Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Hilang jejak


__ADS_3

"Kemana ya? Coba deh gedor kamar 103 lantai 2! Nanti aku menyusul. Kalau masih ada di kamar berarti aman. Tapi kalau gak ada tolong kabari aku secepatnya!" Ratna memberi ide.


"Iya aku ke sana sekarang. Kali aja dia ketiduran." Jacky langsung berdiri dan melangkah menuju kamar yang barusan Ratna sebut setelah menutup telepon.


Ting tong


Ting tong


Ting tong


Belt susah ditekan tapi belum ada jawaban dari dalam kamar.


"Rat.. gak ada jawaban." Jacky kembali menghubungi Ratna.


"Coba sekali lagi Jack!"


Ting tong


Ting tong


Ting tong


"Masih Rat. Gak ada jawaban." Jacky memberi kabar.


"Iya udah. Aku izin dulu. Aku segera kesitu deh!" Ratna meminta izin untuk pulang. Kebetulan Pekerjaannya sudah beres. Ratna pun segera memesan mobil online untuk kembali ke hotel.


"Jack." Ratna memanggilnya. Jacky sedang duduk di depan pintu kamar hotel.


"Rat." Jacky langsung berdiri.


"Yuk masuk!" Ratna membuka pintu kamar dengan kartu magnet.


Jacky pun ikut masuk mengikuti Ratna ke dalam kamar. Keduanya mengedarkan pandangan di sekitar kamar hotel. Tapi tidak terlihat Raisya di ranjang.


"Elu tunggu dulu! Gue mau cari dulu di kamar mandi." Ratna menahan Jacky agar tidak mengikutinya.


"Wah enggak ada Jack. Kemana tuh anak. Ini tasnya masih ada." Ratna bingung.


"Kemana ya si Raisya bikin pusing." Jacky mengeluh.


"Tadi kan pulang sama elu Jack?"


"Iya.Tadi bareng ke hotel. Dia sepakat mau pulang ke Jakarta." Jawab Jacky.


"Duh kemana tuh anak. Sebentar gue telepon mamahnya." Ratna langsung merogoh handphonenya langsung menekan nomor ibunya Raisya.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


"Mah ini sama Ratna. Mohon maaf mah kalau Raisya ada di rumah tidak?" Ratna menajamkan pendengarannya.

__ADS_1


"Gak ada. Kan tadi pulang sama kamu. Emang kenapa?"


"Oh iya gak pa-pa mah. Terimakasih ya mah! Assalamu'alaikum."


"Iya.Waalaikumsalam."


Ratna menutup teleponnya.


"Gak ada Jack. Kemana ya? Apa kita perlu bermalam satu malam lagi sambil menunggu Raisya?"


"Ya boleh. Tapi aku kok khawatir begini ya Rat. Seharusnya kalau dia keluar dia ngasih tahu dulu biar kita gak bingung."


"Elu gak sedang ribut sama Raisya?" Ratna mencurigai Jacky.


"Enggak. Gue baik-baik aja!"


"Beneran Jack?" Ratna tidak percaya seratus persen.


"Suer Rat! Raisya jarang marah. Malah gue yang sering marahin dia." Jacky kebablasan bicara begitu.


"Apa?" Ratna mendelik pada Jacky, kesal dan marah.


"Ya ampun.. gue baru inget." Ratna tiba-tiba mengingat sesuatu.


"Ada apa Rat?" Jacky menyipitkan matanya.


"Sebentar jangan berisik!" Ratna langsung menekan nomor seseorang. Berharap Raisya ada bersamanya.


"Halo pak Reza, maaf saya mau tanya. Kalau Raisya ada bersama bapak?" Ratna menajamkan pendengarannya.


"Tapi dia belum juga sampai hotel pak." Terang Ratna.


"Oh. Sudah dicoba ditelepon?"


"Sudah pak. Tapi nomornya tidak aktif."


"Oh. Maaf ya Ratna saya tidak bisa lama. Saya sedang sibuk. Oh iya kamu jangan menunggu kami. Kalau mau pulang pakai mobil umum saja! Nanti aku transfer uang lemburan kamu hari ini." Reza yang sedang mengurusi pemindahan Michel dari rumah sakit ke rumah sakit Jakarta agak kurang fokus bicara dengan Ratna.


"Oh iya baik. Kabari ya pak kalau pak Reza nanti bertemu dengan Raisya!"


"Baik. Saya tutup dulu teleponnya ya!"


"Iya pak!"


Sambungan telepon pun terputus.


"Bagaimana Rat? Sudah ada info?" Jacky penasaran.


"Gak ada. Katanya sudah pulang. Tadi pak Reza sempet meminta nomor Raisya. Kemungkinan Raisya bertemu dengan Reza dulu. Tapi dia sudah pulang katanya. Duh anak kemana sih!" Ratna berjalan mondar-mandir.


"Kita tunggu saja Rat! Mudah-mudahan malam ini dia balik ke hotel."

__ADS_1


"Iya Jack. Tapi bagaimana kalau dia tak balik lagi Jack? Aku kok jadi parno." Ratna mendadak lemas.


"Ya udah aku cek in lagi deh. Daripada harus menunggu di luar. Aku milih depan kamar kamu biar gak susah komunikasi. Sekarang kamu istirahat saja!"


"Iya. Aku lumayan capek mau istirahat dulu!"


"Ya udah gue keluar dulu ya Rat!" Jacky keluar dari kamar Ratna.


Ratna masih bengong di sofa sambil memikirkan keberadaan Raisya.


Sementara di tempat lain Reza sedang mengurusi administrasi Michel. Sekarang Michel akan dipindahkan ke rumah sakit Jakarta. Michel akan diantar dengan memakai mobil Ambulan.


Mata Reza menangkap objek yang sedang didorong oleh tim medis rumah sakit. Sekilas dia melihat wajahnya yang babak belur di penuhi lebam dan percikan darah.


Beberapa orang yang ada di sekitar rumah sakit saling berbisik membicarakan blankar yang baru saja melewati mereka.


"Kasian ya wanita itu! Katanya ada yang mukulin dia di belakang rumah sakit. Dia hampir saja mati kalau tidak ditemukan sama office boy yang sedang membersihkan area belakang." Seorang perawat yang sedang ada di depan Reza saling bergosip.


Deg


"Area belakang? Apa mungkin Raisya? Mana mungkin pak Nathan berbuat sejahat itu." Tepis Reza berbicara sendiri dalam hatinya.


Reza tak mau pusing memikirkan sesuatu yang tidak ada kaitan dengannya. Dia langsung pergi mengurusi masalah Michel. Kebetulan Michel bisa ditranfer ke rumah sakit yang ada di Jakarta.


Michel, Nathan dan juga Ina naik ambulan. Sedangkan Reza membawa mobil Alphard. Acara survei cabang terpaksa dihentikan karena insiden jatuhnya Michel.


Malam kian larut. Jacky dan Ratna semakin gelisah menantikan Raisya yang tak kunjung datang.


"Jack.. Gimana ini? Kok jam segini Raisya belum juga balik Jack. Apa perlu kita laporan ke kantor polisi?" Ratna sudah mulai berkaca-kaca. Hatinya benar tidak tenang memikirkan keberadaan Raisya.


"Sabar Rat. Gue mau minta tolong sama pihak hotel untuk melihat CCTV." Jawab Jacky pada Ratna


"Gue ikut Jack!" Ratna memohon.


"Ya hayu aja!" Jacky berjalan berdampingan dengan Ratna menuju ruangan informasi yang ada di hotel.


Setelah meminta berkerjasama dengan hotel, Jacky dan Raisya kembali bingung. Raisya tampak terlihat dalam CCTV ketika dia ke luar hotel.


"Rat. Tadi Reza ketemuan sama Raisya dimana katanya?" Tanya Jacky pada Raisya.


"Tadi menyuruhnya ke rumah sakit."


"Ke rumah sakit?"Jacky mengernyitkan dahinya.


"Kenapa dia bertemu di rumah sakit?" Tanya Jacky.


"Mana kutahu Jack. Setahu gue tadi siang Pak Nathan panik gitu. Entah aku juga tidak tahu. Tapi selintas gue denger sih masalah Michel hilang."


"Apa ada hubungannya dengan Michel?" Sergah Jacky.


"Tau.."

__ADS_1


"Apa kita perlu cek rumah sakit gitu?" Jacky membicarakan idenya pada Ratna.


"Tidak."


__ADS_2