dan Michel.


"Emak kangen... Tadinya Dira mau msngantar emak ke Jakarta. Tapi kasian.. anak Dira siapa yang rawat kalau Dira mengantar emak ke sana." Ibunya Raisya kemarin memang berencana datang ke Jakarta ketika mendengar Raisya dirawat.


"Gak pa-pa mah. Kasian bapak nanti tidak ada yang mengurus kalau mamah ke Jakarta." Ucap Raisya ikut prihatin atas penyakit suami ibunya yang sekarang menderita diabetes.


"Iya.. maafkan mamah ya Raisya! Mama jadi banyak dosa sama kamu. Apalagi sejak Nathan meninggal, mama jadi serba bingung. Nathan selalu memberi keluarga kita kecukupan selama ini. Sebelum meninggal dia pun memberi uang pada kita yang jumlahnya tidak sedikit. Mama jadi sedih Raisya.. Mama selama ini belum menjadi ibu yang baik buat kamu. Kamus selalu menderita karena mama.. hik hik hik.. " Ibunya Raisya terisak menyesali perbuatannya di masa lalu dan tidak enak hati selalu menerima kebaikan dari keluarga suaminya Raisya. Selain uang dari Nathan tuan Robert juga memberikan sejumlah uang dan kendaraan setelah kematian Nathan.


"Mama gak usah bersedih. Raisya harap mama ikut mendoakan Nathan agar dimudahkan di sana mah... !" Ucao Raisya memeluk ibunya. Arsel yang sedang digendong dalam. pangkuan ibunya Raisya ikut menyeka airmata neneknya. Mata polos itu menatap penuh sayang dan haru. Michel yang duduk di dekat Raisya langsung memeluk Raisya manja.


"Iya.. mama selalu mendoakannya Raisya. Malah tiap hari jumat mama selalu meminta jamaah di mesjid untuk mengirimkan doa-doa. Mama juga rutin membagikan makanan untuk para yatim dan meminta doanya untuk dikirimkan ke mendiang suami kamu, Nathan. Hik hik hik.. " Ibunya Raisya kembali menangis.


"Emak.. cedih? Kenapa cedik mak?" Arsel yang setiap menyeka air mata neneknya bertanya dengan polos.


Ibunya Raisya tersenyum melihat cucunya yang tampan juga lucu.

__ADS_1


"Iya emak sedih.. kalau teringat papa Arsel yang baik. Emak selalu mendoakan papa Arsel biar masuk surga." Ibunya Raisya menangis sambil tersenyum. Melihat wajah Arsel yang tampan kesedihannya jadi berganti jadi bahagia. .


__ADS_2