
Raisya memesan makanan sesuai selera, porsi makannya memang tidak bisa banyak. Apalagi sedang hamil muda mudah mual dan muntah jika mencium bau masakan yang berbau tajam.
"Mbak mau pesan itu saja?" Aisyah sedang menunggu Raisya, Aisyah menunggu jikalau Raisya ingin memesan yang lainnya.
"Mmm. Itu juga gak yakin habis." Raisya menyudahi pesanannya.
"Ya udah kalau begitu. Saya pesankan." Anwar pergi ke bagian kasir sambil membayar pesanan, lalu kembali duduk di sebuah kursi yang terpisah dengan Aisyah juga Raisya.
Tak lama kemudian pesanan pun datang, pelayan pun datang mengantarkan pesanan.
Mereka mulai mengambil menu masing-masing sesuai pesanan. Aisyah dan Anwar begitu lahap menikmati pesanannya, berbeda dengan Raisya. Perlahan-lahan Raisya menelan ayam bakar pesanannya setelah mengunyah terlebih dahulu.
"Maaf mbak mau ke toilet dulu." Wajah Raisya menahan sesuatu lalu menutup mulutnya.
"Perlu diantar mbak?" Tanya Aisyah yang tahu kebiasaan Raisya yang suka mual muntah ketika makanannya tidak cocok di perut.
Raisya hanya menggelengkan kepalanya, lalu pergi menjauh dari tempat makan mencari toilet untuk memuntahkan isi perutnya.
Brukk
Raisya menabrak seseorang yang baru saja keluar dari toilet karena terburu-buru. Raisya tidak meminta maaf karena dalam mulutnya penuh sesuatu yang ingin dia keluarkan.
"Gak sopan banget sih!" Perempuan yang baru keluar dari toilet merasa tersinggung dengan sikap Raisya yang tidak meminta maaf ketika menabraknya.
Uwek.. Uwek.. Uwek
Suara muntahan Raisya mulai terdengar jelas di telinga perempuan itu. Dia menggidikkan bahunya karena jijik. Dia yang sedang memperbaiki riasannya di depan wastafel buru-buru karena gak tahan mendengar orang yang sedang muntah.
"Nyebelin banget." Sherly menggerutu setelah keluar dari toilet. Berbarengan itu Jacky pun keluar dari toilet khusus pria. Dia mendengar gerutuan Sherly yang baru saja keluar dari toilet khusus wanita.
"Kenapa?" Tanya Jacky heran.
"Tau, barusan ada yang menabrak aku di toilet, tapi dia sama sekali tidak meminta maaf. Apalagi dia main serobot aja masuk ke toilet." Ucap Sherly masih kesal.
"Oh ya?" Jacky melirik ke pintu toilet wanita.
"Udah kita ke tempat makan saja! Keburu mood aku nya jelek." Ajak Sherly masih membayangkan seseorang yang barusan muntah di dalam toilet.
Keduanya pun melangkah pergi lalu duduk di cafe terdekat.
"Kamu mau pesan apa?" Sherly menyodorkan menu ke hadapan Jacky.
"Kamu saja dulu. Aku ingin merokok dulu." Ucap Jacky mengeluarkan kotak rokok dari dalam sakunya dan mulai menyalakan rokok nya.
"Mas.. aku mau menyusul mbak Raisya ya!" Ucap Aisyah yang tidak nyaman ada yang merokok di dekat nya. Kebetulan angin berhembus ke arah Aisyah duduk.
"Mmm.. mas tunggu di parkiran ya." Begitu pun Anwar dia memang tidak terbiasa dengan asap rokok. Keduanya sudah selesai makan dan hendak meninggalkan tempat itu untuk pulang.
__ADS_1
Biasanya setelah Raisya muntah, dia jarang mau makan kembali. Aisyah menyusul ke toilet wanita untuk mengajak Raisya pergi.
Begitu masuk ke dalam toilet, Aisyah tidak melihat Raisya.
"Mbak.. mbak.. " Aisyah memanggil-manggil Raisya tapi tak ada sahutan.
Aisyah mencoba membuka pintu toilet satu persatu tapi kosong. Ada satu toilet yang pintunya rapat terkunci. Aisyah mendekati pintu itu lalu mengetuknya.
"Mbak Raisya.. mbak.. mbak Raisya." Aisyah mengetuk pintu sambil memanggil Raisya. Tapi pintu itu tak kunjung terbuka.
Deg
"Jangan-jangan mbak Raisya pingsan di dalam?" Lirih Aisyah menerka-nerka.
Dia langsung menggedor dengan gedoran yang lebih keras sambil memanggil nama Raisya. Tapi pintu toilet tak juga terbuka.
Dengan hati berdebar-debar, Aisyah langsung mengambil handphone miliknya.
"Mas tolong! Mbak Raisya sepertinya pingsan di dalam toilet." Aisyah dengan bibir bergetar menyampaikan apa yang diduganya.
"Apa?" Anwar sontak kaget mendengar Raisya pingsan di dalam toilet.
"Iya mas. Cepat kesini! Aisyah bingung mau buka pintunya." Aisyah dengan raut kebingungan meminta suaminya cepat datang.
"Mmm..baik. Mas segera kesana." Anwar pun turun dan keluar dari mobilnya. Lalu berlari ke arah cafe.
"Tinggal kamu Jack." Jawab Sherly menyodorkan kertas.
"Samain aja sama kamu!" Jacky seperti malas untuk memilih menu.
Sherly pun menuliskan menu tambahan yang sama dengannya di kertas itu lalu menyodorkannya pada Jacky.
Jacky berdiri dan membawa kertas itu ke kasir sambil membayarnya.
Anwar dengan nafas terengah-engah menghampiri meja kasir juga. Tujuannya ingin meminta bantuan pada pegawai cafe.
"Maaf mas.. saya mau minta bantuan. Kakak saya pingsan di dalam. toilet." Anwar dengan nafas tersenggal menyampaikan maksudnya.
"Pingsan?" Jacky yang berada di depan kasir ikut kaget.
"Iya." Jawab Anwar singkat sambil meraba dadanya yang terasa sakit karena berlari.
"Kalian punya kunci cadangan atau alat untuk membongkar pintu?" Jacky bertanya pada pegawai cafe.
"Kami harus mencarinya dulu mas." Jawab pegawainya.
"Wah.. lama. Ayo kita lihat ke sana langsung!" Ajak Jacky pada Anwar.
__ADS_1
"Ayo mas." Anwar dan Jacky pun berlari ke arah toilet wanita.
"Aisyah." Anwar melihat Aisyah di depan pintu toilet
"Mas." Terlihat wajah cemas di mata Aisyah.
"Kalian minggir! Biar aku dobrak pintunya." Jacky segera mengambil ancang-ancang untuk menendang pintu toilet.
"Maaf mas.. ini kuncinya." Seorang pelayan cafe untung cepat datang. Kalau tidak pintu toilet mungkin akan rusak ditendang Jacky.
"Ah.. untung anda cepat datang." Ucap Anwar langsung mengambil kunci dan tak sabar ingin membuka toilet.
Klekk
Pintu terbuka, tapi tidak bisa terbuka lebar, karena seperti terganjal.
"Pintunya susah kebuka bagaimana ini?" Anwar bingung.
Keadaan toilet yang hanya masuk satu orang menyulitkan pertolongan darurat ini.
"Coba carikan tangga! Ada yang harus naik ke atas dan turun ke bawah untuk menggeser tubuh korban.
"Baik." Pelayan tadi langsung pergi untuk.bawa tangga agar bisa naik ke atas tembok pembatas antar toilet.
"Yang di dalam sana kakak anda?" Tanya Jacky. pada Anwar.
"Iy.. iya." Jawab Anwar gugup.
"Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan kakak anda. Apa dia sedang sakit?" Tanya Jacky penasaran.
"Mmm.. dia sedang hamil." Jawab Aisyah pelan.
"Apa hamil?" Jacky terhenyak kaget.
"Iya mas. Duh mana sih tangganya?" Ucap Anwar gelisah.
"Kita gendongan saja. Bagaimana? Khawatir terlalu lama malah kakak anda kenapa-kenapa.
"Boleh."
"Ini mas tangganya!" Dua orang pelayan mengangkat tangga alumunium membawanya ke dalam toilet.
"Alhamdulillah.. tangganya keburu datang." Anwar bisa bernafas dengan lega.
Setelah tangga terpasang, Anwar naik ke atas tangga.
"Aisyah kamu pergi ke mobil! Siapkan mobil." Anwar menyuruh istrinya. Dia baru teringat kalau. nanti dia menggendong Raisya, siapa yang akan membukakan pintu. Anwar pun melemparkan kunci pada Aisyah.
__ADS_1