
"Tunggu sebentar Raisya, aku mohon! Aku mohon kembalilah untuk Jacky!" Suara Sherly terisak menahan sedih.
"Maaf.. aku tak bisa. Sudah cukup penderitaan ku Sherly! Apa yang dialami Jacky sekarang itu tidak ada apa-apa nya dibanding penderitaan yang aku alami selama ini. Bahkan dia sendiri yang mendorong aku pada Nathan dan aku nyaris hampir mati ditangannya. Dan penderitaan aku tidak cukup disitu, dia juga yang mendorong aku diper**** oleh suamiku sendiri." Suara Raisya serak menahan cairan yang keluar dari tenggorokan dan hidungnya.
"Kamu tidak pernah merasakan bagaimana hidup aku menderita Sherly. Maka biarkan aku hidup dengan pilihanku sendiri. Aku sudah memberi kesempatan padanya, tapi apa balasannya? Dia menuduhku dan menceraikan aku dengan tidak layak. Kalau kamu bertanya aku sakit? Ya aku sakit.. bahkan kamu tidak tahu apa yang dilakukannya sebelum berangkat. Dia berusaha memaksa memper*** ku."
"Jika sekarang dia sakit, jangan hubungi aku lagi! Kita sudah tidak ada hubungan apapun. Jadi kalian hiduplah dengan baik jangan ganggu aku lagi!" Raisya langsung menutup telepon dengan perasaan sedih. Tidak terasa air mata nya turun deras dan Raisya menangis sesenggukan. Setelah dia menahan kesedihan yang besar, dengan teganya Sherly memintanya untuk kembali pada Jacky.
"Kamu menghubungi Raisya, Sher?" Jacky menoleh ke samping. Tadi dia tertidur dalam pengaruh obat. Tapi suara Sherly yang menghubungi Raisya membuat kesadaran Jacky terbangun.
"Kamu bangun sayang..?" Sherly menyeka air matanya.
"Kamu menangis? Kenapa? Apa Raisya menyakiti mu?" Tanya Jacky lirih.
"Tidak." Sherly tidak ingin terlihat sedih di mata Jacky.
"Sini peluk aku Sher!" Jacky membentangkan kedua tangannya meski lemah. Ada perasaan bersalah di hati Jacky melihat Sherly barusan menangis. Bukan hanya menangis biasa, tapi perempuan itu telah memohon demi dirinya yang tidak tahu diri sebagai suaminya. Dari tadi Jacky mencuri dengarkan pembicaraannya dengan Raisya. Dia tahu Sherly sangat mencintainya tapi dia malah menyakiti dua perempuan sekaligus.
Sherly buru-buru menyeka air matanya. Dia tak ingin Jacky melihatnya sedih. Dia mengangkat kedua ujung bibirnya tersenyum. Apalagi melihat respon Jacky yang sedang membentangkan tangan untuk disambut. Sherly dengan hati bahagia menghampiri Jacky dan memeluknya. Rasanya pelukan itu sangat berbeda. Terasa tulus dan dirindukan. Ya perasaan yang dulu sering mereka lakukan kini seperti hadir kembali.
"Maafkan aku ya.. aku ingin kita hidup bahagia." Lirih Jacky di telinga Sherly. Meski pahit dan sakit, Jacky memutuskan untuk mencoba kembali mencintai Sherly. Dia tak ingin perempuan yang diperlukannya tersakiti lebih dalam terlebih dia sekarang sedang berbadan dua. Meski sedang mengidap penyakit berat Sherly bersikukuh ingin mempunyai anak dari Jacky. Hati Jacky sedikit terenyuh melihat pengorbanan Sherly sekarang yang memohon pada Raisya demi dirinya.
"Mmm.. " Sherly mengangguk bahagia.
Jacky melonggarkan pelukannya beralih menatap wajah perempuan yang kini semakin kurus. Diusapnya pipi yang dulu sering disentuhnya. "Besok kita pulang ya? Aku ingin kembali ke mansion papih." Ucap Jacky mengungkapkan keinginannya.
__ADS_1
"Baik.. kita pulang ke sana." Jawab Sherly menyetujui keinginan Jacky tanpa banyak bertanya.
"Terimakasih sudah mau memaafkan aku Sher.. mari kita hidup bahagia dan panjang umur demi anak kita." Jacky melihat ke arah perut Sherly yang sudah terlihatnya buncit. Tangannya mengulur dan mengusap perut itu dengan lembut dengan senyum.
Sherly terharu. Dia kembali menitikkan air matanya. Tak menyangka perbuatannya barusan malah membuat Jacky kembali ke pangkuannya dengan mudah. Ini yang selama ini diharapkannya. Kembali seperti dulu, saling mencintai dan saling menyayangi.
Jacky memeluk perut Sherly, "Maafkan ayah nak.. " Lirih Jacky membisikkan permintaan maaf pada janin yang kini tumbuh di perut Sherly.
Di lain tempat Raisya sudah mencuci mukanya karena terlihat sembab karena menangis. Dua sedang menatap dirinya di depan cermin memikirkan nasib yang menimpanya. Di tidak tahu takdir apa yang akan menuntunnya ke depan. Dia berusaha menata diri dan ingin melepaskan dari cengkraman keluarga Alberto yang selalu menjadi bayang-bayang dirinya.
"Maafkan aku Jacky... aku selalu berdoa untukmu. Semoga kalian bahagia!" Lirih Raisya. Di balik rasa sedihnya dia tak pernah berharap laki-laki yang menyakiti dirinya itu hidup dalam keadaan terpuruk. Dia ingin saling melepaskan rasa yang selama ini menghimpit dirinya. Meski berat dia harus melepaskan perasaan itu dan mengikhlaskan semuanya.
Tak terasa malam pun datang. Raisya berusaha menutup mata untuk beristirahat agar besok pagi bisa bangun tepat waktu. Tapi baru saja matanya memejam, suara belt di kamarnya terdengar nyaring berbunyi.
"Siapa ya?" Raisya bangkit dari ranjang dan langsung merapihkan tubuhnya dengan mengambil jaket yang tersamping di kursi. Tak lupa kerudung yang praktis Raisya kenakan untuk menutupi kepalanya sebelum membuka pintu.
Pintu kamar pun dibuka. Raisya membuka sedikit pintu dan mengintip siapa yang telah memijit belt kamarnya.
"Malam.. maaf mengganggu." Suara Jason mengagetkan Raisya.
"Mmm.. ya..?" Raisya kaget melihat Jason berada di depan pintu. Dia berpikir ada apa orang itu menemuinya malam-malam. Rasa curiga juga trauma masih melekat di pikiran Raisya.
"Mmm.. apa aku boleh masuk?" Tanya Jason menunggu izin Raisya.
"Maaf.. ada apa ya?" Raisya tak mau menerima tamu, apalagi laki-laki asing seperti Jason yang baru dikenalnya.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku bicarakan." Jason rupanya tidak mau menunda sesuatu kepenasarannya pada Raisya.
"Mmm.. apa tidak besok saja? Ini sudah malam." Tolak Raisya tegas.
"Maaf.. aku sudah menganggu ya?" Jason menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia seperti bingung untuk bicara lagi.
"Apa begitu penting?" Tanya Raisya ingin tahu maksud keinginan Jason.
"Tidak begitu. Cuman aku tak bisa tidur sebelum kamu menjawab kepanasadanku." Jawab Jason melihat Raisya yang seperti bingung menatap dirinya.
"Memangnya ada apa? Tanjakan saja lewat WA kan bisa?" Jawab Raisya sambil mengernyitkan dahi.
"Aku... aku kan belum punya nomor kamu." Ucap Jason. Dia bisa saja menanyakannya langsung pada Baron, tapi dia tak ingin mencurigai dirinya macam-macam.
"Ya sudah, tanyakanlah kalau memang itu membuat anda penasaran." Raisya masih dengan sikap yang sama, yaitu waspada.
"Apa kamu dari sekolah SMA 3 Bandung?" Tanya Jason ingin memastikan asal sekolah Raisya dulu semasa abu-abu.
Deg
Raisya kaget. Kenapa Jason bisa tahu asal sekolahnya dulu.
"Kenapa kalau iya?" Jawab Raisya yang kini malah berbalik penasaran dengan siapa sebenarnya Jason.
"Kamu masih ingat ini?" Jason mendekatkan latar handphonenya yang di sana ada foto Raisya semasa SMA dan dalam foto itu Raisya sedang duduk di bangku bis yang dulu suka dinaikinya jika ingin pergi ke sekolah.
__ADS_1
Raisya menajamkan pandangannya pada foto yang disodorkan Jason. Itu memang foto dirinya. Lalu kenapa dia punya foto itu dan mengenalinya?