
Hari ini Raisya sangat senang. Karena tepat satu bulan dia bekerja dengan perusahaan konsultan Desain dan Arsitektur milik Beny. Ada sumeringah di bibirnya begitu dia melihat pemberitahuan dalam handphonenya, bahwa angka saldonya bertambah.
Uang yang masuk ke dalam rekeningnya memang tak seberapa dibanding dengan uang upah menjaga Michel. Tapi Raisya lebih merasa bahagia menerima uang hasil kerjanya yang diterima dengan hati ikhlas dibanding dengan uang besar tapi diterima dengan hati terpaksa.
"Wah.. kok numben ada yang naroh kaya ginian di meja?" Rio menatap kotak yang berisi kue tart yang dihias namanya dengan sebuah emosi🤗🤪
"Maaf baru ngasih itu ya bang. Gaji aku gak gede, jadi agak ngirit gak pa-pa kan?" Raisya tersenyum malu.
"Oh ceritanya gaji pertama ya... oke lah gue gak masalah selama neng Raisya yang ngasih. Abang ikhlas dan bahagia menerima kue ini. Apalagi kalau neng Raisya ngasih jantung sama hati buat abang.. wah pasti abang langsung lamar deh ke penghulu." Cicit Rio sambil bercanda.
"Halo.. pagi semua." Ria sekarang sudah mulai bergabung full dengan perusahaan Beny. Biasanya dia datang di waktu makan siang, tapi sekarang pagi-pagi sudah absen on.
Ria memang sama dengan Raisya. Dia bekerja sampingan di perusahaan Beny. Kalau kemarin-kemarin masih belum mendapatkan izin dari bos Andre kalau keluar dari perusahaannya, dengan alasan belum mendapatkan gantinya.
"Makan apaan itu kak?" Ria segera menghampiri meja Rio kembarannya beda gender.
"Yang jelas bukan racun dek." Jawab Rio sambil menyendok kue itu ke mulutnya.
"Bagi donk!" Mata Ria seakan menyampaikan ke otak untuk menstimulasi perutnya agar dia ikut menikmati kue yang sedang dicicipi Rio.
"Sana ah.. lihat ada di mejamu juga!" Rio mengurung kotak kue itu agar tidak direbut adiknya Ria.
"Oh ya?" Ria buru-buru mendekati meja kerjanya untuk melihat apa benar yang dikatakan Rio.
"Weis.. keren milik gue. Green tea... Tapi kenapa juga emosinya kaya gini amat?" Ria melihat emosi yang ditempel di atas kue nya agak nyeleneh.🧜♀️
"He he." Raisya hanya nyengir kuda mendengar protesnya Ria.
"Tapi ma kasih ya Raisya! Lu tau banget kesukaan gue green tea." Ria terlihat senang mendapatkan kue bole rasa green tea yang menjadi kesukaannya.
"Sama-sama. Maaf aku cuman baru bisa ngasih itu mbak!" Cicit Raisya tak ingin mengecewakan para seniornya.
"Gak pa-pa gue suka kok!" Ria gak sabar untuk melahap kue kesukaannya bersama segelas teh hangat manis yang diambilnya dari coffe shop.
"Bang Beny belum turun ya?" Raisya bertanya pada Rio.
"Dia masih molor. Tadi malam madam nya pulang. Jadi kecapean harus jemput ke bandara tengah malam." Terang Rio pada Raisya.
"Ohh. Emang ibunya bang Beny tinggal dimana?" Raisya belum tahu seluk beluk bosnya yang satu bulan ini dia bekerja dengannya. Raisya memang buka tipe kepoan untuk urusan pribadi.
__ADS_1
"Lagi di Amrik sih. Sehari-hari dia emang disini, kan punya butik di sebelah." ucap Rio.
"Oh... jadi butik yang disebelah punya ibunya bang Beny?" Raisya baru mengetahui kalau butik yang berada di gedung sebelah adalah milik ibunya Beny.
"He he.. sebentar lagi kamu bakal jadi korban dia loh Raisya!" Ria tiba-tiba berucap begitu.
"Maksudnya bagaimana?" Raisya yang masih baru, belum tahu kebiasaan keluarga bosnya itu.
"Ya, tunggu saja action dia. Kalau sama aku sih gak mempan." Ria duduk di meja kerjanya dan langsung membuka layar komputer.
Raisya mengerutkan alisnya. Tidak mengerti dengan maksud 'korban'
Ah bodo amat! Selama tidak mengganggu pekerjaan gue. Ngapain harus gue pikiran. MM aja lah...
Raisya bergumam sendiri. Tak mau ambil pusing dengan segala kehidupan orang lain. Kehidupan dia pun cukup menyita waktu, apalagi harus memikirkan yang lainnya.
Kring
Kring
Kring
"Mamah?" Raisya mengerutkan alis.
"Assalamu'alaikum." Raisya mengangkat panggilan dari ibunya
"Waalaikumsalam."
"Apa kabar mah?" Raisya menanyakan kabar ibunya.
"Alhamdulillah."
"Ada apa mah?" Raisya memulai bertanya.
"Raisya. Bisa pulang dulu gak? Mamah ada perlu."
"Perlu apa mah?" Raisya penasaran.
"Uang yang bulan kemarin diterima dari bank tidak cukup untuk melanjutkan membangun rumah. Kamu bisa carikan pinjaman sekitar 300 juta?"
__ADS_1
"Apa tiga ratus juta???" Jantung Raisya seolah melompat dari tempatnya.
"Iya. Kamu bisa minta pinjaman dari kantor kan?" Tanya ibunya Raisya dengan entengnya.
"Duh mah moal mungkin atuh kantor masihan artis dugi 300 juta."(Gak mungkin kantor memberi pinjaman sampai 300 juta)
" Ya.. pokoknya terserah kamu. Pokoknya mamah butuh uang buat menyelesaikan membangun rumah. Masa kamu tega Raisya mamah ngontrak di petak?"
"Iya mah.. tapi kemana harus mencari pinjaman. Raisya juga bingung kalau gede-gede gitu!" Raisya bingung untuk mencari pinjaman sebesar itu.
"Terserah kamu. Pokoknya mamah tahu ada aja. Malu sama tetangga kalau rumah kita tidak beres Raisya." Ucap Ibunya Raisya yang tidak mau tahu.
"Iya mah.. tapi Raisya gak mungkin bisa." Pikiran Raisya menjadi buntu.
"Pokoknya mamah gak mau tahu Raisya, pokoknya kudu ada!" Telepon pun putus tanpa permisi.
"Astaghfirullah.. darimana aku dapat uang segitu banyak." Tangan Raisya menopang kepalanya sehingga miring.
"Heh.. ngelamun. Dapat gaji sudah merenggut lagi!" Ria mengagetkan Raisya yang tengah bingung memikirkan sejumlah uang yang diminta ibunya.
"Eh mbak.. " Raisya kembali menegakkan badan dan menormalkan pikirannya agar tidak kelihatan oleh Ria.
"Aku mau keluar ya! Kalau elu gak banyak kerja mua gue ajak ke tempat workshop biar sekalian menghitung. Tapi di kantor lagi kosong jadi kepaksa gue berangkat sendiri." Ria nampak nyaman bergaul dengan Raisya setelah mengenalnya selama satu bulan ini.
"He he iya mbak. Aku juga senang bisa jalan-jalan sama mbak. Tapi saya kan disuruh stay di kantor kata bang Beny." Cicit Raisya.
"Ya udah hati-hati! Gue berangkat dulu!" Pamit Ria akan berangkat ke workshop.
"Mbak juga hati-hati ya!" Ucap Raisya membalas.
"Dah." Ria langsung turun sambil membawa tas gendong nya. Kalau sekilas Ria mirip laki-laki karena perawakannya benar-benar datar depan belakang.
Raisya meneruskan pekerjaannya memasukkan semua data-data ke komputer dan membuat hasilnya lalu mencetaknya di mesin printer. Sudah itu dia membundel satu laporan yang dianggapnya sudah selesai.
"Hai.. " Suaa perempuan terdengar dari arah tangga.
Sosok perempuan fashionable seumuran 50tahunan menyembul dari anak tangga. Wajahnya terlihat muda dari usianya.
"Kamu pegawai baru sayang?" Wanita itu mengamati dari atas sampai bawah penampilan Raisya sambil membuka kacamatanya.
__ADS_1
"Iya." Jawab Raisya