Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Rindu dalam diam


__ADS_3

Raisya menatap ke depan dengan wajah bahagianya. Rasa damai dan tentram baru saja hadir. Dia tidak memikirkan beban-bebannya selama ini. Tempat itu sunyi sepi dan damai.


"Kamu senang disini?" Laki-laki di sampingnya memeluk bahunya dengan penuh perasaan. Di wajahnya pun terlihat kebahagiaan setelah sekian purnama dia merindukan perempuan yang ada di sampingnya itu hadir di sisinya. Tuhan bermurah hati, mengabulkan keinginannya walau tidak tahu berapa lama perempuan itu akan bersamanya. Wajah keduanya seolah sedang menatap ke depan dengan angan yang melayang.


"Mmm." Jawab Raisya sambil tersenyum. Di wajahnya tak terlihat sedikitpun beban. Malah dia bahagia bisa bertemu dengan seseorang yang mungkin pernah dirinduinya dalam waktu yang lalu.


Keduanya menatap ke depan danau yang tenang. Sesekali riak-riak air terlihat bergerak tertiup angin sepoi. Dengan tatapan tenang setenang air danau yang begitu menyejukkan. Semilir angin menerpa kedua wajah itu seolah membelai lembut dan menyapanya.


*****


Aisyah menyeka tubuh Raisya yang sudah hampir seminggu ini mengalami koma. Dia terlihat begitu tenang seperti tertidur pulas dengan sesekali tersungging senyum dari kedua ujung bibirnya. Entah apa yang sedang dimimpikannya.


"Mas.. kapan mbak Raisya sadar?" Aisyah agak mengkhawatirkan keadaan Raisya yang tak kunjung sadar. Meski hubungan keduanya awalnya asing, entah kenapa Aisyah begitu sangat cemas pada keadaan Raisya. Mungkin selama ini Aisyah maupun Anwar dibesarkan sebagai anak yatim piatu di sebuah panti, sehingga keduanya merasakan rasa persaudaraan yang erat pada Raisya meski tidak ada hubungan darah.


"Kata dokter sih keadaan kesehatannya sudah membaik. Tapi mungkin otak bawah sadarnya yang menginginkan dia tertidur tenang, ingin istirahat dari penatnya masalah yang dihadapi mbak Raisya." Anwar sudah beberapa konsultasi pada dokter menanyakan keadaan Raisya. Dokter hanya menerangkan secara medis.


"Kita doakan semoga mbak Raisya cepat sadar. Kasihan anaknya sudah bolak-balik kesini merindukan ibunya." Aisyah menatap iba pada Raisya. Hampir tiap hari kedua anak Raisya, Michel dan Arsel selalu datang ke ruangan itu untuk melihat keadaan ibunya yang belum. sadarkan diri juga.


"Aamiin." Anwar mengamini kata-kata Aisyah. Anwar menemani istrinya karena hari ini adalah hari libur kerja. Biasanya dia akan datang di malam hari sepulang kerja. Padahal keluarga Alberto sudah menyewa suster untuk menunggu Raisya. Tapi Aisyah tak mau meninggalkan Raisya barang semenit pun. Rasa sayangnya sudah besar pada Raisya. Dia yang merindukan seorang saudara seperti sudah mempunyai kakak sendiri. Ikatan batin itu tumbuh begitu saja setelah Raisya tinggal bersaman pasangan suami istri itu.


"Assalamu'alaikum." Pintu terbuka. Ratna dan Irwan muncul dari balik pintu.

__ADS_1


"Waalaikumsalam." Jawab Aisyah dan Anwar melihat ke arah pintu. Keduanya sudah saling mengenal sejak Jacky datang ke rumah sakit dan memberitahu keberadaan Raisya pada sahabatnya itu.


"Kalian sarapan dulu gih! Aku bawakan kalian makan. Sebaiknya kalian istirahatlah! Biar hari ini kami akan menungguinya di sini." Ratna mengusap bahu Aisyah dengan lembut. Dia sangat berterimakasih pada pasangan suami istri itu yang telah menolong Raisya dari awal kepergiannya.


Aisyah menoleh pada Anwar. Suaminya mengangguk mengiyakan apa yang disarankan Ratna.


"Baiklah. Kami makan dulu ya mbak Ratna." Aisyah duduk di sofa bersama Anwar untuk membuka bekal makanan yang dibawa Ratna, mereka pun sarapan dengan tenang karena Ratna dan Irwan duduk di pinggir ranjang Raisya.


"Iya silahkan." Irwan dan Ratna mempersilahkan keduanya untuk makan.


Ratna mengusap punggung tangan Raisya yang terbebas dari infus.


"Sya.. aku datang sama Irwan. Kamu bangun Sya.. aku kangen sama kamu." Bisik Ratna sambil mengusap-ngusap tangan Raisya. Yang diusap tetap tak bergerak, tapi sepertinya dia terlihat tersenyum seperti merespon apa yang dikatakan Ratna. Irwan dan Ratna memperhatikan wajah Raisya dengan inten.


"Sabar beb.. Dia butuh istirahat mungkin. Kalau secara kesehatan bagus, berarti tidak ada masalah. Aku merasa kasihan sama dia, hidupnya selalu saja diuji. Dia pasti bisa melewatinya dengan baik. Mungkin sekarang dia butuh ketenangan." Ucap Irwan yang melihat wajah Raisya begitu tenang seolah dia sedang bermimpi baik.


"Aku takut kalau dia tidak bangun lagi." Raut wajah Ratna terlihat cemas membuat orang yang ada di ruangan itu melihat ke arahnya. Ratna berkata begitu bukan tanpa alasan, karena ini kali ke dua dia melihat sahabatnya koma paska melahirkan.


"Sst.. jangan begitu. Kita tidak boleh berkata yang tidak baik di depan orang koma. Raganya memang tidak bergerak tapi telinga dan pikirannya bekerja. Kita sisipkan kata yang baik dan doa-doa. Agar Raisya mau kembali sadar." Irwan mengusap punggung Ratna dengan penuh kasih sayang. Dia tahu istrinya ini paling sayang sama sahabatnya. Apa yang menimpa sahabatnya, pasti dia ikut merasakannya.


"Maaf.. aku khilaf." Ratna menoleh ke wajah Irwan.

__ADS_1


"Ajak ngobrol dan bersemangat saja! Kata dokter itu lebih baik. Karena bisa menyemangati pasien untuk bangun kembali. Aku yakin Raisya wanita yang kuat." Irwan ikut menatap Raisya yang begitu tenang. Meski dalam hatinya dia pun sama cemasnya, dia tidak boleh menunjukkan sisi lemahnya di hadapan siapapun.


"Assalamu'alaikum." Pintu kembali terbuka.


"Eh.. papa sama bunda.. " Arsel datang bersama Michel diantar nyonya besar.. Arsel langsung berlari menghampiri Irwan.


"Eh sayang papa... mmuah." Irwan langsung memangku anak tampan itu lalu menciumi wajah gemesnya. Sejak tinggal bersama tuan Robert Irwan jarang sekali melihat Arsel dan juga Michel.


Michel menciumi semua punggung tangan yang berada di ruangan itu. Aisyah dan Anwar mengangguk menghormati nyonya besar yang baru saja mengantarkan kedua cucunya itu.


"Mau cium mama sayang?" Irwan menawari Arsel. untuk mencium Raisya.


"Aku dulu! Kamu belakang." Michel langsung duluan menghampiri Raisya dan memeluk badan Raisya yang sedang terbaring.


"Mama.. aku datang.. " Michel begitu bahagia bisa bertemu lagi dengan Raisya. Meski keadaan Raisya tak memberi respon apapun.


Michel langsung menciumi kening Raisya juga pipinya. Dia kembali memeluk Raisya penuh rasa rindu.


"Kakak.. Acel mau. Kakak awas!" Arsel melihat Michel menempel pada badan Raisya, merasa tak sabar ingin segera memeluk ibunya yang sudah lama tidak melihatnya.


"Gak mau. Mama milik kakak." Michel malah menggoda Arsel.

__ADS_1


"Ih.. kamu.. malah seneng menggoda adik kamu." Nyonya besar agak mengerucutkan bibir nya pada Michel.


"Ya udah.. Arsel sebelah sini ya! Biar bisa tidur sama mama dan bisa peluk. Awas kena selang infus mama!" Irwan memutar kesebelah kanan dan menempatkan Arsel di sebelah kanan Raisya. Anak itu mulai tersenyum lalu mencium pipi Raisya dan memeluk badan Raisya dari arah kanan. Sekarang dua anak sedang menempel di badan Raisya.


__ADS_2