
"Maaf saya memotong pembicaraan Sus. Saya mau tanya Raisya pake kerudung gak?"
Petugas dan perawat menatap Jacky melongo. Dia sedang menilai Jacky yang tiba-tiba bertanya seperti orang kepo an.
"Maksud saya, yang barusan suster bilang ada pasien yang namanya Raisya. Dia pakai kerudung tidak?" Jacky melihat silih berganti pada perawat juga petugas administrasi.
Petugas administrasi dan juga perawat malah saling memandang. Mungkin mereka tak ingin rahasia pasien terbongkar begitu saja oleh orang asing. Mereka harus melakukan sesuai prosedur dan aturan rumah sakit yang berlaku.
"Maaf Sus, kami sebenarnya sedang mencari teman saya di rumah sakit ini. Namanya Raisya, ini fotonya. Mungkin kalian bisa membantu kami menemukannya?" Ratna membantu menjelaskan pada perawat dan petugas administrasi yang mungkin saja mereka memang sedang mencurigai atau tidak percaya pada orang asing.
Keduanya melihat foto yang disodorkan Ratna melalui handphonenya. Lalu keduanya menyamakan pada kartu Identitas yang tadi dibawa perawat.
"Ini sama tidak?" Perawat itu memperlihatkan satu kartu identitas yang tadi dibawanya.
Ratna dan Jacky langsung menatap kartu identitas yang diperlihatkan perawat itu.
"Raisya?" Keduanya kompak berteriak menyebut nama Raisya.
"Eh pak.. " Perawat itu replek menahan badan Ratna yang terkulai lemas begitu mengetahui Raisya.
Jacky langsung membantu menahan beban badan Ratna agar tidak jatuh ke lantai.
"Eh malah pingsan... " Jacky mengeluh melihat Ratna pingsan.
"Sus tolong bantu temen saya dulu. Saya mau urus Raisya. Dia butuh operasi segera bukan?" Jacky inisiatif menggantikannya menjadi wali untuk Raisya. Agar segera mendapatkan pertolongan sesegera mungkin.
"Baik Pak! Tolong bapak isi form nya untuk pelaksanaan operasi pasien Raisya. Bapak beneran temannya?" Petugas bertanya untu meyakinkan dirinya bahwa Jacky adalah wali pasien.
"Iya pak! Bapak boleh bawa KTP saya untuk ditahan disini" Jacky menawarkan KTP nya untuk dijadikan jaminan.
"Iya baik Pak! Saya akan kopi dulu ktp bapak." Petugas itu sangat hati-hati sekali. Dia berusaha mentaati peraturan rumah sakit.
"Nih KTP saya!" Jacky menyodorkan KTP-nya sebagai bahan pelengkap prosedur yang diminta rumah sakit.
"Wah bapak lahir di Amerika ya?" Petugas itu seperti kagum melihat identitas Jacky.
"Memangnya kalau lahir di sana kenapa?" Jacky balik bertanya.
"Bapak lancar bahasa Indonesia nya." Jawab petugas administrasi sambil mengkopi KTP-nya Jacky.
__ADS_1
"Saya juga lancar bahasa Inggris. Mau coba?" Jacky menatap serius wajah petugas administrasi.
"He he engak pak! Ampun! Kalau saya bisanya yes no doang pak. Kalau bapak pantes aja lancar bahasa Inggris nya toh lahir di sana kok. Bapak juga bule tulen ya?" Giliran petugas administrasi sekarang yang kepo an.
"Ada juga yang lahir di sana bule tulen malah tapi gak lancar bahasa Inggris nya." Jawab Jacky.
"Wah masa sih pak?" Wajah petugas itu nampak serius menanggapi omongan Jacky.
"Iya beneran. Orang bule yang gagu." Jacky menahan tawanya.
"Ha ha ha bapak bisa aja!" Petugas itu tertawa lebar mendengar candaan Jacky.
"He he hati-hati pak! Ketawanya jangan keras-keras ini udah malem. Ntar pas saya pergi ada yang ngajak ngobrol bapak pake bahasa Inggris lho!" Jacky memperingati petugas itu sambil menahan tawa dalam hati.
"Wah masa sih pak? Siapa gitu pak?" Dengan wajah polosnya petugas itu kembali tertipu.
"Hantu bule pak!" Kali ini Jacky yang malah tertawa lebar.
"Ih si bapak ada aja! Udah temennya sakit serius juga masih bisa ketawa!" Keluh petugas administrasi pada Jacky.
"Mana suratnya?" Perawat tadi datang lagi setelah tadi membawa Ratna dengan kursi roda ke ruang perawatan. Sekarang dia mau mengambil surat persetujuan keluarga atau wali pasien.
"Ini!" Petugas administrasi menyodorkan kertas perjanjian antara wali pasien bersama pihak rumah sakit.
"Sebenarnya teman saya Raisya kenapa pak?" Jacky penasaran tentang keadaan Raisya.
"Tadi ditemukan oleh salah satu pegawai kami tergeletak di belakang rumah sakit. Keadaannya sih sudah pingsan dan babak belur. Gak tahu kenapa. Karena gak ada yang tahu. Di area itu memang jauh dari jangkauan CCTV.
"Untuk lebih lanjutnya bapak bisa bicara langsung dengan dokternya. Tapi sekarang sudah masuk ke ruangan operasi. Bapak mungkin bisa menunggu di ruangan teman bapak yang barusan pingsan." Terang petugas pada Jacky.
"Iya saya akan menunggu di sana. Terima kasih ya pak! Hati-hati dengan hantu bule nya pak!" Jacky terkekeh menggoda petugas itu.
"Iya gak apa-apa. Kalau yang jadi hantunya bapak sendiri. Saya gak takut yes no." Petugas itu membalas candaan Jacky.
Jacky berjalan ke arah ruangan dimana Ratna dirawat.
"Kenapa dok?" Jacky menanyakan keadaan Ratna
"Dia kelelahan saja. Mungkin terkejut juga. Dilihat dari nadinya lemah sekali."
__ADS_1
"Saya sudah memberi infusan juga suntikan vitamin buat dia. Biarkan dia istirahat!"
"Terimakasih dok!"
"Iya sama-sama." Dokter berlalu dari ruangan.
Ratna tertidur setelah mendapatkan infusan. Jacky duduk di sofa. Rasa kantuk menyerang Jacky karena hari memang sudah larut malam. Tak terasa Jacky tertidur di sofa.
###
Sementara Di rumah sakit lain yang ada di Jakarta tempat Michel dirawat. Tangan Nathan tak lepas dari tangan Michel. Dia menggenggam Michel dengan lembut.
"Daddy.. " Michel memanggil Nathan dengan lirih. Suara anak kecil itu begitu menyayat hati melihat keadaannya yang tergeletak lemah tak berdaya dengan beberapa perban.
"Apa sayang.. Kamu bangun Michel?" Nathan langsung berdiri mendekati wajah Michel lalu mencium keningnya yang dibalut perban.
"Daddy.. kita dimana?" Mata Michel mengedar meneliti sekeliling ruangan.
"Kita sekarang sedang di rumah sakit sayang.. " Nathan tersenyum.
"Daddy cape ya?" Anak kecil itu menatap sendu wajah ayahnya.
"Tidak. Daddy tidak cape sayang... " Nathan berusaha memyembunyikan fakta sebenarnya.
"Daddy.. Michel haus." Michel meminta Nathan air minum.
"Baik.. Daddy ambilkan ya. Sebentar." Nathan berjalan mendekati meja dan mengambil air minum untu Michel.
"Nih! Sedot pelan-pelan sayang!" Nathan mendekatkan sedotan minuman ke bibir Michel.
"Daddy.. tadi aku mimpi." Michel terlihat bersemangat. Sejenak dia melupakan rasa sakit yang ada di sekujur tubuhnya.
"Mimpi apa sayang? Kok keliatannya seneng banget." Nathan tersenyum manis. Ketampanannya ketara sekali ketika dia tersenyum tulus.
"Michel mimpi bertemu tante tadi di mimpi. Tapi.. kok tante kayak mumi daddy.. "
"Maksudnya kaya mumi bagaimana sayang?"
"Itu.. badannya dibungkus perban semua. Michel pernah liat film mumi di tivi badannya kaya gitu daddy."
__ADS_1
"Namanya juga mimpi. Mungkin Michel pas waktu nontonnya serius. Jadi keingengetan sama mumi deh!" Nathan berusaha menghibur Michel.
"Daddy.. kenapa tante Raisya ketakutan lihat Michel? Michel gak baik ya?"