
Sepasang netra sedang mengawasi dari kejauhan. Dia tersenyum simpul dimana dia melihat pemandangan yang begitu mendamaikan hatinya. Lagi-lagi mesin pendeteksi emosi di pergelangan tangannya kembali menyala berwarna pink.
Belum sempat dia mendekati dua wanita beda umur itu,. dia melihat seseorang mengendap-endap lalu merangkul wanita itu dari belakang dan memanggilnya 'Ra' sontak membuat kaget orang yang dirangkulnya.
"Ra? Bukankah itu panggilan untuk Raisya?" Matanya tak terlepas dari objek yang dilihatnya.
"Awww." Jacky meringis kesakitan setelah spontan Raisya menyikut keras bagian perutnya.
"Uncle.. " Michel melihat ke belakang kaget melihat pamannya tiba-tiba sudah ada.
"Uncle? Kamu mengenalinya?" Tatap Raisya heran melihat Michel memanggil laki-laki itu dengan sebutan 'Uncle'.
Jacky memegang perutnya sambil berjongkok masih menahan rasa sakit.
"Tak disangka wanita itu kuat juga." Jacky bermonolog.
Michel mengangguk mengiyakan pertanyaan Raisya.
"Hubungan kamu Michel?" Raisya mulai penasaran akan identitas laki-laki yang sudah berani tidak sopan merangkulnya dari belakang dan tanpa berdosa di tak meminta maaf atas perbuatannya.
"Dia adik dari daddy." Jawab Michel memberitahu kebenarannya.
"Hah? Adik daddy kamu? Hmmm...Pantesan saja sama mesumnya." Raisya mendengus kesal melihat kesamaan sikap yang dilakukan adik kakak itu.
"Mesum?" Sekarang giliran Jacky tidak mengerti antara hubungan dia dengan ayahnya Michel, karena perempuan itu menganggap dirinya mesum.
"Lantas apa yang telah dilakukan Nathan? Apakah dia sudah melakukan sesuatu sehingga Raisya menyebut kata itu lalu menyamaratakan dirinya dengan ayahnya Michel?" Jacky bermonolog.
"Pura-pura bodoh!' Raisya menghentak piring yang masih dipegangnya di atas meja. Lalu menendang meja yang tak bersalah itu sebagai pelampiasan rasa kesalnya.
"Ish.. Ra.. tenaga kamu kuat banget sih!" Jacky agak kaget melihat tendangan Raisya pada meja, dan mengeluhkan sakit di bagian perutnya lalu duduk di samping Raisya.
"Eh.. siapa yang membolehkan kamu duduk disini? Tidak sopan banget. Matanya menyalak tajam melihat Jacky.
"Ih.. kamu tuh judes banget Ra..!" Jacky tidak bergeser sedikit pun.
__ADS_1
"Ra.. Ra.. emang gue siapa? Manggil seenak perut saja! Kemana nih para pengawal?" Raisya mengedarkan pandangan tapi tak satu pun pengawalnya terlihat batang hidungnya. Meski dia bisa beladiri tapi tetap saja merasa khawatir karena berhadapan dengan orang asing, takut orang yang di depannya kekuatannya melebihi dirinya.
Michel yang sedang mengamati Raisya dan Jacky agak mengerutkan dahi.
"Bunda.. " Satu kata lolos dari bibir Michel.
"Ya." Raisya menoleh pada Michel tak sadar bahwa dirinya telah dipanggil dengan panggilan yang tak biasa.
Michel langsung memeluk Raisya erat.
"Eh.. kenapa kamu Michel?" Raisya melihat heran dengan semua panggilan-panggilan aneh.
"Bunda jangan tinggalkan Michel lagi!" Michel mengeratkan pelukannya.
"Bunda? siapa bunda?" Raisya tambah bingung dengan panggilan Michel padanya.
"Kamu sama sekali tidak mengenal kami Raisya?" Jacky menatap inten.
"Aku tak kenal kalian sama sekali. Yang ku tahu kalian adalah laki-laki mesum yang berani menyentuh wanita tanpa izin. Bukankah itu namanya mesum? Mending sekarang kalian pergi sebelum aku panggilkan petugas keamanan untuk mengusir kalian!" Raisya mengancam Jacky dengan lantang.
"Baik. Sekarang aku juga pergi dari sini. Masih banyak hotel yang bisa kusewa." Raisya langsung berdiri akan meninggalkan resort yang telah disewanya dia tak menyukai laki-laki sombong yang baru saja ditemuinya.
"Eh.. ampun apa yang sudah kulakukan?" Jacky mengusap kasar begitu Raisya memperlihatkan keseriusannya.
"Bunda... Jangan tinggalkan aku bunda... bawa aku bunda!" Tangisan yang penuh haru juga menghiba menghentikan langkah Raisya. Dia berbalik badan menatap anak kecil yang kini sedang duduk bersimpuh memohon padanya agar berbelas kasih.
"Aku memang lupa ingatan. Tapi siapa sebenarnya mereka di masa laluku?" Raisya mengernyitkan dahi mencerna apa yang baru saja dilihatnya. Tangisan Michel meluluhkan hati Raisya yang sebenarnya memang lembut. Dia tidak tega membiarkan anak itu menangis menyedihkan seperti itu.
Dan sepasang bola mata yang kebiruan ikut meneteskan air matanya. Dia tak kuasa menyaksikan anaknya yang menangis menghiba belas kasih dari seorang perempuan yang namanya sama persis dengan perempuan yang sudah terbaring di alam baka.
Sungguh terasa menyayat luka batinnya dan membuka kembali luka lama yang ingin dia tutupi selamanya. Entahlah hari ini drama kesedihan lewat begitu saja di depan matanya tanpa direncanakan.
Niat semula ingin menjemput Michel, malah dia harus mematung menyaksikan kejadian yang mungkin akan membuat akal sehatnya menjadi mencerna dan hatinya kembali sakit.
Raisya melihat Michel yang menghiba belas kasihan padanya tak kuasa untuk membiarkannya terus menangis. Hatinya terenyuh bahkan naluri keibuannya seolah terpanggil untuk mengasihani anak itu dengan tulus.
__ADS_1
Raisya melangkah kembali menghampiri Michel. Lalu berjongkok menyamakan tinggi dengan Michel. Dia menatap lamat-lamat lalu menghapus deraian air mata hanya mengalir di pipi Michel.
"Berdiri sayang! Jangan begini! Aku bukan ibumu. Mari aku antarkan pada ayahmu!" Raisya mengelus lembut halus kerudung yang dipakai Michel. Wajahnya yang bule dengan memakai kerudung terlihat manis meski Michel sedang menangis.
Raisya meski kasihan tapi dia tak mau terlibat jauh dengan masalah mereka. Dia tahu bahwa ibunya Michel masih hidup lalu kenapa di harus berpura-pura menjadi ibunya. Sarah pernah menceritakan sekilas tentang mereka sewaktu-waktu di apartemen.
Michel memeluk erat leher Raisya kepalanya sengaja dijatuhkan dibahu Raisya. "Bunda.. aku ingin bersama bunda!" Lirih Michel.
Raisya mengelus punggung Michel sambil berkata, "Michel.. aku bukan ibumu. Aku tahu ibumu masih ada. Tak baik jika kamu mengabaikan ibumu dan malah mengakui aku sebagai bundamu!"
Michel melonggarkan tangannya lalu menatap Raisya inten
"Aku ingin anda jadi bunda aku!" Setelah tadi Michel mendengar Jacky memanggil Raisya dengan 'Ra' dia yakin bahwa perempuan yang di depannya adalah perempuan yang tiga tahun lalu pernah singgah di hatinya. Meski wajah berubah tapi rasa tak mungkin bisa diubah.
"Aku tak bisa Michel. Posisi seorang ibu tidak bisa digantikan sayang. Dia adalah perempuan yang telah melahirkan kamu ke dunia ini. Seburuk apapun ibumu, kau harus tetap berbuat baik padanya." Ucap Raisya
"Michel.. mari ikut daddy!" Nathan menghampiri Michel.
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Hai.. Hai readers tercintah
aku mau bagi-bagi pulsa buat 3 pembaca yang paling banyak dukungannya di bulan November.
1.Atik samabi🙏
Shanti Ona
3.Alnda
Terima kasih buat semua pembaca yang selama ini setia semoga tidak bosan-bosannya mendukung dan suport author. 😘😘😘🙏
__ADS_1