
"Nyonya sambil dimakan buburnya! Nanti kalau dingin rasanya kurang enak." Bi Siti yang sedang bercerita membuat Raisya asik mendengarkan dan lupa dengan makan buburnya.
"Eh iya bi. Teruskan bi!" Raisya kembali menyuapkan buburnya dan penasaran dengan cerita bi Siti.
"Iya nona Raisya pernah tinggal disini selama satu bulan menemani non Michel, karena waktu pak Nathan ada tugas."
Bi Siti berhenti sambil memperhatikan makan Raisya yang mulai berhenti menyuap. Raisya melihat tatapan itu langsung menyuap bubur kembali. Raisya penasaran bagaimana keadaan Nathan sepeninggalnya setelah kecelakaan itu. Karena dari sana Raisya koma selama satu tahun dan ketika bangun kembali dia tak ingat apa-apa.
"Terus bagaimana lagi bi?' Sambung Raisya ingin bi Siti bercerita lagi.
Bi Siti diam. Dia sedang berpikir apakah dia harus menceritakan hal itu apa tidak. Dia khawatir kalau perempuan yang di depannya akan kaget dan syok. Dan takut melarikan diri setelah mendengar cerita setelah itu.
"Mmm.. bibi tidak tahu lagi nyonya." Bi Siti menunduk.
"Ayo dong bi cerita! Aku pengen tahu, bagaimana pak Nathan." Wajah Raisya memohon.
"Bibi tidak tahu nyonya. Setahu bibi pak Nathan tinggal di Amerika selama tiga tahun. Sekarang baru kembali lagi kesini tahu-tahu sudah menikah." Jawab bi Siti tak ingin lidahnya terpeleset.
"Lalu dimana sekarang nona Raisya yang pernah dekat dengan Michel?" Raisya pura-pura tidak tahu ingin menguji bi Siti.
"Sudah meninggal nyonya." Bi Siti tidak tahu kalau Raisya sedang mengorek keterangan dari bi Siti.
"Meninggal? Kenapa meninggal bi? Sakit?" Raisya tahu semua orang mengetahui bahwa Raisya yang dulu telah meninggal.
Lalu apakah Nathan pun mempercayai bahwa Raisya itu meninggal? Raisya penasaran siapa saja yang mengetahui kebenarannya.
Apakah Nathan sama halnya seperti Sarah? Tahu, tapi menyembunyikan fakta sebenarnya? Atau malah sebaliknya? Dia tidak mengetahui sama sekali.
"Mmm." Bi Siti bingung. Dia terjebak dengan pertanyaan Raisya.
"Saya tidak tahu nyonya." Jawab bi Siti bohong.
"Tapi.. aku melihat foto-foto Raisya masih terpajang bi." Ketika Raisya kemarin ada di kamar Nathan, dia melihat dinding kamarnya dipajang foto dirinya yang dulu.
"Mmm begitu ya?" Bi Siti menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Apa Nathan mencintai Raisya bi?" Raisya menajamkan matanya pada bi Siti.
"Mmm.. bibi tidak tahu nyonya. Itu urusan pak Nathan." Bi Siti tak mau bicara lebih jauh takut nanti malah memperunyam masalah.
"Apa pernah pak Nathan jalan sama wanita lain selain Raisya bi?" Raisya tak putus harap untuk terus bertanya.
"Setahu bibi sih.. pak Nathan belum pernah membawa perempuan ke rumah hanya nona Raisya saja." Jawab bi Siti jujur.
"Kalau ibunya Michel, apa pernah datang kesini bi?" Raisya penasaran akan Sherly
__ADS_1
"Belum nyonya. Jangankan datang menelpon saja tidak pernah." Jawab Bi Siti seperti agak kesal.
"Mmm.. kasian Michel ya. Pantesan saja dia begitu dekat dengan Raisya. Mungkin dia merindukan sosok ibunya." Raisya berpura-pura tidak tahu.
"Iya, kasihan non Michel. Sampai dia suka tidur dengan handphone pemberian nona Raisya." Bi Siti terjebak lagi.
"Handphone? handphone apa bi?" Raisya agak mengerutkan keningnya.
"Eh.. sudah. Bibi mau ke dapur." Bi Siti langsung berdiri dari tepian kasur. Tak ingin melanjutkan ceritanya.
"Handphone? Handphone Raisya?" Raisya mengerutkan dahi mengingat-ingat.
"Oh.. kayanya handphone aku yang hilang kali. Eh tapi yang mana ya? Apa handphone yang di rumah sakit? atau yang satunya lagi? Ah.. ini sih harus nanya ke Michel. Biar aku tahu handphone mana yang ada di Nathan." Raisya berbicara sendiri.
Krekkk
Pintu terbuka. Raisya menoleh ke arah pintu.
"Apa kabar nyonya?" Reza masuk ke kamar untuk memastikan dirinya.
"Aku harap kamu kelurahan dulu!" Raisya tak ingin Reza melihatnya dalam keadaan tidak memakai kerudung.
"Ups.. maaf." Reza kembali menutup pintu.
Raisya turun dari ranjang dan membuka lemari Michel untuk meminjam kerudung yang dimilikinya.
Raisya hanya melihatnya tak berniat untuk mengambil handphone itu. Dia langsung membawa salah satu kerudung Michel dan menutup kepalanya. Lalu berjalan keluar kamar.
Pandangannya mengedar mencari keberadaan Reza.
"Kemana tuh orang? Apa pergi?" Raisya tak menemukan Reza. Di melongok ke ruang tamu dan berjalan ke arah pintu mengintip di balik gorden.
"Mobilnya masih ada. Tapi kemana dia?" Raisya mencari Reza tapi tak menemukannya.
"Mungkinkah tadi Reza ingin bicara dengannya? Atau hanya melihat keadaannya?" Raisya bermonolog.
Raisya berjalan ke arah ruang makan.
"Nyonya sudah baikan?" Suara itu benar-benar mengagetkan Raisya.
"Astagfirullah adzim.. " Raisya mengelus dadanya.
"Nyonya nampak lebih anggun memakai kerudung." Puji Reza sambil menuruni anak tangga.
"Ssstt. Jangan ribut!" Raisya duduk di kursi makan.
__ADS_1
Reza terkekeh menertawakan Raisya, lalu duduk di depan di seberangnya.
"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?" Bibir Raisya mengerucut.
"Mmm... apa ya?" Reza tersenyum.
"Bagaiamana dengan keadaan tuanmu?" Raisya nampak tenang, tak terlihat gurat wajah dendam ataupun marah setelah mendapatkan perlakuan dari Nathan.
"Kenapa nyonya tidak melihatnya saja ke atas?" Reza sedang mengujinya.
"Ishh.. yang celaka aku, malah aku yang harus menengok dia!" Raisya meneguk air putih yang ada di atas meja yang baru saja disuguhkan bi Siti.
"Tadi pak Nathan juga mengkhawatirkan anda nyonya. Dia ingin turun melihat keadaan nyonya. Cuman saya larang. Tadi saya mohon maaf telah berani masuk kamar anda, dikira bi Siti masih di dalam." Ucap Reza meminta maaf atas ketidak sopanannya.
"Mmm... "
"Nyonya.. "
"Apa?" Raisya melihat Reza.
"Apa nyonya tidak marah?" Tanya Reza.
"Marah? Hhmm... kalau mau marah sejak dulu aku marah. Tapi percuma." Jawab Raisya yangs enak dulu Nathan sering menyakitinya.
Reza mengerutkan keningnya, mencerna apa yang baru saja di dengarnya.
"Kenapa?" Raisya heran dengan perubahan wajah Reza.
"Tidak. Cuman.. saya ingin mengatakan sesuatu nyonyah." Reza nampak ragu.
"Katakan saja!" Raisya melihat Reza serius.
"Tuan Nathan sepertinya mencintai nyonya."
"Cinta? Hhhh... ha ha ha.. " Raisya tertawa mendengar kalimat itu.
"Kenapa? Kenapa anda tertawa nyonya?" Reza heran melihat sikap Raisya.
"Apakah pantas dikatakan cinta? Setiap dia bertemu denganku kerjaannya hanya menyakiti?" Bayangkan masa lalu tentang Nathan sekarang sudah lengkap diingatnya.
"Nyonya... apakah akan pergi dari sisi pak Nathan?"
"Memang bisa? Kalau bisa sudah aku lakukan sejak dulu." Raisya berdiri lalu berjalan ke kamar.
Tanpa Raisya sadari, sejak tadi Nathan mendengarkan pembicaraan antara Raisya dan Reza dari lantai dua.
__ADS_1
Reza menatap nanar Nathan dari bawah. Sungguh menyedihkan.