Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Michel celaka


__ADS_3

Dilain tempat, Michel menangis ketika Raisya lari dari foodcourt. Tangisannya itu bikin seantero dunia jadi goyah. Tahukan jeritan Michel yang mirip penyanyi rok dengan oktaf paling tinggi. Ini anak seperti punya senjata Ak45 jika sudah mengeluarkan jurus tangisan mautnya.


"Sayang... jangan menangis.. malu dilihat orang-orang! Babysitterya berusaha menenangkan Michel. Tatapan orang-orang di sekitar Michel begitu menakutkan. Mereka merasa risih dengan tangisan Michel yang begitu keras dan mengganggu pendengaran mereka.


"Mbak bawa donk anaknya keluar! Ini kuping sakit mendengar anak itu." Ada salah satu pengunjung yang memprotes tangisan Michel. Baby Sitter nya lalu membungkukkan badan sebagai permintaan maaf pada para pengunjung. Beberapa orang ada yang mendengus kesal akan keributan yang disebabkan tangisan Michel


Babysitter yang bernama Ina segera membereskan meja dan membawa tas berisi kebutuhan Michel. Tapi begitu melihat ke arah Michel, ternyata anak itu sudah tidak ada di tempatnya. Ina panik. Pandangannya mengedar di sekitaran foodcourt mencari Michel.


"Ya ampun Michel.. " Ina bergumam sambil melangkah mencari Michel. Perasaannya dipenuhi kecemasan mencari keberadaan Michel.


"Ya Allah.. Michel... Michel.. Michel." Ina berteriak-teriak memanggil Michel diantara lautan pengunjung. Tapi yang dipanggil tak juga kelihatan batang hidungnya. Padahal kalau Michel menangis seperti tadi, ada kemungkinan Ina cepat menemukannya.


Sepertinya Michel berhenti menangis dan menyusul Raisya pergi.


"Aduh bagaimana ini? Apa aku harus melapor pada pak Nathan?" Ina berbicara sendiri dengan perasaan bercampur aduk. Antara cemas dan takut.


Ina akhirnya menelpon Nathan. Apapun yang terjadi Ina harus siap menerima resiko, karena telah menyebabkan Michel menghilang.


'Halo pak Nathan." Suaranya terdengar gugup.


"Iya Halo." Suara Nathan terdengar seperti datar, , dingin dan sinis.


"Maaf Pak.. Michel... Michel.. " Ina berbicara tergagap. Seketika itu pula air matanya tak kuasa keluar, jatuh meleleh di pipi.


"Bicara yang bener Ina!" Nathan membentak. Membuat jantung orang yang ada di sekeliling Nathan meloncat karena kaget.


"Michel pak.. Michel hilang." Ina berbicara sambil terisak.


"Apa? Hilang?" Suara Nathan meninggi membuat telinga yang mendengarnya berdiri, menjauhkan pesawat itu dari telinganya.


"Kamu sekarang dimana? Cepat katakan!" Nathan membentak lawan bicaranya. Dia sudah tak menghiraukan lagi siapa yang ada disekelilingnya. Pikirannya benar-benar kalut mendengar Michel menghilang. Dia bergegas keluar galeri dengan langkah setengah berlari sambil memegang handphone.

__ADS_1


"Kamu selesaikan pekerjaan secepatnya! Aku akan menyusul pak Nathan." Perintah Reza pada Ratna. Ratna hanya melongo melihat sikap Nathan dan juga Reza.


Ada apa dengan mereka? Siapa yang hilang? Apa Michel anaknya pak Nathan? Waduh gawat!


Ratna hanya berbicara sendiri dalam hati. Lalu tanpa menunggu, dia langsung mempercepat kerjanya. Khawatir tiba-tiba Nathan langsung pergi dan meninggalkan pekerjaannya. Nanti Ratna juga yang akan kerepotan mengurus pekerjaan.


Sementara itu Nathan dan Reza sudah bertemu dengan Ina. Dia menangis tak tahu apa yang harus diperbuat


"Kenapa kamu bisa kehilangan Michel?" Nathan bertanya sambil mengambil nafas. Nafasnya terengah-engah dan dadanya terasa sesak karena harus berlarian.


"Tadi Michel melihat bu Raisya. Begitu Michel memanggil bu Raisya, dia malah berlari. Michel tadi menangis pak sampai pengunjung mengusir saya. Saya tadi membereskan meja dan tas Michel dulu. Pas dilihat Michel sudah tidak ada. Mungkin mengejar bu Raisya." Terang Ina menceritakan kejadian hilangnya Michel.


"Sebaiknya pak Nathan laporan dulu ke pihak security. Biar saya dan mbak Ina mencari terpencar. Kalau nanti bapak ada informasi bisa telepon saya!" Saran Reza yang langsung cepat tanggap.


"Baiklah. Semoga Michel segera ditemukan!" Nathan berbicara dengan wajah cemas. Dia sangat khawatir, takut ada penculik atau ada apa-apa dengan Michel.


Ketiganya berpencar mencari Michel. Nathan laporan pada security mall. Lalu dia mendatangi bagian keamanan yang bisa memantau dari semua CCTV mall.


Lalu netranya menangkap satu gambar dimana seseorang terjatuh karena menabrak objek di depannya.


"Itu..Itu..itu anak saya pak. Dimana posisinya?" Nathan langsung memekik begitu melihat Michel terjatuh karena bertabrakan dengan pengunjung yang sedang berjalan di depannya.


"Baik. Bapak tenang dulu! Saya akan menghubungi beberapa security untuk mencari ke arah sana."


Kepala security langsung mengarahkan beberapa petugas ke tempat kejadian Michel. Namun naas, Michel tak ditemukan di tempat tkp.


"Maaf Pak! Anak bapak tidak ditemukan!" Kepala security mengabarkan informasi pada Nathan.


"Kok bisa? Tadi saya lihat anak saya jatuh di sana. Kok bisa tidak ada?" Nathan menatap heran pada kepala security.


"Iya dalam kamera kita bisa melihat waktunya pak. Ini 20 menit yang lalu. Kami tidak menangkap objek yang dicari setelah itu. Lihat... setelah ini anak anda tak terlihat lagi karena terhalang oleh pengunjung yang lain. Dan di beberapa CCTV juga tidak ditemukan anak anda berada." Terang kepala security pada Nathan.

__ADS_1


"Jadi bagaimana pak? Kita harus menemukan anak saya segera! Bagaimana kalau anak saya celaka?" Nathan kian panik setelah mendengar informasi dari kepala security.


"Sebentar pak. Semua mall ini ada CCTV-nya. Terkecuali ada beberapa tempat."


"Maksudnya?" Mata Nathan melihat dengan sorot mata yang tajam.


"Tadi anak anda hilang di area dekat WC juga tangga darurat. Kita akan periksa ke area itu. Di sana tidak ada kamera. Kita akan bergerak ke sana." Kepala security langsung memerintahkan kembali anak buahnya agar memeriksa tempat itu.


"Saya akan turun ke sana pak! Saya tidak mungkin tenang jika anak saya mengalami sesuatu." Nathan mengambil inisiatif ikut mencari di area sekitar Michel ditemukan.


"Mari saya antar anda pak!" Kepala security membantu Nathan mengantar ke daerah yang tadi disebut.


"Break..masuk.." Kotak penghubung security menyala.


"Break... diterima." Kepala security menerima panggilan dari anak buahnya.


"Break.. masuk. Menginformasikan anak yang dicari sudah ditemukan. Dia ada di sekitar tangga darurat terjatuh, pingsan."


"Break..diterima. Kami segera kesana. Langsung hubungi tim kesehatan untuk memeriksa!"


"Break.. masuk. Perintah siap dilaksanakan!"


"Kenapa dengan anak saya?" Nathan yang mendengar pembicaraan kepala security bertambah panik.


"Anak anda terjatuh di tangga."


"Apa?" Jantung Nathan kian berdetak tak menentu setelah mendengar Michel jatuh di tangga.


"Mari kita ke sana, semoga anak anda selamat!" Kepala security menggandeng bahu Nathan. Dia terlihat seperti linglung setelah mendapatkan kabar Michel.


Satu sisi dia merasa gembira Michel ditemukan. Satu sisi dia sangat takut jika terjadi sesuatu dengan Michel. Dia merasa menyesal telah meninggalkan Michel.

__ADS_1


Penyesalan tidak akan datang di awal bukan?


__ADS_2