Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Insting


__ADS_3

Malam beranjak larut. Suara kodok dan jengkrik saling bersahutan. Rumah pak Ahmad dan bu Suri yang jauh dari rumah penduduk yang lainnya menambah kesan sepinya kalau malam hari.


Kedatangan Michel sebenarnya disambut antusias oleh pasangan suami istri yang sudah mulai tua renta. Pasalnya mereka memang tidak mempunyai anak.


Michel masih membuka mata. Meski sambutan dari pak Ahmad dan bu Suri sangatlah baik, tapi ini pertama kali buat Michel tidur di rumah asing apalagi kondisi rumahnya jauh bah langit dan bumi dengan apa yang selama ini dimilikinya.


"Michel masih belum bisa tidur?" Bu Suri yang satu kasur mengamati Michel yang sedari tadi membolak-balikan badannya.


"Mmm." Michel menjawab dengan pelan.


"Sini sayang.. biar ibu peluk agar Michel cepat tidur. Tadi sudah berdoa belum?" Tanya bu Suri sambil menawarkan diri untuk memeluknya. Bi Suri sangat senang karena ini juga kali pertama memeluk seorang anak walau usianya sudah abg.


Michel mendekatkan tubuhnya pada bu Suri. Lalu diusapnya pucuk kepala Michel layaknya anak kecil ketika mau tidur.


Perlahan Michel mulai mendapatkan ketenangan dan mengantuk. Dia tertidur lelap didalam pelukan wanita paruh baya itu.


Bu Suri tersenyum melihat Michel yang cantik sekali tidur dalam dekapannya. Dia belum berniat menanyakan lebih jauh asal usulnya. Selain takut Michel tidak nyaman, dia pun sebenarnya merindukan kehadiran seorang anak. Dia akan membiarkan Michel betah lebih lama tinggal di rumahnya.


Di lain tempat, Nathan masih tinggal di kantor. Setelah tadi pulang dari kantor polisi, dia bingung harus mencari Michel. Pulang ke rumah pun rasanya enggan. Dia memijat pelipisnya karena sakit di kepalanya kian berdenyut.


"Maafkan daddy Michel... " Suara lirih itu terdengar menyayat hati. Nathan tak mampu menahan air matanya yang jatuh karena dia seperti rapuh kehilangan orang yang selama ini sangat dicintainya.


Beberapa kali handphonenya ditekan pada nomor yang sama tapi nada mesin operatorlah yang selalu menjawab.


Nathan dan Irwan sudah menyuruh beberapa orang sewaan untuk terus menelusuri keberadaan Michel saat ini. Raganya kini terasa lelah. Nathan hanya mampu membaringkan tubuhnya di atas sofa yang berada di ruangan kerja tanpa selimut dan bantal.


Sementara itu, Raisya di kediaman Ratna masih terisak. Ratna dari tadi sudah berusaha menenangkan Raisya. Kabar dari kepolisian dan orang-orang suruhan belum juga bisa mengabarkan berita baik tentang Michel, hal itu membuat Raisya tetap menangis. Matanya kian membengkak.

__ADS_1


"Mama... Acel ngantuk." Rengekan Arsel menyadarkan Raisya akan keberadaan putranya yang dari terabaikan.


"Arsel mau tidur sayang?" Ratna buru-buru memangku anak itu yang tadi asik bermain dengan anak kembarnya.


"Acel mau cama mama. Bukan cama bunda." Tolak anak itu sambil menatap wajah ibunya.


Tangan munggil yang menggemaskan itu perlahan mengusap wajah Raisya. Raisya tersenyum melihat pergerakan Arsel.


"Mama.. napa nangis? Cedih?" Arsel begitu inten melihat Raisya menebak-nebak apa yang dirasakan Ibunya.


"Enggak sayang." Raisya langsung memeluk Arsel dan mendekapnya dalam dada.


Arsel yang mendapatkan pelukan dari ibunya membenamkan kepalanya di dada Raisya.


"Sya... tidurlah! Tidak baik kamu terus menangis. Kita sedang berusaha mencari keberadaan Michel. Kita berdoa saja agar Michel cepat ditemukan." Ratna melihat Arsel sudah mengantuk dan tak ingin Raisya berlarut-larut dalam kesedihan.


"Iya Rat. Aku menyesal tidak menyuruhnya tinggal bersamaku. Kamu sendiri kan si psikopat itu bagaimana. Aku takut dia menyiksanya dan Michel kabur lalu tidak ada yang menolongnya Rat." Bayang-bayang keburukan yang menjmpa dirinya kini hadir di benak Raisya. Dia takut Nathan memperlakukan hal yang sama pada Michel.


"Iya. Tapi kok aku... kaya punya pirasat ya Rat." Raisya melihat Ratna.


"Seperti kemarin, dia bisa cepat menemukan aku Rat. Insting aku sama dia kaya ibu dan anak. Apa Michel mendatangi kuburan aku?" Raisya beberapa kali pernah mendengar dari Michel kalau dirinya senang mendatangi kuburan tanpa jasad kalau hatinya sedang galau.


"Oh ya?" Ratna mengerutkan dahi sedang mencerna apa yang baru saja dikatakan Raisya tentang kebiasaan Michel.


"Nanti aku bicarakan sama Irwan. Kamu istirahat saja dulu! Kasian Arsel sudah tidur Sya!" Mata Ratna tertuju pada Arsel yang sudah memejamkan matanya di dada Raisya.


"Mmm." Raisya bangkit dari kursi lalu membaringkan Arsel di ranjang.

__ADS_1


"Aku tinggal dulu ya Sya! Tenang aja, sekarang aku sama Irwan sudah menyewa satpam untuk berjaga di depan rumah. Jadi kalau ada apa-apa kamu aman Sya!" Ucap Ratna menenangkan sahabatnya itu agar cepat istirahat.


"Mmm.. Terima kasih ya Rat! Aku banyak merepotkan kamu." Ucap Raisya pada sahabatnya.


"Iya. Selamat istirahat!" Ratna menutu pintu kamar Raisya lalu berjalan melihat kamar si kembar. Di lihatnya dua anak kembarnya yang sudah tertidur. Lalu Ratna menyusul Irwan ke tempat tidur untuk beristirahat.


"Bagaimana Raisya beb?" Irwan yang masih melihat-lihat layar handphone setelah menidurkan si kembar penasaran dengan keadaan Raisya yang sedari tadi menangis.


"Barusan sudah aku suruh istirahat ke kamar. Kasian kan Arsel sudah mengantuk. Untungnya anak itu tidak rewel seperti biasanya. Mungkin kasihan melihat ibunya sedih seperti itu." Ratna berbaring di samping Irwan suaminya.


"Mmm... " Aku juga agak pusing melihat rumitnya perjalanan hidup Raisya. Ya... dia termasuk perempuan kuat. Apalagi sekarang dihadapkan dengan Nathan kembali. Sebenarnya kalau bukan karena Michel aku malas banget bantu dia." Irwan melihat Ratna.


"Mmm... aku juga. Aku pengen sekali gebukin dia buat balas sakit hati Raisya sejak dulu. Aku kadang juga kesel sama Raisya kok mau-maunya menikah sama dia?" Ratna menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan sikap yang diambil Raisya selama ini.


"Ya.. kayanya jodoh beb.. " Irwan mulai memeluk Ratna dan bergerilya.


"Eh.. dengerin dulu akun yang.. tadi Raisya bilang sesuatu ke aku." Ratna melihat suaminya yang sudah merem melek.


"Apa beb..?" Irwan sedang memindai istrinya denga indra peraba.


"Ayang.. udah cari ke kuburan Raisya belum?"


Irwan langsung terhenyak. Lalu langsung melebarkan matanya menatap Ratna.


"Gue.. gak kepikiran kesitu beb.." Irwan langsung sadar bahwa satu tempat dilewatinya.


"Sebentar.. gue mau telepon si Nathan." Irwan langsung menekan nomor Nathan.

__ADS_1


"Halo.."


"Kita ke kuburan sekarang!"


__ADS_2