Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Sebuah permintaan


__ADS_3

Dia berlanjut membuka layar handphonenya. Ada beberapa panggilan dari tuan Robert dan nomor tak dikenal.


Di layar ada notifikasi pesan yang belum dibuka. Raisya membuka pesan paling atas yang nomornya masih asing.


Dalam pesan itu dia juga mengirimkan foto. Raisya penasaran apa yang dikirimkan orang itu padanya. Matanya tajam mengamati foto yang dikirimkan. Terlihat seseorang yang dikenalinya sedang tergolek lemah di atas blankar dengan selang infus yang menancap di tangannya.


"Jacky... " Meski dia tahu Jacky sebelum berangkat memang sempat berkelahi, jadi Raisya tidak terlalu kaget dengan foto itu. Cuman yang jadi pikirannya sekarang, kenapa orang itu mengirimkan foto padanya. Berlanjut membaca pesan.


"Aku Sherly. Mohon maaf mengirimkan pesan yang mungkin tak diinginkan. Aku hanya memberitahu kamu, bahwa saat ini Jacky terbaring di rumah sakit bukan hanya luka lebam, tapi meninggalkan luka dalam di hatinya. Sejak awal pernikahan kami, aku tahu bahwa dia telah mencintaimu dengan besar. Sehingga tiap kali dia menyentuhku, dia hanya menyebut namamu."


"Jika ditanya, apakah aku sakit? Ya aku sakit Sakitku bukan hanya di fisik tapi batinku juga terluka. Aku mencoba bertahan dan tak banyak menuntut. Aku bersyukur pada akhirnya aku bisa hidup bersama dia, Jacky yang sudah lama aku cintai."


"Dan hari ini aku harus memohon padamu demi orang yang aku cintai. Aku tak bisa melihat Jacky menderita seperti sekarang. Bahkan semangat hidupnya ikut lenyap seiiring dengan kepergianmu. Aku bisa menahan sakit yang aku derita, tapi aku tak bisa menahan melihat dia sakit karena dirimu. Kalau bukan karena aku mencintainya, aku tidak akan memohon padamu untuk kembali."


"Kembalilah! Tak ada waktu yang lebih berharga selain hidup bisa bersamanya. Aku akan membagi dia untukmu meski hatiku sakit. Waktuku takkan lama Raisya. Setelah meninggal aku hanya bisa memintamu untuk tetap tinggal untuk Jacky. Dan untuk sekarang, pulanglah!"


Sherly


Raisya mengambil nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan seolah ada beban berat yang kini menghimpit. Kenapa hidupnya harus dihadapkan pada masalah yang sama. Apakah dia harus mengalah atau tetap terus berjalan ke depan? Pada dasarnya Raisya adalah perempuan yang memang tidak tegaan melihat penderitaan orang lain, tapi sepertinya jiwanya lelah harus berhadapan dengan kehidupan yang sama di keluarga Alberto.


"Tidak.. mulai sekarang aku tak mau mengorbankan diriku untuk sebuah keegoisan orang lain. Aku berhak menentukan sikap." Lirih Raisya bicara sendiri.


Kring


Kring


Kring


Handphonenya kembali menyala. Kini sebuah panggilan dari Baron masuk. Raisya segera mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum pak." Sapa Raisya sopan.


"Waalaikumsalam. Bagaimana makanannya sudah diantarkan ke kamar?" Tanya Baron menunggu jawaban.


"Oh iya pak, Terima kasih banyak. Maaf tadi saya ketiduran pak. Jadi melupakan janji akan makan bersama bapak." Ucap Raisya pada Baron.


"Oh.. tak apa. Apa lukamu sudah diobati?" Baron kembali bertanya. Dia tak mau dicap sebagai atasan yang kejam yang tidak memperhatikan bawahannya.

__ADS_1


"Alhamdulillah sudah pak." Jawab Raisya yang merasa mendingan setelah keningnya dikompres.


"Baguslah! Untuk makan malamnya nanti akan diantarkan ke kamar juga jika kamu tidak ingin keluar. Dan besok kita akan terbang jam 8pagi. Aku harap kamu bisa siap-siap sebelum itu!" Baron memberitahu jadwal pemberangkatan pesawat yang akan terbang ke pulau jam 8 pagi.


"Baik pak. Saya mohon maaf sudah merepotkan bapak. Dan Terima kasih atas kebaikan bapak." Ucap Raisya basa-basi. Sebagai bawahan dia harus bisa menempatkan dirinya di manapun berada.


"Ya sudah dulu. Aku ttutup dulu teleponnya." Baron meminta izin akan mengakhiri panggilan.


"Iya baik pak." Jawab Raisya patuh.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Panggilan pun berakhir.


Raisya terdiam. Meski pikirannya berkata A tapi hatinya berkata lain. Meski barusan dia bertekad ingin terus berjalan ke depan tapi hatinya malah tak tega. Dilema sedang melanda Raisya.


Ting tong


Ting tong


Ting tong


Ting tong


Belt itu kembali terdengar, sepertinya tamu penting. Raisya terpaksa berdiri melangkah menghampiri pintu.


Klek


Pintu pun terbuka. Raisya sengaja tidak membuka pintu lebar. Ada trauma yang melanda pikirannya akan kenangan buruk yang telah lalu.


"Maaf Bu.. saya pelayan hotel mau mengambil bekas makan, kalau ibu sudah selesai." Pelayan itu dengan ramah menyapa pelanggan.


"Oh baik." Barulah Raisya membuka pintunya lebar. Pelayan dengan sopan mengambil piring dan dan dimasukkannya ke dalam meja beroda.


"Maaf Bu.. ada yang dibutuhkan lagi tidak? Kata pak Jason kalau ibu mau memesan makanan atau keperluan silahkan titip pada saya saja!" Tawar pelayan itu menyampaikan pesan pada Raisya.

__ADS_1


"Oh tidak Terima kasih." Jawab Raisya yang merasa tidak memerlukan apa-apa lagi.


"Baik kalau begitu. Saya permisi dulu bu!" Jawab pelayan itu sambil mendorong meja roda yang berisi piring dan gelas bekas Raisya tadi makan.


"Oh iya Terima kasih." Jawab Raisya sambil menutup pintu.


Tak lama kemudian handphone nya Raisya menyala.


"Halo." Sapa Raisya.


"Halo. Maaf.. aku Sherly.. Raisya." Orang diseberang telepon memperkenalkan diri.


"Oh.. iya. Apa kabar?" Raisya terpaksa berbasa-basi untuk menyapa Sherly yang sudah berani menghubunginya.


"Baik. Kamu sendiri bagaimana?" Tanya Sherly balik bertanya.


"Aku baik-baik saja." Jawab Raisya datar.


"Boleh aku bertemu kamu Raisya?" Sherly rupanya tak bisa diam saja melihat keadaan Jacky seperti sekarang.


"Maaf. Aku sedang di luar kota. Sedang bekerja." Jawab Raisya tegas. Dia tak menginginkan untuk bertemu bahkan untuk dihubungi pun rasanya seperti enggan. Untuk memulai hidup baru Raisya harus memberi ketegasan meski bertentangan dengan hati nuraninya.


"Oh.. begitu ya? Kapan kamu pulang?" Tanya Sherly tidak putus harap.


"Aku tidak tahu. Bahkan aku masih dalam perjalanan, belum sampai ke tempat tujuan." Jawab Raisya apa adanya.


"Memangnya kamu bekerja dimana?" Sherly agak mengernyitkan dahi.


"Dimanapun bukan urusan kamu. Ada apa kamu menghubungi aku?" Rupanya Raisya tak mau berlama-lama berbasa-basi.


"Maaf.. jika aku mengganggu. Jika kamu tidak keberatan, apakah kamu bisa video call?" Tanya Sherly berusaha keras agar bisa meluluhkan Raisya.


"Maaf. Tidak bisa. Aku sedang bersama atasanku." Tolak Raisya tak ingin lebih jauh terlibat masalah dengan Sherly.


"Mmm.. begitu ya?" Sherly terdiam. Dia sedang memutar otak bagaimana bisa membujuk Raisya agar bisa berbicara dengan Jacky saat ini. Mungkin hal itu bisa mengurangi depresi Jacky saat ini yang terlihat mengkhawatirkan.


"Kalau tidak ada yang penting, aku ingin menyudahi pembicaraan. Aku sedang bekerja." Raisya ingin segera mengakhiri panggilan dengan Sherly yang sudah terasa tidak nyaman.

__ADS_1


__ADS_2