Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Posesif


__ADS_3

"Yang datang kemarin bos kamu neng?" Tanya Rio menyelidik.


"Iya bang. Aku jadi malu bang maaf. Apa bang Beny marah sama aku gak?" Raisya merasa gak enak hati meninggalkan kantor tanpa pamit. Bahkan pekerjaannya pun tidak benar-benar diselesaikan.


"Kayak nya sih enggak. Apalagi dia dikasih proyek sama bos kamu." Rio menyeruput kopi yang masih mengepul.


"Aku ke atas dulu ya bang. Mau rekap." Ucap Raisya tak ingin berkelanjutan membahas seputar masalahnya. Itu membuat ingatan Raisya tentang kejadian kemarin kembali muncul. Itu sungguh menakutkan. Raisya tak berani lagi membantah Nathan, ataupun bermasalah dengannya. Dia selalu punya cara untuk melampiaskan kemarahannya yang membuat Raisya takut. Nekad mau resign malah dia diculik dan hampir saja kehormatannya direnggut.


Wanita mana yang mau kehilangan kehormatannya. Kejadian kemarin sangat membekas dalam ingatan Raisya. Andaikan dia bisa menghilang rasanya dia ingin sekali menghilang tanpa jejak dan pernah kembali bertemu dengan yang namanya Nathan. Tapi sayangnya Raisya merasa kalah dan lemah. Hatinya sangat sedih, saat ini tak ada lagi Jacky yang biasa membelanya. Bahkan untuk beberapa hari Ratna dan Hendrik pun seolah ditelan bumi. Tak ada menghubunginya. Hubungan dengan Ratna pun seolah menjadi renggang tanpa tahu apa penyebabnya. Raisya tak berani menghubunginya lebih dulu ditambah pekerjaannya begitu banyak saat ini. Pikiran tak mampu membagi lebih banyak lagi masalah.


"Eh Raisya. Aku mau bicara sebentar, boleh kan?"


"Iya bang." Raisya menghentikan langkahnya lalu duduk berhadapan dengan Rio. Meski enggan, tapi Raisya tetap harus bertatakrama. Apalagi dia baru saja bekerja.


"Mmhh.. kamu sering diperlakukan kasar sama bos kamu?" Rio merasa harus bertanya pada Raisya.


"Kenapa abang bertanya seperti itu?" Raisya menatap Rio curiga. Jangan-jangan dia melihat adegan ketika dia diseret Nathan waktu keluar dari dapur dan dipaksa masuk ke dalam mobilnya.


"Jika kamu perlu bantuan. Bicaralah! Di sini banyak cctv. Kemarin bang Beny melihat apa yang dilakukan bos kamu." Ucap Rio. Setelah Raisya meninggalkan kantor tanpa pamit dibarengi Nathan. Beny merasa curiga dengan tas dan handphone Raisya yang tergeletak begitu saja di atas meja kerjanya. Dia menduga ada hal tak beres. Walaupun perusahaannya mendapatkan job, Beny tak pantas bergembira. Kedatangan boa Raisya yang tiba-tiba saja di hari kerja pertamanya saja, itu membuat Beny bertanya-tanya.


Ditambah gerak-gerik Raisya yang kelihatan gemetar itu membuat kecurigaan di mata Beny. Setelah melihat rekaman CCTV di kantornya, Beny merasa harus untuk bertanya pada Raisya. Dan setelah kepulangan Raisya itu menjadi topik pembicaraan antara Beny dan Rio.


"Jadi.. ?"


"Sejauh mana dia melakukan kekerasan sama kamu?" Rio serius memperhatikan Raisya. Dia sedang menilai apa yang akan diucapkan Raisya. Berharap Raisya bisa terus terang.


"Mmm.. Ga pa-pa bang. Pak Nathan orangnya baik kok. Cuman memang tidak senang kalau stafnya membantah. Mungkin kemarin dia tersinggung karena aku bicara kurang sopan." Imbuh Raisya menutupi kejadian sebenarnya. Raisya tak berani mengangkat wajahnya. Ada kekhawatiran jika Rio membaca wajahnya dia akan terus mencerca dengan pertanyaan.


"Aku kok curiga neng.. sama pembicaraan waktu di mobil. Kamu berhubungan dekat dengan laki-laki itu?" Rio teringat dengan curhatan Raisya yang waktu itu sempat ditanggapi Rio.


"Gak pa-pa bang. Mungkin waktu itu aku lagi be-te jadi ngomong ngaler ngidul." Kilah Raisya menghindari Rio terus bertanya.

__ADS_1


"Oke. Kalau neng Raisya ada masalah jangan sungkan bicara sama kita-kita!" Rio berusaha membuat Raisya nyaman.


"Iya bang. Terima kasih ya bang!" Ucap Raisya menyudahi obrolannya dengan Rio.


"Aku naik dulu ya bang." Izin Raisya untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Iya. Eh neng kayanya kita hari ini bakal rapat. Coba lihat bang Beny sudah bangun belum? Kalau belum suruh bangun cepetan!" Rio menyuapkan sarapan rotinya. Dan mengikuti Raisya naik ke lantai dua.


"Sama bang Rio aja! Aku agak sungkan." Raisya sebenarnya tidak mau menolak, cuman agak canggung jika harus membangunkan laki-laki yang baru saja dikenalinya sebagai bos barunya.


"Hayuu sama neng! Biar tahu suasana lantai tiga." Ajak Rio mengajak Raisya ke lantai tiga.


"Aku ikutan aja di belakang ya bang. Malu takut kurang sopan." Raisya menjaga jarak di belakang Rio yang telah lebih dulu berjalan.


"Wah... bagus banget bang ruangannya.. " Raisya takjub melihat desain interior di lantai tiga yang notabene lantai sang mpunya.


Dukk


"Awww.. " Raisya yang takjub dengan desain interior di lantai tiga tidak memperhatikan langkahnya sehingga menubruk seseorang.


"Eh maaf bang. Saya tidak sengaja." Raisya tersenyum simpul begitu yang ditabraknya adalah Beny.


"Iya. Mata kaki gak pake kacamata jadi rabun." Ucap Beny dengan bocorannya terlihat datar.


"Gue pake spion bang." Ucap Rio menimpali.


"Makanya kalau liat perempuan cantik larak-lirik takut ditabrak." Beny langsung duduk di meja kerjanya.


"Ha ha bisa aja abang! Abang kenapa gak pake kacamata kuda biar lurus liat gebetan?" Rio tak mau kalah.


"Lah.. gebetannya pada cupu mana tertarik. Eh.. si Ria sudah dateng blom. Biar rapatnya bisa lebih pagi. Gue ada survei buat rumah mewah tiga lantai di Cinere." Beny yang numben on lebih pagi ternyata sudah siap pergi.

__ADS_1


"Sebentar gue telepon bang." Rio baru saja menekan nomor suara sahutan langsung terdengar.


"Gue hadir." Seorang wanita tomboy dengan gaya rambut cepak. Kemeja kotak-kotak dan celana jins ketat juga sepatu sport datang mendekat.


"Oh.. ini dia bang yang kemarin digibah?" Ria langsung menatap Raisya dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Kenalin gue Ria adikny Rio." Ria menjulurkan tangannya pada Raisya.


"Perkenalkan saya Raisya." Keduanya berjabat tangan.


"Ya udah mulai rapatnya sekarang! Kita di lantai bawah saja!' Ajak Beny.


Kring


Kring


Suara handphone Raisya berbunyi.


"Maaf saya angkat telepon dulu." Raisya agak menjauh dari ketiganya.


"Halo pak Nathan." Jawab Raisya agak cemas.


"Kamu lagi dimana?" Nathan tak mau berbasa-basi.


"Saya sedang di kantor Konsultan pak." Raisya terdengar agak gemetar.


"Coba alih mode ke VC aku pengen lihat semuanya!" Nathan menginginkan Raisya menggunakan kamera agar bisa melihat.


"Baik pak!" Raisya menurut saja walaupun dalam hatinya mendumel kesal.


Apalagi nih beruang kutub pakai nelepon.

__ADS_1


"Kok semua laki-laki?" Nathan jadi posesif melihat semua yang berdiri di depan Raisya nampak seperti laki-laki semuanya.


"Tidak pak."


__ADS_2