
Raisya termenung sendirian. Rasanya sangat sepi sekali tidak ada yang menemaninya di ruangan itu. Raisya mengambil handphonenya lalu menekan nomor Michel.
Beberapa nomor itu dihubungi tapi tidak juga menjawab.
"Kenapa Michel tidak menjawab panggilan apa sedang mengasuh Arsel?" Raisya hanya bergumam sendiri.
"Coba aku hubungi Ratna saja. Aku penasaran apakah tadi dia bertemu dengan Michel atau tidak." Raisya pun menekan nomor Ratna.
"Assalamu'alaikum Rat."
"Waalaikumsalam... Sya.. "
"Mmm.. bagaimana tadi ketemu dengan Michel tidak?" Tanya Raisya penasaran.
"Mmm.... kayanya sudah dijemput. Aku tadi gak ketemu Sya.. " Jawab Ratna menyembunyikan yang sebenarnya.
"Oh.. gitu ya?" Raisya terdengar kecewa.
"Kenapa Sya? Ada yang bisa gue bantu?" Ratna di seberang telepon rupanya mendengar nada kecewa dari Raisya.
"Aku telepon Michel.. tapi kok gak dijawab. Kenapa ya?" Raisya terus terang mengungkapkan isi hatinya.
"Oh.. mungkin Arsel rewel Sya. Jadi Michel gak sempet bawa-bawa handphonenya." Ratna mencari alasan.
"Oh.. mungkin juga sih. Duh kasian.. aku jadi pengen pulang cepet Rat. Kasihan Michel kewalahan pastinya kalau Arsel sampai ngamuk-ngamuk gitu." Raisya jadi teringat Arsel. Dulu sewaktu tinggal bersama Ratna, ada Irwan yang bisa menaklukkan Arsel. Sekarang baru terasa ketika sudah tidak tinggal bersama mereka.
"Do'ain aja.. semoga mereka baik-baik saja Sya. Toh mereka juga harus terbiasa untuk tidak ketergantungan pada kamu Sya. Bagaimana nanti kalau kamu nikah lagi? Kan repot elu mesti melayani suami juga anak-anak." Ucap Ratna.
"Ya.. aku harap begitu. Semoga mereka baik-baik saja. Ya udah Ratna, sorry ya aku ganggu kamu." Raisya ingin berpamitan.
"Enggak kok. Nanti aku kabari ya.. jika aku ketemu Michel." Ratna merasa kasihan juga melihat sahabatnya dibohongi. Ingin sekali dia berkata jujur. Mungkin Michel pun sama beratnya harus merahasiakan berita Jacky dari Raisya.
"Ya udah.. assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
Raisya hanya bisa menunggu hari sore. Berharap Jacky akan datang lagi. Dan dia bisa menanyakannya pada Jacky tentang anak-anak. Sebenarnya dia bisa saja menelpon tuan Robert, tapi dia merasa sungkan jika nantinya malah tuan Robert tidak mengizinkan dia bertemu dengan anak-anak. Dia tahu betul, sekarang kesempatan tuan Robert untuk mengambil mereka, jadi Raisya memilih untuk tidak membuat masalah.
"Selamat siang bu Raisya...kita kontrol dulu ya bu. Apa trombositnya bagus?" Seorang suster dan dokter masuk ke dalam ruangan. Mengambil sample darat untuk diperiksa dan menanyakan beberapa keluhan yang dirasakan Raisya.
"Saya kapan pulang dok?" Raisya penasaran ingin bertanya pada dokter kapan kepulangannya.
"Ya.. lihat dulu peningkatannya. Kalau hari trombositnya bagus, terus anda tidak ada keluhan. Berarti Anda sudah stabil. Anda boleh pulang besok atau lusa." Jawab dokter sambil memeriksa.
" Ya Mudah-mudahan bagus ya hasilnya." Dokter menyemangati Raisya.
"Aamiin.. " Jawab Raisya.
Tak terasa waktu terus berlalu. Raisya baru saja selesai melaksanakan shalat ashar. Dilihatnya jam dinding di ruangan itu.
"Sebentar lagi jam kantor bubar. Mudah-mudahan Jacky datang ke sini." Gumamnya dengan hati yang senang. Tanpa Raisya sadari kedatangan Jacky sekarang ditunggu-tunggu. Ternyata sepi juga tanpa kehadirannya di ruangan itu. Kemarin Raisya sempat kesal pada Jacky yang menurutnya posesif. Tapi sekarang malah kehadirannya ditunggu-tunggu.
Krekk
"Assalamu'alaikum.. " Dokter Ferdi melongokkan kepalanya dari balik pintu.
Dokter Ferdi sudah rapih dengan tampilan casualnya masuk ke dalam ruangan. Dia menenteng satu paper bag dan satu kresek.
"Waalaikumsalam." Raisya menjawab salam dokter Ferdi.
"Ada titipan baju dari bi Siti untuk kamu. Sama.. ini masakan bi Siti. Aku juga bawa makanan buat kamu juga." Dokter Ferdi menaruh makanan di atas nakas dan meanaruh baju ganti Raisya di lemari.
"Ayo.. mau makan? Bi Siti rupanya memasak sop iga sama puding. Dokter Ferdi menyodorkan wadah pada Raisya.
"Terima kasih." Ucap Raisya menerima wadah makanan yang baru disodorkan dokter Ferdi.
"Ayo makan! Atau mau aku suapin?" Dokter Ferdi semakin mendekatkan kursinya ke tepian ranjang agar bisa menyuapi Raisya.
"Gak usah dok. Saya bisa sendiri.' Ucap Raisya agak murung.
"Mmm.. kok murung gitu Sya? Apa ada yang sedang dipikirkan?" Ucap Ferdi menatap inten wajah Raisya. Meski tidak memakai make up, di matanya Raisya wanita paling cantik.
__ADS_1
"Gak.. " Raisya tertunduk menyembunyikan raut wajahnya.
"Sini aku suapin aja! Dokter Ferdi merebut wadah yang sedang dipegang Raisya, yang tak berniat untuk memakannya.
" Ayo Aa.. " Dokter Ferdi menyuruh Raisya membuka mulutnya. Raisya ragu-ragu membuka mulutnya menerima suapan sop iga yang telah dibuatkan bi Siti.
"Loh.. kok. nangis..?" Dokter Ferdi terkejut melihat Raisya menitikkan air mata.
"Hei.. kenapa Sya? Ada yang kamu pikirkan ya?" Dokter Ferdi menghentikan acara menyuapi Raisya.
"Aku jadi teringat mendiang suami aku kalau makan sop iga." Ucap Raisya yang teringat kesukaan Nathan sop iga.
"Ohh.. " Dokter Ferdi ber oh ria saja. Dia tidak tahu harus bicara apa pada Raisya agar suasana hatinya menjadi baik.
"Aku bahkan belum bisa memberikan yang terbaik untuk dia. Aku menyesal." Entah kenapa hatinya jadi melow.
"Doakan saja yang terbaik untuk sekarang Sya.. Karena orang yang sudah meninggal membutuhkan doa untuk meringankan dosa-dosanya. Itu yang terbaik kita lakukan untuk orang yang sudah tidak ada di dunia ini." Jawab dokter Ferdi yang sejak kecil sudah yatim piatu.
"Aku selalu terlambat dalam bertindak, dan akhirnya aku menyesal dikemudian hari." Raisya menyeka air matanya.
"Tidak apa-apa. Kamu pasti sudah berpikir keras untuk melakukan yang terbaik Raisya. Aku salut kamu bisa menikah muda dan sudah mempunyai dua anak." Ucap dokter Ferdi yang belum juga menikah karena terlalu banyak pertimbangan.
"Anakku hanya Arsel saja. Michel anak mendiang suamiku." Jawab Raisya.
"Oh.. jadi ibunya Michel?" Dokter Ferdi berhenti bicara.
"Iya.. aku bukan ibunya Michel. Tapi Michel memilih aku sebagai ibunya. Ibunya masih ada tapi tak mengakui Michel."
"Oh.. "
"Apa dokter Ferdi berubah pikiran tentang saya?" Raisya ingin menguji sejauh mana dokter Ferdi menyukainya.
"Tidak. Setiap orang punya masa lalu yang tidak bisa diubah. Begitupun aku. Aku seorang anak yatim piatu, yang tidak tahu dimana ayah ibuku berada. Sejak kecil aku hidup di panti dan itu tidak bisa hilang dari masa lalu aku. Kalaupun kamu Raisya punya masa lalu, ya biarlah. Toh kita tetap harus hidup dan melanjutkannya ke depan." Ucap dokter Ferdi.
"Tapi.. aku tak bisa punya anak lagi dokter..."
__ADS_1