
"Michel mau dimasakin nasi goreng terasi. Dulu bunda Raisya suka masak nasi goreng terasi. Rasanya lezat sekali." Michel sangat senang sekali. Terpancar dari wajahnya mengembangkan senyum dengan mata berbinar.
Lidah Michel seperti merindukan masakan yang pernah dibuatkan Raisya dulu. Itu seperti mengobati rasa kerinduan yang selama ini dipendamnya. Selain rindu rasanya memang lezat. Dan rasa itu masih kuat diingatan Michel sampai saat ini.
"Mulai sekarang tak ada yang boleh memasak apa yang dimasak oleh bunda Raisya. Masak dan makanlah yang tak pernah dibuatnya!" Nada suara Nathan terdengar sumbang.
Apa maksud semua perkataannya yang tidak memperbolehkan masakan Raisya hadir di rumah itu? Apakah masakannya tidak enak? Atau memang dia tak menyukainya?
"Cihh..itu terdengar hanya sentimentil." Raisya berkata dalam hati.
Mode awal Nathan kembali datang. 'Seram, dan menakutkan' Mungkin itu yang akan dikatakan orang-orang yang pernah mengenalnya dulu, seperti bi Siti.
Berbeda dengan Raisya yang baru saja mengenal Nathan. Dia hanya melotot memandangi laki-laki yang kini meyandang status suami.
Apa maksudnya nih orang? Dendam apa emang gak doyan?
Raisya menatap aneh wajah Nathan begitupun Michel. Dia tak habis pikir kenapa juga dia melarang membuatkan nasi goreng itu. Jangan-jangan dia alergi dengan namanya bau terasi. Karena tidak semua orang menyukai terasi apalagi Nathan yang notabene dibesarkan di luar negeri. Selain baunya aneh, mungkin saja dia punya alergi terhadap makanan tertentu. Itu yang ada di benak Raisya saat ini.
Raisya langsung memutar badan dan mematikan kompor tidak jadi membuatkan Michel nasi goreng kesukaannya.
"Bi Siti tolong buang jauh-jauh apa yang ada di atas wajan itu. Aku tak mau bau itu terlalu lama ada di rumah ini. Dan jangan lupa semprotkan pewangi ke mang Diman untuk menghilangkan bau tak enak itu."
"Baik tuan!" Bi Siti dengan sigap membawa ketel yang berisi tumisan ke luar dan hendak membuang isinya sekalian akan menyuruh mang Diman menyemprotkan parfum.
Nathan masih berdiri di tempatnya. Matanya membesar sedang memindai penampilan Raisya yang sedang memakai kaos putih tipis yang bisa menerawang isi di dalamnya dengan belahan leher model Sabrina membuat tali bra nya terekspos bebas. Belum lagi celana pop dengan ujung benang yang merumbai, terlihat kekurangan bahan sedang memamerkan paha mulusnya.
Raisya yang dirinya merasa ditatap seperti itu merasa risih sampai netranya mengikuti arah tatapan Nathan.
Ada yang aneh emang?
__ADS_1
Raisya ikut naik turun mengamati penampilannya.
Belum sempat dia menanyakan perkara keanehan itu, mulut Nathan kembali bersuara.
"Ganti semua pakaian kamu yang tidak berkelas itu! Membuat aku jijik melihatnya." Nathan langsung melengos meninggalkan Raisya juga Michel naik ke lantaiatas kamarnya .
"Mmh.. bunda jangan tersinggung ya! Daddy bicaranya suka gitu! Semua orang sudah tahu kalau daddy bicaranya agak kasar." Michel rupanya menangkap ketidakenakan Raisya yang sedikit muram setelah mendengar perkataan Nathan.
"Ga pa-pa. Bunda masuk dulu ke kamar ya!" Raisya berjalan gontai menuju kamar Michel.
Setelah masuk kamar Michel, Raisya bukannya mengganti pakaiannya malah tertidur di atas kasur Michel sambil memeluk guling. Kata-kata Nathan terasa seperti duri di hati Raisya.
Raisya hanya melamun memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya. Dia sedang membayangkan bagaimana perlakuan Nathan selama ini padanya. Mungkin tidak jauh berbeda dari saat ini atau mungkin saja lebih dari ini? Dia sedang mengasihani dirinya sendiri.
Raisya menyeka matanya yang berair lalu memejamkan mata. Niat untuk membuatkan masakan untuk Michel menguap begitu saja. Raisya butuh menata emosinya agar tidak rapuh seperti waktu yang lalu. Ya.. entah kenapa.. menerima jodoh yang tak diinginkan, juga menyerahkan hidupnya di tangan laki-laki yang belum dikenalnya, itu membuatnya semakin tak berdaya.
Michel hanya mematung di depan pintu kamar melihat Raisya memunggunginya. Dia tahu perasaan Raisya sedang tidak baik. Mana ada orang yang langsung cocok dengan ayahnya dengan karakinnya yang seperti itu. Itupun kadar kasar nya sudah menurun dibanding dulu sebelum terapi. Tapi cabe rawit ya cabe rawit.. pasti namanya cabe tetap pedas sampai dunia ini berakhir.
"Non Michel mau dimasakin apa sama bi Siti?" Bi Siti tidak tega melihat wajah Michel yang tadi sudah bergembira kini terlihat murung.
"Tidak bi. Michel mau makan apa yang ada di meja saja. Tapi.. " Mata Michel melihat ke kamarnya, memikirkan seseorang yang tadi sedang tidur di kasurnya.
"Bibi bisa masak ayam geprek tidak? Atau rica-rica?" Michel malah memikirkan kesukaan Raisya. Dia meminta bi Siti untuk memasakkan makanan kesukaan Raisya agar moodnya berubah.
"Bisa non. Bibi akan buatkan buat non Michel." Bi Siti yang memang handal dalam memasak tidak menolak permintaan Michel.
"Bukan buat saya bi, tapi buat bunda. Biasanya bunda suka sekali makanan itu." Michel berusaha untuk menyenangkan Raisya agar bisa betah di rumahnya.
"Oh.. buat nyonya. Baik bibi permisi dulu akan menyiapkan masakan yang non minta." Bi Siti berjalan ke dapur langsung menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk memasak.
__ADS_1
Michel makan di meja makan sendirian dengan menu yang sudah tersedia. Sop buntut, emping dan tahu goreng. Biasanya menu ini sangat disukai ayahnya jika sedang ada di Indonesia.
Sementara itu Nathan setelah berbaring dia bangun dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Setelah selesai mandi dia memakai kaos rumahan dengan celana bahan yang longgar dan merapihkan rambutnya yang masih basah.
Karena ini sudah jam makan, Nathan turun ke bawah untuk bergabung di meja makan.
"Dad.. aku makan duluan." Michel menoleh pada Nathan yang sedang menarik kursi.
"Hhmm... " Dia menjawab pendek.
Nathan mengerutkan dahi. Dia tak melihat Raisya ada di dapur apalagi di meja makan.
"Mana.. Bunda?" Nathan menanyaan keberadaan Raisya pada Michel.
"Ada di kamar." Jawab Michel sambil mengunyah.
"Sedang apa?" Nathan penasaran.
"Tadi sedang tiduran."
"Panggil dia!" Nathan menyuruh Michel memanggilnya.
"Baik dad." Michel turun dari kursi dan membangunkan Raisya.
Raisya yang sedang tidak tidur begituan dipanggil langsung menoleh.
"Bun.. dipanggil daddy."
"Mmm." Raisya turun dari ranjang lalu keluar kamar menghampiri Nathan.
__ADS_1
"Kamu budeg apa bodoh sih?" Nathan melihat pakaian Raisya belum berubah.
"Aku tidak tahu pakaian berkelas menurut kamu yang kaya gimana?"