Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Jejak dosa


__ADS_3

Kring


Kring


Kring


Suara handphone Adam menyala. Adam yang terkulai lemas langsung mencari handphonenya.


"Mer.. kamu cepat berkemas! Aku mau menerima telepon." Pinta Adam pada Marry.


"Kamu pergi saja ke kamar mandi! Semua pasti beres." Marry yang sudah pengalaman menyarankan Adam untuk masuk ke kamar mandi.


Adam pun menurut begitu saja.


"Dasar polos! Disuruh gitu aja langsung nurut." Marry kembali memakai pakaiannya yang sudah berserakan di lantai. Dia pun langsung ke luar kamar Adam tanpa permisi. Padahal sepasang mata telah mengawasi mereka semenjak kepergian Adam dari Jakarta.


"Halo." Adam mengangkat telepon.


"Halo mas. Mas Adam sudah sampai Singapura?"


"Sudah. Ini aku lagi di hotel."


"Oh syukurlah. Mas Adam lagi ngapain?" Tak biasanya Sarah bertanya sedetail itu membuat Adam agak heran.


"Mau tahu? Nih lagi di kamar mandi! Adam langsung mengalihkan ke mode VC.


"Oh.. dikira lagi menerima tamu." Sindir Sarah yang sudah mengetahui informasi dari seseorang.


"Maksud kamu?" Adam menaikkan intonasi bicaranya.


"Iya dikira langsung ketemu kliennya mas Adam." Padahal Sarah sedang menguji Adam, apakah dia akan bicara bohong atau jujur.


"Mmhh. Memang bertemu sejak datang juga. Dia barusan mengantarkan mas sampai hotel. Sekarang dia sudah pulang lagi." Jelas Adam.


"Oh. Mas Adam mau mandi?" Tanya Sarah.


"Iya."


"Kok bisa bawa handphone?" Sarah tetap menaruh curiga.


"Kamu nanya-nanya gitu sih Sar? Gak biasa kamu peduli sama aku sedetail itu!" Adam agak kesal menyikapi Sarah yang mirip sedang menginterogasinya.


"Yah.. gak apa-apa. Nanya aja masa gak boleh? Aku kan bukan orang lain mas!" Protes Sarah atas keberatan Adam.


"Ya aneh ajalah! Biasa kamu gak begitu kan? Cuek aja, jarang-jarang bertanya seperti itu. Bahkan untuk menelpon saja malah terbilang jarang kalau aku sedang bepergian. Malah aku yang duluan menelpon." Jelas Adam yang takut ketahuan selingkuh.

__ADS_1


"Gak apa-apa atuh mas. Hari ini aku lagi kepingin duluan menyapa mas Adam. Takut mas Adam keburu sibuk sama kliennya." Sarah memberikan alasan yang bisa diterima Adam. Padahal dalam suatu hubungan apalagi suami istri komunikasi seperti itu sih masih terbilang wajar-wajar saja. Malah tidak terlihat wajar kalau keduanya sampai abai dengan keadaannya masing-masing.


"Ya udah! Aku mau siap-siap nih! Sebentar lagi ada acara ketemuan sama manager artis. Kita mau menawarkan produk sponsor buat event mereka. Mas mau mandi dulu!" Adam ingin mengakhiri pembicaraannya dengan Sarah.


"Iya mas. Hati-hati ya! Jangan sampai tergoda iman apalagi kalau banyak bertemu orang cantik." Ucap Sarah mengingatkan Adam untuk hati-hati.


"Hhhmm."


"Eh mas Adam tunggu dulu! Jangan dulu ditutup teleponnya!"


"Iya ada apa?" Kesal Adam


"Mas aku sudah buka KB nya lho! Kita program yuk!" Ajak Sarah memberikan kabar pada Adam.


"Hhmm." Adam menjawab pendek tak merespon lebih.


"Mas kok dingin?" Sarah merasa aneh atas sikap suaminya yang tak biasa.


"Sarah.. aku lagi buru-buru nih!" Protes Adam dengan berkata berbohong. Padahal masih ada waktu untuk jadwal pertemuannya dengan manager artis.


"Oke. Tapi mas!" Sarah masih saja menahan Adam untuk tidak menutup teleponnya.


"Itu apa mas Adam? Kok ada merah-merah gitu!" Sarah yang sedang Video Call melihat jelas ada beberapa tanda merah di sekitar dada bidang suaminya.


"Mana sih? Adam bercermin melihat apa yang dikatakan Sarah.


"Ya udah! Jangan dibuat merah lagi ya! Nanti perih." Sarah segera menutup teleponnya dengan perasaan kecewa dan sedih. Gak mungkin tanda garukan seperti itu. Bahkan sejak kemarin Adam yang tak pandai berbohong telah meninggalkan lipstik merahnya di jas yang terakhir dia pakai. Dari jejak itulah Sarah mulai mencurigai Adam. Makanya Sarah langsung menyuruh seseorang untuk membuntutinya.


Sekali selingkuh langsung ketahuan.


Adam langsung membuka kran shower menggelontorkan air tepat di wajahnya. Adam terlihat bingung memikirkan perbuatannya.


Apakah Sarah mencurigai ku? Aneh. Kok dia bisa langsung membuka alat KB itu? Apa benar dia mau program kehamilannya? Bagaimana dengan ambisinya untuk gelar S3 nya? Kenapa bisa dia berubah cepat?


Sambil membersihkan badannya, banyak yang terlintas dalam pikiran Adam saat ini. Mengenai sikap Sarah yang cepat berubah dan juga tentang hubungan bisnisnya dengan Marry. Apakah dia harus melanjutkannya walau godaan itu akan terus datang atau segera mengakhirinya?


"Kenapa laki-laki lain bisa berselingkuh tapi bisa tidak diketahui istrinya sampai bertahun-tahun? Aku yang baru 2x berhubungan badan, perasaan sudah diketahui jejaknya. Apa hanya perasaan aku saja?"


Adam bermonolog.


Di lain tempat Hesti, Jacky juga bu Mia sudah berada di rumah sakit. Jacky heran kenapa Raisya tidak ada di dalam ruangannya.


"Jacky.. Apa benar ini ruangannya?" Bu Mia agak ragu ketika melihat Jacky celingak celinguk di dalam ruangan yang sudah kosong.


"Sebentar gue tanya dulu sama dokternya!" Jacky menekan satu nomor yang tak lain nomor Sarah.

__ADS_1


"Halo Sarah."


"Iya Halo!" Jawab Sarah terdengar bicara dengan nada malas.


"Kok ruangannya kosong?" Jacky menatap heran karena ruangan itu sudah rapih tak ada penghuninya.


"Iya sudah pindah!" Jawab Sarah pendek.


"Kemana Sar?"


"Keruangan executive."


"Ah.. kenapa gak izin dulu sama gue?"


"Atas nama siapa penjaminannya?"


"Hendrik."


"Kacau. Jadi gak bisa berkunjung dong!" Keluh Jacky.


"Iya. Kasihan Raisya dia trauma, butuh ketenangan. Salah elu sendiri bawa Raisya ke kamar Michel. Jadinya kacau deh!"


"Emang ada accident?"


"Tadi malam gue lihat di CCTV-nya, Nathan masuk kamar Raisya. Kok elu bisa gak tahu sih? Atau ketiduran?" Sarah merasa aneh juga kok bisa Nathan masuk tapi Jacky tidak tahu. Kecuali memang Jacky tidur pulas.


"Dasar ular. Bikin resah saja! Terus gimana dong? Sekarang gue sama temen-temen mau nengok?"


"Semua tidak diizinkan kecuali penjaminannya mengizinkan." Jawab Sarah.


"Ya.. "


"Elu kalau mau nitip makanan atau barang simpan aja di ruang perawat! Jadi elu dan kawan-kawan untuk sekarang mohon maaf tidak bisa bertemu Raisya demi keamanan dia sendiri. Elu juga sih ikut andil merusuh!" Sarah menyalahkan Jacky.


"Ya udah kalau gitu, gue nitip di perawat aja!" Jacky menutup teleponnya.


"Bagaimana Jack?" Hesti penasaran dengan kabar Raisya


"Kita tidak bisa masuk. Raisya di ruangan khusus. Gak bisa sembarangan masuk." Jacky menyampaikan prosedural rumah sakit.


"Emang sebenarnya Raisya sakit apa sih sampai di ruangan khusus segala?" Bu Mia menatap heran pada Jacky.


"Nanti tanya saja sama Raisya kalau sudah sembuh!"


__ADS_1


babang Adam nih. kenalan dulu


__ADS_2