Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Apa kamu Ragu


__ADS_3

Jacky mencari supermarket terdekat. Lalu membeli sebungkus rokok dan beberapa camilan. Dia duduk di teras supermarket lalu mulai menyalakan rokoknya.


Padahal dia sudah lama sekali tidak merokok. Entahlah malam itu perasaannya seperti mumet. Dia menyesap rokoknya dengan perlahan seiring nafasnya yang menarik udara lalu membuang asap itu ke udara menjadi sebuah kepulan udara berwarna putih. Karena tenggorokannya kering sesekali dia menenggak minuman dingin yang dibelinya di supermarket.


Tak terasa satu bungkus rokok habis dalam sekejap tapi pikirannya masih saja rumit seperti benang kusut. Jadi kepulan rokok tak yang dianggapnya teman tak mampu merubah sedikit pun benang kusut dalam pikirannya. Sungguh aneh bukan, bagi para perokok yang membutuhkan teman yang satu ini.


Antara sedih, kesal juga marah bercampur menjadi santu yang sedang bergumul dalam pikirannya.


Ya Jacky.. merasa dirinya takut kehilangan, juga tidak percaya diri bahwa dirinya akan mendapatkan Raisya kembali setelah melihat ada saingan yang cukup bisa menawan hati seorang perempuan, siapa lagi kalau bukan dokter Ferdi.


Penampilan dokter Ferdi selain tampan dia juga mempunyai inner yang kuat, jadi tak salah kalau Jacky sangat takut akan satu pesaing ini. Dokter Ferdi yang notabene peneliti dibidang pengobatan alternatif pastinya tahu cara merawat dirinya agar tampil sehat juga menarik.


"Apa benar aku jahat Ra?" Kalimat itu terngiang-ngiang terus di pikiran Jacky.


"Apa benar aku mirip Nathan?" Jacky pun sedang mengingat-ngingat perbuatannya dan membandingkan dengan perbuatan Nathan.


"Benar...mungkin aku tak pantas kamu pilih Ra.. Aku memang jahat. Makanya sampai saat ini kamu tidak pernah tertarik padaku. Apakah aku mesti meninggalkan kamu Ra? Ah.. aku tak bisa Ra.. aku tak mau kamu dekat dengan laki-laki manapun. Tapi... kalau begitu.. aku jahat ya sama kamu? Apa aku mesti tutup mata tutup telinga melihat kamu dekat dengan yang lain? Ah..sejak kapan aku gampang menyerah seperti ini? Aku tetap akan dekat dengan kamu Ra...apapun yang terjadi aku tidak boleh menyerah dengan mudah" Jacky hanya bicara sendiri. Mungkin minuman yang dibelinya memang mengandung alkohol sehingga dia meracu tanpa sadar.


Di lain tempat Raisya membalikkan badan setelah tadi mendengar pintu dibuka Jacky.


"Kemana tuh orang? Apa dia tersinggung mendengar aku bicara seperti itu? Atau.. mungkin dia pulang?" Raisya melihat ke arah pintu. Raisya sebenarnya tidak bermaksud untuk menyakiti perasaan Jacky. Cuman kadang Jacky orangnya terlalu posesif dan terlihat tidak dewasa.


Krekk


Pintu terbuka. Dokter Ferdi ditemani perawat sudah membawakan makan malam untuk pasien.


"Makan dulu ya bu Raisya! Biar trombositnya tidak turun banyak." Perawat menaruh nampan berisi tim yang sudah dikuah dengan campuran kaldu juga sayuran. Di sana juga ada susu dan puding.


"Biar saya aja ya Sus yang suapin!" Dokter Ferdi yang sudah berganti pakaian duduk di kursi di tepian ranjang siap-siap untuk membantu Raisya. Dilihatnya sekeliling kamar itu, dokter Ferdi tidak melihat Jacky. Itu kesempatan buat dokter Ferdi untuk pdkt pada Raisya.


"Oke." Perawat itu tersenyum.


Pasien spesial rupanya.


Perawat itu hanya bisa mengantarkan makanan dan membiarkan dokter Ferdi menyuapi Raisya.

__ADS_1


"Kamu udah shalat Raisya?" Tanya Dokter Ferdi.


"Sudah. Tadi setelah adzan aku langsung shalat." Jawab Raisya sambil melihat ke arah dokter Jacky.


"Mmm.. sekarang makan dulu ya! Mumpung masih hangat tim nya." Dokter Ferdi mengambil air putih lalu menyodorkan pada Raisya.


Raisya menggeserkan tubuhnya dan duduk dengan bersandar pada bantal.


"Biar sama saya aja dok!" Raisya tidak ingin merepotkan dokter Ferdi.


"Gak pa-pa.. cuman nyuapin doang kok. Kamu duduk aja!" Dokter Ferdi mengambil kembali gelas yang baru diminum Raisya lalu menyimpannya di atas nakas. Lalu mengambil tim dan siap menyuapi Raisya.


"Mmm.. biar saya sendiri dok! Saya tidak mau nanti ada salah faham." Ucap Raisya khawatir perlakuan khusus dokter Ferdi menimbulkan masalah.


"Kenapa? Takut sama Jacky?" Tanya dokter Ferdi penasaran.


"Ya.. salah satunya." Jawab Raisya tidak bisa mengalahkan Jacky seratus persen. Bisa jadi para pekerja medis di klinik itu pun akan menggunjingkannya.


"Ya sudahlah! Habiskan ya!" Dokter Ferdi tidak mau memaksakan diri pada Raisya. Dia menyodorkan mangkuk berisi tim pada tangan Raisya. Dia memasang meja lipat agar memudahkan Raisya menaruh mangkuk juga air minumnya.


"Mmm.. " Dokter Ferdi melihat Raisya lekat.


"Kenapa dokter melihat saya seperti itu?" Raisya agak tidak nyaman ketika dokter Ferdi melihatnya dengan pandangan berbeda.


"Tidak apa-apa. Pengen saja." Dokter Ferdi tersenyum.


"Oh.. iya. Bolehkah aku bertanya Raisya?" Dokter Ferdi ingin mulai mencari informasi mengenai Raisya.


"Iya dok." Jawab Raisya sambil menyuap kembali nasi timnya.


"Mmm... laki-laki yang tadi adik dari mendiang suamimu?" Dokter Ferdi meski bekerja di rumah sakit milik tuan Robert tapi dia tidak terlalu tahu detai tentang keluarga pemilik beberapa perusahaan itu.


"Iya." Jawab Raisya singkat.


"Dia belum punya istri?" Tanya dokter Ferdi.

__ADS_1


"Pernah." Jawab Raisya pendek.


"Maksudnya dia pernah menikah, dan sekarang seorang duda?" Dokter Ferdi mencoba menebak.


"Iya."


"Istrinya meninggal juga?" Biasanya dokter Ferdi tidak terlalu kepo untuk urusan gosip. Tapi kali ini dia begitu semangat untuk mencari identitas Raisya yang sebenarnya.


"Tidak. Dia masih ada." Jawab Raisya agak heran, kenapa dokter Ferdi bertanya tentang Jacky.


"Mmm.. jadi mereka bercerai? Kenapa?" Dokter Ferdi tidak bisa menutupi rasa penasarannya.


"Ya.. begitulah. Kenapa dokter bertanya tentang Jacky?" Sekarang Raisya balik bertanya pada dokter Ferdi.


"Tidak.. aku hanya.. "


"Hanya apa?" Raisya menghentikan sendoknya.


"Mmm.. aku melihat dia sangat posesif padamu Raisya. Apa dia menyukaimu?" Tanya dokter Ferdi.


"Sejak kapan seorang dokter menanyakan tentang pernikahan orang lain? Seperti petugas KUA saja!" Ucap Raisya mengambil air minumnya.


"Sejak aku menyukaimu Raisya. Aku.. suka kamu." Ucap dokter Ferdi tidak mau keduluan oleh Jacky.


"Ha ha ha... " Raisya tertawa. Padahal tidak ada yang lucu. Hal itu membuat dokter Ferdi salah tingkah.


"Kenapa tertawa?" Dokter Ferdi heran melihat sikap Raisya yang menertawakannya.


"Lucu saja.. secepat itukah anda menyukai saya? Ah.. Jangan-jangan saya korban sang playboy darat?" Raisya menahan senyumnya takut dokter Ferdi tersinggung.


"Memangnya kamu senang di php ya?" Tanya dokter Ferdi.


"Ya.. enggak juga sih. Cuman saya tuh merasa tersanjung. Apalagi status saya janda beranak dua." Raisya tak mau memberikan harapan palsu pada dokter Ferdi apalagi dokter Ferdi bukan orang sembarangan.


"Apa.. kamu ragu padaku Raisya?"

__ADS_1


__ADS_2