
"Apa sih kak?" Raisya semu manyun menanggapi Sarah.
"Memangnya kakak tidak tahu apa yang kamu lakukan tadi sampai meja makan gedebag gedebug kena kaki kamu?" Sarah duduk bersandar di samping Raisya.
"Jadi kakak tahu? Lalu kenapa kakak bilang ada gempa?" Raisya menoleh pada Sarah.
"Kakak hanya ingin melindungi kamu dari malu." Jawab Sarah mengungkapkan alasannya.
"Mmm...aku tidak akan melakukan itu kalau si mesum itu tidak melecehkan aku." Ketus Raisya tidak menerima perlakuan pelecehan.
"Maksudmu dilecehkan bagaimana?" Sarah agak mengerungkan matanya sedang mencerna apa yang baru saja didengarnya.
"Ih..itu temen kakak, mesum pisan. Masa dia menggelitiki paha aku kak!" Protes Raisya melaporkan kejadian sebenarnya tanpa tahu siapa sebenarnya pelaku pelecehan itu.
"Makanya mulai sekarang kakak sarankan kamu memakai hijab lagi!" Sarah tidak bisa membiarkan Raisya berpenampilan terbuka seperti sekarang ini. Awalnya karena tengkorak Raisya mengalami retak dan dioperasi, maka Raisya tidak memakai tutup kepala untuk mempercepat penyembuhannya. Ditambah selama ini Raisya tinggal dengan Peter selaku orang yang bertanggung jawab atas penyembuhan Raisya.
Raisya terdiam, memang ada benarnya apa yang dikatakan Sarah. Tapi masih ada yang menghalanginya Raisya untuk melakukan itu.
Di lain tempat, Nathan dan Michel sedang duduk bersimpuh di depan pusara.
"Raisya, maafkan aku...baru kali ini aku bisa datang padamu. Aku mohon maaf sebesar-besarnya Raisya. Karena keburukan ku kau jadi celaka. Aku ingin menebus kesalahanku padamu Raisya, agar hatiku tidak terlalu berat menanggung dosa padamu. Aku rindu berat padamu. Bahkan aku baru sadar sebenarnya aku mencintaimu." Sayangnya Ucap Nathan hanya bergema dalam hatinya saja. Dan tanpa terasa kristal-kristal bening berkumpul di ujung kelopak matanya dan siap menjatuhkan diri dengan bebas tanpa izin pemiliknya.
"Raisya, aku membawa Michel kesini bersamaku. Dia merindukanmu, Raisya." Ucap Nathan sambil menaburkan bunga di sekitar gundukan tanah yang sudah mengeras.
"Bunda..ini aku datang. Ini Michel bunda. Aku datang jauh-jauh kesini karena merindukan bunda. Bunda bisa lihat, sekarang aku sudah tidak rewel lagi seperti dulu. Maafkan aku bunda kalau selama ini aku banyak membuat susah bunda." Michel menunduk sedih.
"Lihatlah Raisya! Kini Michel nampak cantik seperti kamu. Sekarang dia memakai kerudung mengikuti jejak mu. Dia sangat mengidolakan dirimu, Raisya." Nathan berusaha tegar. Dia tak mau jika Michel terlihat menyedihkan.
Michel menoleh pada Nathan. Dia tahu bahwa ayahnya pun sedang bersedih, terlihat jelas matanya berkaca-kaca.
Michel menyandarkan diri di samping Nathan seolah mencari kekuatan.
__ADS_1
"Aku sekarang memakai kerudung seperti bunda. Aku ingin seperti bunda, wanita cantik dan baik hati." Sumeringah Michel seperti bahagia bisa mengungkapkan isi hatinya di depan pusara Raisya. Lalu Nathan mengusap bahu Michel. Rasanya sakit, ketika menyaksikan orang yang kita cintai meninggalkan dirinya apalagi dengan cara yang tragis.
Sekarang tinggal penyesalan. Nathan bertekad ingin hidup lebih baik jangan sampai melakukan kesalahan dua kali dan dia akan menyesal dikemudian hari.
"Raisya, kami doakan semoga kamu hidup tenang di alam sana. Aku berharap bisa mengunjungimu lebih sering. Aku janji tidak mengabaikan mu lagi. Aku berjanji akan memperbaiki diriku, dan aku akan menjaga Michel dengan sebaik mungkin agar menjadi wanita yang kuat, tegar dan pintar seperti dirimu." Terdengar Nathan terisak. Dia tak mampu menahan kesedihannya juga rasa rindunya yang besar pada sosok wanita yang telah hadir mewarnai hidupnya walaupun hanya sebentar.
Matahari mulai tenggelam, Nathan dan Michel kembali ke rumahnya yang dulu. Untuk bermalam sebelum pergi ke Bali untuk liburan bersama Arnetta asisten Nathan selama di Amerika. Rencananya Nathan mengajak Arnetta untuk liburan di Bali dan akan melakukan pendekatan untuk program terapinya.
"Daddy.. kalau tante Raisya itu adiknya aunty ya?" Michel yang tadi hanya berkenalan sebentar tidak bertanya lebih jauh mengenai identitas Raisya sebenarnya.
"Raisya?" Nathan menautkan alis menyipit, mengingat-ingat nama yang mirip dengan Raisya yang dikenalinya.
"Ih.. daddy..Itu perempuan yang tadi bersama aunty, namanya Raisya. Masa daddy gak tau?" Michel malah heran melihat ayahnya agak berpikir.
"Lah... Daddy malah tidak tahu. Tadi daddy tidak sempat menanyakan namanya sama identitasnya. Daddy kira sih mungkin temannya aunty Sarah." Nathan yang tadi sehabis makan langsung berpamitan pulang tak sempat bertanya pada Sarah siapa mereka dan apa hubungannya dengan Sarah.
"Tapi.. aku denger, dia memanggilnya kak Sarah." Michel sedang mengumpulkan informasi tentang Raisya.
"Oh ya? Daddy malah heran kamu bisa tahu namanya." Heran Nathan, malah Michel mengetahuinya.
"Daddy kira dia perempuan galak. Dia tadi menendang kaki daddy." Tanpa disadari Nathan menceritakan kejadian sewaktu makan siang tadi di apartemen Sarah.
"Ya galak kalau daddy menggodanya!"
"Ah enggak." Protes Nathan.
"Ohh.. iya Deh anak daddy..!"
Nathan memeluk Michel. Dan gak lama mereka sampai di rumahnya yang dahulu sempat dia tinggal.
"Daddy punya nomor aunty?" Michel bertanya pada Nathan.
__ADS_1
"Eh lupa juga daddy tidak memintanya." Nathan memang lupa karena ingatan fokus harus ke makam Raisya sehingga melupakan hal itu.
"Ah.. daddy.. " Michel kecewa.
"Kok.. Michel kaya lemes gitu? Marah sama daddy?" Tanya Nathan heran.
"Sudahlah! Nanti biar daddy balik lagi ke sana." Nathan tak ingin Michel ngambek padanya, langsung menyanggupi.
"Kenapa tidak om Reza aja?" Michel memberi saran.
"Oh iya.. " Nathan baru ingat bahwa Reza bisa dimintain tolong olehnya.
Belum sempat memanggil Reza, suara handphone langsung berbunyi.
"Halo pih!"
"Iya Halo. Dimana kalian?" Tuan Robert menelpon Nathan yang baru saja mendapatkan kabar dari Reza tentang kedatangan Michel dan Nathan di Jakarta.
"Aku di rumah pih!" Jawab Nathan.
"Eh.. di rumah kamu yang dulu?"
"Iya pih!" Jawab Nathan.
"Kamu mesti datang ke rumah papih! Jacky mau menikah."
"Menikah? Kapan?" Nathan kaget mendengar kabar pernikahan Jacky.
"Minggu depan. Papih harap kamu bisa hadir! Jacky menikah dengan Sherly." Tuan Robert berkata agak pelan.
"Sherly?" Dada Nathan seolah tertonjok mendengar berita pernikahan ibunya Michel dengan Jacky. Walaupun dia sudah merelakan Sherly dari hatinya, tapi batin kecilnya masih sakit. Kenapa dia harus menikah dengan Jacky yang notabene adalah adiknya.
__ADS_1
"Kamu kasih tahu Michel, agar anak itu bisa menerima ibunya." Pinta tuan Robert.
"Baik pih! Aku akan kasih tahu Michel. Nanti aku akan ke rumah papih." Ucap Nathan yang akan berencana menemui mereka sebelum acara pernikahan Jacky dan Sherly. Bagaimana pun, dia tidak bisa mengabaikan Sherly.