
"Maafkan papa sayang.. " Baron melihat Nuri sesenggukan di bangku sebelahnya. Dia mengusap pucuk kepalanya dengan perasaan sakit. Dia paling tidak tega melihat putri keduanya ini menangis. Solah dia sedang melihat mendiang istrinya yang sedang bersedih.
"Maafin papa sayang.. papa.. sayang kamu. Makanya papa bela-belain sampai membawa kamu kesini. Tante Raisya ada di depan. Dia sedang piknik di kebun binatang bersama keluarga nya. Makanya papa membawa kamu kesini." Terang Baron sambil memegang setir sebelah tangan kanannya dan tangan kirinya memegang bahu Nuri.
Nuri yang mendengar bahwa Raisya ada di kebun binatang langsung menghentikan tangisnya dan menoleh ke arah Baron ayahnya.
"Benarkah?" Lirih Nuri sambil bibir bergetar. Entah kenapa anak itu begitu merindukan Raisya padahal mereka baru bertemu ketika sakit saja. Tapi kedekatannya seolah seperti sudah lama bertemu.
"Iya.. tadi tante Raisya bilang dia sedang berkunjung kesini. Makanya papa bawa kamu kesini untuk bertemu dengannya. Sebaiknya kamu sekarang menikmati kebun binatang dulu ya!" Ucap Baron membujuk Nuri.
Nuri pun mengangguk. Lalu Baron menyeka air mata putrinya dengan tisu yang sudah tersedia di atasnya.
Nuri dan Imelda pun kini kembali ceria menikmati kebun binatang yang lumayan cukup luas setelah tahu tujuannya datang ke kebun binatang. Kedua anak perempuan itu memang belum pernah diajak ayahnya ke tempat itu selain mall dan tempat-tempat makan saja. Selama ini ayahnya selalu sibuk bekerja dan tidak tahu keinginan anak-anak biasanya bermain. Ternyata mengunjungi tempat seperti ini selain menyenangkan juga memberi pengalaman tersendiri.
Kling
Sebuah notifikasi datang di handphone Baron. Dia segera membuka pesan yang masuk. Ternyata sesuai dengan dugaannya bahwa pesan itu datang dari Raisya. Dia memberitahu keberadaannya sekarang yang sedang berkumpul di tempat makan.
"Anak-anak lapar tidak?" Tanya Baron pada kedua putrinya.
"Nuri lapar pa." Anak itu tak lagi merengek.
"Imel?" Baron menunggu jawaban Imelda putri sulungnya.
"Lumayan." Jawabnya datar sambil sibuk memfoto objek kebun binatang sejak tadi.
"Ya udah. Habis dari sini kita makan ya!" Ucap Baron mengikuti langkah Raisya yang sedang berada di sebuah area tempat makan. Baron berharap pertemuannya kali ini, bisa mengakrabkan dua keluarga.
Tak lama kemudian Baron memarkirkan mobilnya. Dan mereka bertiga pun turun dari mobil untuk mengisi perutnya di tempat rest area yang ada di kawasan tempat wisata itu.
Baron merogoh benda pipihnya mencoba menghubungi Raisya.
__ADS_1
"Halo.. kamu sebelah mana?" Tanya nya sambil berjalan dan netranya mencari-cari keberadaan Raisya.
"Aku sebelah sini, di dekat kolam." Raisya melambaikan tangannya sambil berdiri setelah melihat Baron dengan kedua putrinya.
Baron yang melihat Raisya pun lantas mengangguk dan mematikan handphonenya.
Jacky yang duduk bersama di meja yang sama agak mengerutkan dahinya. Kenapa bisa laki-laki itu alias atasan Raisya bisa mendatangi tempat yang sama. Sungguh kedatangannya membuat hatinya bergemuruh dilanda cemburu.
Setelah Baron mendekat dia tersenyum pada semua orang sambil memberi hormat sebagai sopan santun. Tapi pandangannya begitu terganggu ketika melihat seorang laki-laki yang sedang menatapnya tajam seolah melemparkan permusuhan. Tak lain dia adalah Jacky.
"Oh iya kenalkan ini atasan saya namanya pak Baron. Ini kedua putrinya namanya.. Imelda.. dan yang satu lagi namanya.. " Belum juga Raisya menyebutnya Nuri langsung berteriak lantang.
"Aku Nuri.. senang bertemu dengan kalian..." Anak itu begitu semangat memperkenalkan dirinya di depan banyak orang.
"Hhh... siapa juga yang senang.." Celetuk Jacky tanpa mengindahkan orang-orang yang akan menatapnya aneh.
Michel langsung menoleh pada Jacky. "Ayah.. " Michel langsung menegur sikap Jacky yang tidak sopan dan bisa menyinggung perasaan orang yang baru saja datang.
"Oh.. tidak.. tidak. Kami malah senang kok!" Anwar langsung menyapanya agar suasana tidak tegang. Dia berusaha membuat senyaman mungkin.
"Ayo duduk! Tadi kakak saya sudah bilang kok! Kalau bakal kedatangan bosnya." Anwar segerakan berdiri dan menyiapkan kursi untuk mereka bertiga.
"Terima kasih." Ucap Baron pada Anwar.
"Sama-sama. Kenalkan saya Anwar, yang di sana istri saya Aisyah, nah yang tampan ini namanya Arsel dan yang cantik jelita namanya Michel dan.. beliau pak Jacky adik iparnya mbak Raisya." Ucap Anwar tanpa canggung canggung mengenalkan mereka semua. Untuk mengakrabkan semua orang yang baru bertemu.
"Sekaligus mantan suaminya Raisya." Ketus Jacky, dia tak ingin laki-laki itu tahu statusnya hanya adik ipar tapi menambahkan satu statusnya yaitu mantan suaminya. Memang tak tahu malu.
"Ish.. ayah... " Lagi-lagi Michel merasa malu atas sikap Jacky yang arogan dan tak bisa menjaga sikap.
"Memang benar kan mama kamu itu mantan istri ayah? Gak salah ngomong kan?" Sikap Jacky malah menjadi.
__ADS_1
"Bisa gak diam?" Raisya sedari tadi menahan marah akhirnya marah juga pada Jacky yang sudah keterlaluan.
"Sudah.. sudah.. mending kita makan ya!" Anwar sebagai penengah berusaha menetralisir keadaan agar tidak jadi tontonan gratis juga tidak nyaman dilihat anak-anak.
"Ya ini buku menunya.. " Aisyah membantu suaminya meredakan hawa panas yang ada di meja itu dengan membagikan daftar menu yang tadi diberikan pelayan.
"Ayo.. siapa duluan yang mau pesan? Biar ammah yang menulis pesanan." Aisyah sengaja menjadi juru tulis menunggu tiap orang mengajukan pesannya.
"Tante.. aku mau ec klim." Arsel malah memesan menu yang tidak ada di dalam daftar buku menu.
"Oh.. Arsel mau es krim? Ayo.. paman belikan?" Tiba-tiba Baron menawarkan diri untuk membelikan es krim yang ada di supermarket di dekat restoran.
"Arsel.. makan es krim nanti setelah makan nasi selesai! Baru boleh beli. Sekarang tidak boleh!" Jacky dengan sorot mata yang tajam melihat Arsel juga Baron. Bukan hanya melarang tapi lebih tidak mau Baron terlalu dekat dengan Arsel.
Arsel tertunduk setelah Jacky melarangnya membeli es krim. Anak sekecil bisa juga sakit hati ditegur kasar di depan banyak orang. Untung Arsel tidak mengamuk.
"Mmm.. Arsel haus ya?" Raisya yang duduk di samping Arsel langsung bertanya. Biasanya anak itu kalau haus larinya ke es krim.
Arsel menganguk mengiyakan.
"Ya udah mama.. pesankan jus lemon dingin bagaimana?" Raisya berusaha menghibur Arsel yang sedang tertunduk sedih.
Arsel tak berani menolak. Dia mengangguk kembali.
"Ma.. aku juga mau.. " Nuri mengajukan keinginan yang sama dengan Arsel. Membuat semua orang tertuju pada anak perempuan itu. Bukan tentang pesanannya tapi mengenai panggilannya pada Raisya.
"Ini mama.. aku. Kenapa kakak Nuri memanggil mamaku dengan mama juga?" Arsel yang sedang tidak semangat pun melayangkan protes ada yang menyebut ibunya dengan panggilan mama.
"Mmm.. " Raisya bingung menjawab begitupun Baron yang agak segan bingung menjawab.
"Ga pa-pa Arsel.. kak Michel juga kan manggil bunda jadi mama.. kakak pinjem mama kamu selama ini. Kalau kak Nuri memanggil mama kita dengan mama... berarti mama kita orang baik. Mungkin mama Raisya mirip mamanya kak Nuri. Bukankah begitu Nuri?" Tanya Michel menutupi malu keluarga Baron. Untung Michel cerdas dalam menjawab di saat orang dewasa bingung untuk menjawab.
__ADS_1