
Raisya hanya melongo melihat tas-tas paper bag ada di depannya. Seorang kurir telah mengantarkan semua barang itu. Entah apa isinya. Gumamnya dalam hati
"Bu Raisya. Ini ada telepon dari pak Nathan." Ina menyodorkan handphone miliknya pada Raisya. Begitu panggilan yang masuk meminta untuk berbicara dengan Raisya. Nathan baru menyadari handphone Raisya tak aktif karena tertinggal bersama tas kerjanya di biro konsultan desain milik Beny.
"Iya halo." Raisya menjawab pelan.
"Kamu mulai besok bekerjalah di tempat kamu seperti biasa dari pagi sampai jam dua belas! Dari jam dua belas masuklah ke kantor! Mulai jam empat kamu pulang menemani Michel! Jangan lupa kalau Michel sudah sembuh kamu antar ke sekolah!" Suara Nathan menginterupsi.
"Dasar beruang kutub, isinya semua perintah." Raisya hanya mampu menimpali dalam hati.
Dan semua perintah itu tak bisa dibantah apalagi dilawan. Ibarat Kepres yang sudah diketok palu. Raisya harus bisa membawa dirinya kalau ingin aman dari cakaran si beruang kutub yang psikopat itu. Kalau tidak dia akan mendapatkan perlakuan bejat seperti yang dilakukannya kemarin.
Suara panggilan dari gurunya Michel telah menyelamatkannya waktu. Kalau tidak, mungkin kehormatan Raisya telah raib dinikmati laki-laki psikopat itu.
"Baik." Jawab Raisya pendek. Dia tak ingin orang yang di seberang telepon mengamuk apalagi bersikap kurang ajar lagi.
Terus terang saja ada perasaan gembira dalam hati Raisya saat ini, begitu Nathan mengizinkannya bekerja. Itu patut disyukurinya. Setidaknya Nathan memperbolehkan dirinya bekerja di kantor barunya dan bisa bertindak bijaksana untuk bekerja di divisi pemasaran sesuai sisa jam kerja yang dipunyai Raisya karena harus menemani Michel.
Bisa dibayangkan kalau dirinya tak diperbolehkan bekerja. Baru saja satu hari masuk kerja masa harus resign lagi. Dan hal terpenting buat Raisya adalah bagaimana dia bisa mendapatkan uang tambahan untuk memenuhi kebutuhannya ke depan setelah tagihan bank akan menjeratnya selama dua tahun.
"Dan satu lagi perlu kamu perhatikan, jangan pulang telat!" Nathan tak ubahnya seorang majikan yang mengatur Raisya dengan segala perintahnya.
"Iya, baik." Jawab Raisya memilih mengiyakan agar beruang di seberang di sana bisa lebih tenang.
Telepon pun ditutup tanpa permisi.
"Bunda.. daddy pergi kemana?" Michel menoleh melihat Raisya menanyakan keberadaan ayahnya.
"Daddy ada kerjaan sayang. Michel tidak apa-apa ditinggal daddy?" Netra Michel saling beradu melihat Raisya.
"Asal ada bunda, Michel tak apa-apa ditinggal daddy." Bibir mungil merah delima itu bicara jujur.
"Wah.. tapi bunda kan harus kerja sayang.. seperti sekarang ini. Bunda paling bisa nemenin Michel nanti sore. Bagaimana?" Bujuk Raisya sedang mencoba bernegosiasi dengan Michel. Dia tak mungkin meninggalkannya kalau semua tanpa izin terlebih dahulu.
"Mmhh.. lama ya bunda?" Michel terlihat tidak rela ditinggalkan sendiri bersama Ina.
__ADS_1
"Mmm... kan Michel bisa VC dengan bunda sayang..kalau bundanya sedang bekerja. Bagaimana?" Raisya sebisa mungkin tersenyum manis merayu agar Michel mau ditinggalkannya.
"Janji nanti pulangnya bunda akan menemani Michel disini?" Michel meminta Raisya jaminan bahwa dirinya akan menemaninya nanti malam untuk menginap di rumah sakit.
"InsyaAllah, setelah bunda menyelesaikan pekerjaan, bunda balik lagi kesini sayang." Jawab Raisya dengan penuh keyakinan.
"Iya deh. Bunda boleh kerja. Tapi nanti sampai kantor Michel mau telepon." Akhirnya dia mau ditinggalkan setelah Raisya meyakinkan anak bule itu dengan sepenuh hati.
Widih.. gak bapaknya gak anaknya nih beruang sama ngiketnya. Emang gue budak kalian. hik hik hik.
Sayang..lagi-lagi Raisya hanya bisa berkata dalam hatinya.
Iya. Bunda ganti baju dulu ya!" Raisya memeriksa paper bag yang sudah ada di depan. Benar saja, rupanya laki-laki itu tahu kalau kancing kemeja yang tadi ditarik paksa sudah tidak lengkap lagi. Dia membawakan beberapa stel baju yang mungkin bisa Raisya pilih berangkat bekerja ke kantor perusahaan. Ini sudah menunjukkan waktu jam satu, Raisya sekalian ganti baju dia pun melaksanakan shalat dzuhur. Dia berharap Tuhan selalu melindunginya juga memaafkan kesalahannya.
Setelah beres melakukan shalat Raisya langsung pergi ke kantor diantar supir pribadi dari rumah Michel.
"Ya elah... jam segindang baru nongol!" Tedi protes atas kedatangan Raisya yang datang siang.
"Sorry bro.. banyak si komo. Mana Irwan?" Raisya tak melihat Irawan di mejanya.
"Sibuk lagi gantiin bos. Elu disuruh bikin laporan Sya! Data-data sudah masuk di- email. Oh iya.. tadi ada yang nyariin kamu lho!" Terang Tedi.
"Katanya sih dari biro konsultan desain Beny."
"Ohh.. terus mereka pada kemana?" Raisya tak melihat satu pun orang bertambah di ruangannya.
"Tau." Jawab Tedi pendek
"Tuh sama nganterin tas elu yang ketinggalan." Tedi menunjukkan tas Raisya yang tadi di simpan di meja kerjanya.
"Oke. Thanks bro!" Raisya langsung membuka komputernya dan mengerjakan pekerjaannya.
Kriuk
Kriuk
__ADS_1
Suara perutnya yang meminta jatah terdengar keras.
"Waduh lapar.. " Keluh Raisya. Tedi yang sedang ada di mejanya melirik Raisya yang sedang memegang perutnya.
"Elu kenapa Sya?"
"Laper.. " Jawab Raisya meringis sambil menahan perih si perutnya.
"Lah.. elu belum makan siang? Sampai lupa makan. Tuh ada jatah satu box yang tadi gue bawa dari ruang desainer." Tunjuk Tedi pada kotak makanan yang ada di atas meja.
"Wah.. ma kasih ya Ted. Lu baik banget." Hati Raisya berjingkrak begitu ada makanan yang nganggur.
"Untung gue bawa!"
"Rejeki gue Tedi! Meski elu yang bawa, tapi takdirnya masuk ke dalam perut gue.
"Hoohlah! Serah ente!" Tedi membalikkan istilah Raisya yang biasa dilontarkan pada teman-temannya.
"He he.. " Raisya nyengir kuda.
"Eh Sya.. pak Nathan berapa lama tugas keluar? Kita di suruh mematangkan lobi pada para pelanggan nanti pas pagelaran produk. Jadi elu susun kepanitiaan dari sekarang." Tedi mengingatkan Raisya.
"Satu bulan sih! Tapi gue takut gak maksi eung. Soalnya gue mesti jagain anaknya beruang." Raisya mengunyah makanan sambil mengetik laporan.
"Lah elu.. nugas? Jadi alasan kesiangan elu ngasuh anak beruang itu? Wah.. sultan mah bebas ya." Cicit Tedi
"Ya diantaranya sih. Yang antara lainnya bukan." Raisya tak bisa mengatakan yang sebenarnya.
"Jadi elu bakal datang siang selama sebulan?" Tedi agak cemas juga, mengingat Irwan selalu ke lapangan dan hanya dirinya yang selalu ada di kantor.
"Kurang lebih begitu!" Jawab Raisya.
"Kok bisa dia nyuruh jagain anaknya? Kan ada babysitter juga pembantu di rumahnya?" Tedi agak aneh dengan hubungan Raisya dan Nathan.
"Tau, anaknya nempel gitu!"
__ADS_1
"Kayaknya dia pengen elu jadi emaknya kali!"
Uhuk.. Uhuk.. Raisya yang sedang mengunyah makanan tersedak mendengar ocehan Tedi padanya.