
flash back
"Peter.. " Suara Sarah terdengar berat. Wajahnya nampak serius dan dia sedang menyusun kata untuk berbicara pada Peter kali ini.
"Apa Sar? Serius banget kamu!" Peter mengamati detail gerak-gerik Sarah. Pagi ini Sarah mengajaknya bertemu empat mata dengan Peter secara resmi di sebuah cafe di Bali. Padahal di hotel pun dia selalu bertemu.
"Mmm.. Aku.. mau mengucapkan banyak terimakasih sama kamu Peter." Kalimat ini dipilih Sarah untuk mengawali pembicaraannya dengan Peter.
"Ha... Biasa aja kamu Sar! Aku kok jadi gerogi gini kaya mau pisahan aja!" Hati kecil Peter sebenarnya sedang ketat-ketir melihat gelagat Sarah.
"He.. " Ingin sekali Sarah menepis rasa gelisah nya hari ini. Benar sekali ini seperti perpisahan yang berat untuk dilakukan.
"Aku.. sebenarnya sangat takut Peter." Ucap Sarah akhirnya mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya saat ini.
"Ah.. Sar... Sebenarnya ada apa sih? Jangan buat gue deg-degan kaya gini donk!" Peter pun merasakan hal yang sama.
"Aku mau menyerahkan Peter!' Sarah menyodorkan amplop coklat yang berisi surat perjanjian yang dulu pernah dibuatnya. Dan sekarang Sarah sudah menyiapkan satu berkas perjanjian yang baru bersama Peter.
Peter membuka amplop itu dan membacanya secara seksama. Sepasang bola mata itu sedang menelaah satu persatu kalimat yang ada dalam kertas-kertas itu. Setelah selesai membacanya, Peter menghempaskan kertas itu di atas meja. Lalu dia mengusap wajahnya kasar. Beberapa tarikan nafas terdengar kasar Peter lalu membuangnya dengan sekaligus.
"Hah... " Suara itu seperti mewakili beban yang ada dalam hatinya.
"Jadi hari ini kamu mau melunasi utang kamu Sar?" Peter melihat ke arah Sarah lalu dia menggigit jarinya.
"Iya. Maaf kalau aku baru bisa melunasi uang yang kamu minta dahulu." Ucap Sarah dengan berat.
"Malah aku berharap kamu tidak bisa membayarnya." Terang Peter sedikit mengungkapkan niatnya.
"Kenapa?" Tanya Sarah heran.
"Kamu pikir kenapa aku menekan kamu dengan uang 20 Milyar itu?"
"Hhmmm... tak tahu." Sarah menggelengkan kepalanya.
"Kamu pikir aku butuh uang itu?" Peter sedang menguji Sarah seberapa besar dia mengenalnya.
"Aku tidak tahu. Yang aku tahu apa yang aku dengar dan apa yang kau minta. Bukankah dulu kamu pernah mengatakan bahwa di dunia ini tak ada yang gratis Peter? Aku tak bisa menebak isi hati seseorang kalau bukan orang itu sendiri yang berbicara."
"Betul.. " Steve mengubah duduknya lalu mendekatkan tubuhnya ke meja lalu menatap Sarah dengan inten.
__ADS_1
"Aku ingin dibayar dengan bunganya!"
"Maksudmu?" Sarah langsung mengerutkan dahinya. Tak mengerti apa maksud bunga yang dikatakan Peter.
"Kamu bayar menyicil selama tiga tahun, sedangkan aku mengurus Raisya cash tidak dicicil. Apa pantas pembayaran uang itu disamakan?" Peter menatap Sarah dengan tatapan sedih. Dia terpaksa menjadi orang terkejam sepanjang sejarah hidupnya. Hanya satu yang dia inginkan, tapi bukan harta.
"Peter.. .? Sarah tak menyangka bahwa sahabatnya bisa sekejam ini.
"Berapa yang kau inginkan?" Sarah tak ingin berdebat dengan Peter mengingat jasa Peter pun besar pada Raisya. Karena Sarah mengerti bagaimana berharganya sebuah nyawa, bahkan kalau ditukar dengan harta tak bisa dinilai dengan nominalnya.
"Aku ingin 30 persen. Bagaimana?" Peter melebarkan matanya ingin melihat reaksi Sarah.
"Berarti 6 Milyar?" Sarah langsung terhenyak dengan nominal yang diminta Peter. Otaknya langsung bekerja menghitung aset dan tabungannya yang ada.
"Kamu sanggup?" Tanya Peter kembali.
"Bagaimana kalau aku tidak sanggup Peter. Aku tak mungkin terus-terusan bekerja begitu juga dengan Raisya. Aku atas nama pertemanan meminta sama kamu.. bisakah aku memberikan lebih sesuai dengan kemampuanku Peter?"
"Tidak."
Deg
Sarah terkulai lemas. Dia menunduk di atas meja. Tak tahu harus berbuat apalagi. Rasanya dia ingin menyerah tapi tidak bisa. Tak terasa cairan bening turun dari kedua pelupuk matanya. Sarah terlihat rapuh menghadapi kenyataan.
"Baik.. Aku menyetujuinya. Aku akan mencari uang sebesar 6Milyar sebagai bunganya. Tanda tangani dulu surat itu. Aku harap setelah aku membayar uang itu, kamu tak meminta lagi dan aku.. tak ingin bertemu lagi dengan kamu. Anggap saja kita tak pernah bertemu." Sarah bangkit lalu pergi meninggalkan Peter yang masih duduk dengan menatap Sarah sedih.
Baik Sarah.. sampai saat ini pun kamu tak pernah menganggapku ada. Maka aku akan pergi. Aku sudah lelah dengan sikapmu.
Peter bangkit dari tempat duduknya mengambil kertas-kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah.
Dia mengetikkan pesan dalam sebuah aplikasi untuk Sarah.
"Baik anggap kita tidak pernah bertemu. Dan jangan pernah menemuiku lagi! Semua uang yang kau tranferkan sudah aku kembalikan ke rekening mu. Aku tak butuh uang, aku hanya butuh kamu sebagai belahan jiwaku. Selama ini aku hanya menahan itu demi satu hal. Tapi sayangnya sampai saat ini kamu tak pernah memandangku ada."
Peter mengirimkan pesan itu untuk terakhir kalinya. Dia langsung memblokir nomor Sarah juga Raisya. Dia pergi ke hotel untuk berkemas dan kembali ke negaranya.
Sementara Sarah dengan deraian air mata langsung pergi meninggalkan Peter. Ada sesak yang dirasakan Sarah. Hampir saja dia putus asa dibuat Peter. Sekian lama dia bersahabat dengannya harus berakhir seperti itu.
Kring
__ADS_1
Kring
Kring
"Iya halo." Suara Sarah agak parau.
"Aku ingin kamu mendatangiku segera sebelum semua hal buruk terjadi pada kalian." Suara berat itu membuat irama jantung Sarah berdetak lebih kencang.
Tuan Robert
"Dimana saya harus menemui anda?" Sarah tak bisa tidak menolak permintaan mantan mertuanya itu.
"Hotel xxx."
"Baik. Saya segera ke sana!" Sarah harus menyiapkan amunisi lebih untuk menghadapi mantan mertuanya ini. Tiga tahun ini dia bisa bernafas dengan lega dari kungkungan keluarga itu.
Tak lama kemudian Sarah sudah sampai di hotel yang dituju. Dia memarkirkan mobilnya lalu memasuki hotel dengan irama jantungnya kian mengencang tak beraturan.
Tling
Pintu lift terbuka. Pandangan Sarah langsung dihiasi dengan berderetnya beberapa bodyguard sepanjang lorong.
"Mari nona. Anda sudah ditunggu!" Seorang asisten yang telah dikenal Sarah mengantarkannya ke satu ruangan. Tak lain dia adalah Reza.
Tok
Tok
"Masuk!" Seseorang menyuruhnya masuk.
"Mari nona!" Reza membukakan pintu untuk Sarah.
Keduanya masuk ke dalam ruangan itu. Di sana sudah berdiri laki-laki paruh baya yang masih terlihat gagah sambil menyesap gerutunya.
Dia mengibaskan tangannya mengisyaratkan supaya Reza pergi. Reza pun berlalu meninggalkan ruangan itu.
"Duduklah!" Tuan Robert menyuruh Sarah duduk.
Sarah pun duduk dengan setengah gemetar.
__ADS_1
"Apa kabarmu dan Raisya?" Suara berat itu menanyakan kabar Sarah juga Raisya.
"Baik. Bagaimana dengan anda sendiri?"