Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Surat perjanjian


__ADS_3

"Raisya??" Sarah langsung berdiri dan menyebut satu nama yang baru saja hadir dalam mimpinya.


"Kenapa aku tadi bermimpi dia ya?" Sarah berbicara sendiri. Aneh saja kenapa harus dia yang masuk dalam bunga tidurnya. Bahkan Sarah tidak merasa bahwa mereka kenal dekat. Baru kali ini dia memikirkan mimpinya sendiri.


Dia bergegas ke ruangan ICU ingin melihat identitas pasien. Itu yang terbersit dari pikirannya saat ini. Tidak mungkin kepala. rumah sakit harus menginstruksikan semua dokter hanya untuk satu pasien, jika dia memang bukan orang penting.


Sewaktu membantu mengoperasi Sarah tidak memperhatikan wajah pasien juga identitasnya. Karena waktu itu dia hanya sebagai asisten senior. Ada beberapa dokter yang bertanggung jawab di bidang nya. Jadi kenapa juga dia harus direpotkan untuk tahu siapa yang ada di meja operasi.


Hanya satu yang dia hafal, bahwa pasien itu memiliki jenis darah yang sama dengan dirinya.


Entahlah tiba-tiba kali ini hatinya Sarah seolah dituntun untuk peduli pada identitas pasien. Apa karena mimpi itu? Jawabannya, entah.


"Dokter Sarah.. " Dokter jaga yang ada di ruang ICU kaget karena dia bukan dokter yang inti yang ditugaskan untuk visit. Dia mengamati Sarah dari atas sampai bawah, melihat kunjungan Sarah dengan baju yang sama ketika sedang mengoperasi pasien.


Sarah yang baru saja terbangun tidak sadar bahwa penampilannya sedang diperhatikan.


"Aku mau lihat pasien. Apakah sudah diperiksa sama dokter Aldi?" Ucap Sarah pada dokter jaga.


"Sudah dok!"


Nih.. dokter ngelidur gitu?


Karena ini tengah malam, apalagi penampilan Sarah aneh membuat dokter jaga berkomentar dalam hatinya.


Sarah mendekati pasien yang masih terbaring di atas kasur dengan wajah kaget.


"Raisya? Benarkah kamu Raisya?" Tanpa sadar Sarah berbicara.


"Dokter mengenalnya?" Dokter jaga tadi bertanya.


"Hhmm." Raisya masih menatap Raisya heran.


Apa yang sebenarnya telah terjadi Raisya? Apa kamu dianiaya lagi? Apakah separah ini dia melakukan itu padamu?


Sarah berbicara dalam hatinya. Masih menatap heran Raisya yang terbaring lemah dengan selang infus dan selang oksigen.


"Aku minta catatan medianya!" Pinta Sarah pada dokter jaga.

__ADS_1


"Baik dok!"


Tak lama kemudian dia menyodorkan catatan media Raisya pada Sarah.


"Patah tulang."


"Apa kamu mendengar laporan penyebab dari luka pasien?" Sarah karena posisinya bukan dokter inti yang menangani Raisya tidak terlalu tahu detail kondisi pasien.


"Menurut catatan medis, pasien terjatuh dari tangga sehingga beberapa tulang patah dan luka disekitar kepala." Dokter jaga menjawab sesuai catatan yang ada dalam laporan catatan media pasien.


Sarah membuka kembali catatan itu.


"Benar."


Kenapa sampai jatuh dari tangga? Apa Nathan yang membuat Raisya celaka lagi? Ini tak bisa dibiarkan!


Sarah hanya bicara dalam hati.


Dia terdiam bukan hanya memikirkan Raisya juga memikirkan nasibnya sendiri. Apa dia akan bertahan dengan nasibnya di tengah perselingkuhan suaminya, tekanan dalam keluarga dan ngerinya melihat kondisi mental keluarga Robert Alberto. Sarah dalam keadaan bimbang.


"Ambilkan sample darahnya untuk kepentingan pemeriksaan DNA." Sarah menginstruksikan pada dokter jaga juga perawat yang ada di ruang ICU.


Dokter Sarah membersihkan dirinya. Dia mengganti pakaian karena hari sudah mulai pagi. Dia harus visit dokter keliling mengontrol beberapa pasiennya.


"Aku harus menemuinya langsung." Dia menghentikan langkahnya di depan ruang kepala direktur.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!" Seseorang memerintahkan dokter Sarah masuk.


"Selamat pagi pak!" Hormat dokter Sarah.


"Pagi! Silahkan duduk!" Kepala rumah sakit mempersilahkan duduk.

__ADS_1


"Maaf Pak. Saya baru bisa bertemu dengan anda sekarang." Ucap Sarah berbasa-basi.


"Iya. Yang mau bicara sama anda bukan saya tapi pak Robert." Ucap Kepala rumah sakit.


Benar saja. Ini pasti ada hubungannya dengan mereka.


"Sebentar say telepon dulu pak Robert nya." Kepala rumah sakit yang tidak tahu hubungan sebenarnya antara Sarah dan tuan Robert sama sekali tidak mencurigainya.


"Maaf dokter Sarah. Sebentar lagi supirnya akan menjemput anda."


Mmmh.. tiap hari serumah malah jadi orang asing. Sungguh tidak habis pikir kehidupan orang kaya, hidupnya serumit ini.


Sarah menghembuskan nafas dengan kasar. Akankah dia akan mengambil keputusannya sekarang?


Tak selang berapa lama, supir tuan Robert menjemput Sarah dari rumah sakit. Entah akan dibawa kemana dirinya akan dibawa.


Hari ini Sarah tidak pulang ke rumah tapi tak ada telepon atau kabar apapun dari Adam. Rupanya hubungan mereka bertambah dingin sejak perselingkuhan Adam dari Adam.


Sarah memasuki satu ruangan yang sudah dipesan Robert. Dia duduk dengan tegang. Dia tidak tahu apa yang akan dibicarakan mertuanya kali ini. Padahal bisa saja mereka berbicara di rumah. Tapi Sarah yang sudah tahu sifat dari keluarga mertuanya yang benar tertutup jarang sekali mengajaknya duduk satu meja. Bahkan keberadaan dirinya pun dianggap seperti tidak ada.


Pintu terbuka terdengar langkah dari sepatu masuk ke ruangan. Sarah berdiri memberi hormat.


"Baca perjanjian itu!' Tuan Robert tak berbasa-basi. Seorang asistennya menyodorkan satu berkas ke hadapan Sarah.


Perlahan tangan Sarah meraih lalu membaca dengan teliti surat perjanjian itu. Dadanya mulai terasa sesak manakala dia membaca point terakhir yang ditulis di perjanjiam itu.


"Anda ingin saya menutup mulut atas identitas saya juga identitas pasien yang tadi malam saya tangani?"


"Jangan banyak bertanya, kamu tinggal tanda tangani saja!" Suaranya begitu dominan dan kentara tidak. ingin dibantah apalagi dilawan.


"Baik.. saya akan tutup mulut. Bahkan mungkin saya akan menjadi tuli atas kasus ini. Anda tak mungkin membungkam saya, kalau anda tidak khawatir dengan putra anda yang psikopat itu. Begitu bukan?"


"Jangan bicara sembarangan!" Sorot mata tuan Robert terlihat membesar dan tajam memperlihatkan ketidaksenangannya pada Sarah.


"Saya tidak takut dengan ancaman anda. Bahkan saya lebih senang menerima perjanjian ini. Tapi.. saya ingin menukar balasannya. Tak mengapa kalau izin praktek saya dicabut. Saya tidak peduli dengan hal itu. Saya ingin tutup mulut saya dibayar dengan surat perceraian dengan putra anda." Sarah akhirnya memberanikan diri mengungkapkan segala beban yang sedang menghimpitnya.


"Apa??" Intonasi bicara dari tuan Robert meninggi tak percaya bahwa menantunya berbicara seperti itu.

__ADS_1


"Kenapa anda kaget? Bukankah selama ini anda mempengaruhi Adam untuk meninggalkanku? Apalagi dia sekarang sudah menemukan wanita baru dan sebentar lagi akan membuang ku. Sebelum putra anda membuang ku, bukankah lebih baik aku pergi agar aku pun bisa menutup mulut juga atas kejadian ini."


__ADS_2