Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Rantai cekikan


__ADS_3

"Mau dibawa kemana aku?" Raisya ketakutan. Mengingat dia tahu betul karakter Nathan yang suka nekad.


Nathan menatap ke depan terus melajukan mobilnya tanpa menghiraukan pertanyaan dari Raisya. Mobilnya ditancap pada kecepatan di atas rata-rata, itu semakin menciutkan nyali Raisya untuk melawan.


Hanya ada satu tempat yang biasa dikunjunginya jika hati Nathan sedang galau. Yaitu sebuah villa kecil di pinggir pantai yang dulu pernah dibelinya sewaktu dia belum mempunyai Michel. Tempat ini biasa dikunjunginya jika sedang berlibur ke Indonesia. Sehari-hari villa itu kosong dan hanya diurus oleh seorang pelayanan.


Tak lama kemudian mobilnya terparkir di depan villa. Suasananya sepi sekali, hanya terdengar deburan ombak yang menyentuh batu karang saling bersusulan datang dan pergi. Tak ada orang yang berlalu lalang di sekitar daerah itu. Mirip tempat untuk bersembunyi.


Detak jantung Raisya langsung tak tenang melihat mobil yang ditumpanginya terparkir di tempat sepi yang belum dikenalinya. Pikiran-pikiran negatif langsung hinggap begitu saja mengingat kejadian-kejadian yang pernah menimpanya.


Ya ampun.. mau dibawa kemana aku sekarang? Tempat apa ini? Mana gak ada orang lagi. Bagaimana kalau terjadi denganku? Siapa yang akan menolongku? Aku tak membawa handphone lagi.


Raisya hanya bermonolog. Melihat sekitar bangunan yang ada di depannya sangat sepi. Dia mencoba memberanikan diri bertanya baik-baik pada Nathan. Berharap dia berbaik hati tidak akan melakukan kekerasan pada dirinya.


"Pak Nathan ini tempat apa?" Suara Raisya terdengar gugup. Dia menoleh ke samping memperhatikan Nathan yang sedang menatap ke depan dengan tatapan kosong.


Nathan hanya terdiam. Tak menjawab pertanyaan Raisya. Dia sedang membayangkan kenangan-kenangannya di masa lalu yang kini seolah hadir di depan matanya. Ketika seseorang yang dia cintai meninggalkannya dan itu sangat membekas di hati Nathan.


Hari ini ketika Raisya berkata ingin mengundurkan diri dari perusahaan seolah kata itu membangkitkan rasa sakit yang dulu pernah dia rasakan. Rupanya ada hal yang sama yang Nathan rasakan saat ini. Luka batin yang telah menorehkan luka yang dalam di hatinya seolah kembali menganga.


Jiwa Nathan begitu rapuh walaupun di luar dia nampak kuat dan keras. Dia seperti hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang kelabu. Dimana sejak kecil dia sering melihat kekerasan dan sering pula diperlakukan keras oleh ibunya juga tuan Robert. Sampai sekarang kejadian itu membekas dan membentuk karakternya seperti itu.


Nathan keluar dari mobilnya perlahan dia mengamati lingkungan sekelilingnya. Dirasa aman dia membalikkan badannya. Dilihat Raisya masih di dalam mobilnya diam terpaku dengan bibir bergetar.


Raisya tak berani turun apalagi ini di tempat asing. Tak akan ada seorang pun yang akan menolongnya jika terjadi apa-apa dengannya.


Tangannya begitu dingin dan gemetar. Dia masih ketakutan menghadapi Nathan apalagi di tempat terpencil sepi seperti ini.


"Turun!" Suara Bentakan Nathan cukup keras terdengar di telinga Raisya. Dengan diselimuti ketakutan Raisya membuka safetbeltnya namun karena dia gerogi tali sabuk itu mendadak sulit dibuka.


Nathan yang tak sabar langsung membuka pintu dan menarik paksa Raisya.


"Aww sakit." Raisya meringis kesakitan.

__ADS_1


"Dasar bodoh. Membuka ini saja sulit!" Ketus Nathan membuka safetbelt nya lalu menarik tangan Raisya menyeretnya masuk ke dalam villa.


Raisya meronta-meronta untuk bisa lepas dari genggaman Nathan. Badannya yang ramping dan ringan tak mampu menghalau kekuatan Nathan yang cukup besar dan kuat. Akhirnya Raisya kalah.


Bruk


Nathan menghempaskan badan Raisya ke sebuah ranjang yang ada di villa itu.


"Apa yang akan kau lakukan?" Bibir Raisya terlihat gemetar menatap Nathan.


"Apa yang akan aku lakukan?" Nathan mengulang pertanyaan Raisya. Nathan terus maju mendekati Raisya yang duduk di ranjang. Perlahan Raisya mundur ke belakang begitu Nathan terus maju mendekatinya. Matanya yang tajam dan sorot matanya mengandung kebencian membuat Raisya sangat takut.


"Pak Nathan tolong jangan apa-apa kan saya pak!" Suar Raisya terdengar memohon. Bola matanya yang bening segera dipenuhi kristal-kristal yang siap jatuh.


"Pak mohon..jangan apa-apa kan saya! Raisya terus mundur melihat tatapan Nathan yang begitu menakutkannya.


"Aku tidak suka mendengar penolakan apalagi kamu berani meninggalkan aku seperti tadi." Nathan mendekat wajahnya pada Raisya. Kini sudah tidak ada lagi jarak antara Nathan dan Raisya.


"Maafkan aku pak! Saya janji tidak akan keluar dari perusahaan. Asal pak Nathan melepaskan saya pak!" Pinta Raisya dengan deraian air mata.


"Ampun pak! Saya janji tidak akan membantah lagi pak. Tapi tolong lepaskan saya!" Pinta Raisya dengan wajah memohon.


"Saya tidak akan melepaskan kamu. Selamanya kamu akan jadi budak saya!" Nathan tak membiarkan Raisya memohon lagi. Dia langsung menarik kerudungnya dan menarik kemeja yang sedang dipakainya.


"Ampun pak! Sekali lagi maafkan saya! Jangan lakukan ini pada saya pak! Saya janji!" Raisya sudah tak berdaya dalam kungkungan Nathan yang semakin beringas.


Sebagian badan Raisya sudah terbuka. Raisya sulit menutup bagian dadanya karena tertindih Nathan.


Kring


Kring


Kring

__ADS_1


Suara panggilan masuk ke handphone Nathan. Nathan tak begitu mempedulikan suara panggilan itu. Dia malah semakin menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Raisya. Hasrat nya seolah naik ke ubun-ubun dan sulit dikendalikan.


Kring


kring


kring


Suara handphone itu seolah tak mau berhenti dan tak membiarkan Nathan untuk fokus dengan perbuatan bejatnya.


"Sial." Nathan langsung beringsut dari ceruk leher Raisya dan mengambil handphonenya.


Dilihatnya nomor guru Michel tertera di layar handphone.


Deg


Hati Nathan langsung tak tenang. Dia langsung menggeser warna hijau untuk mengangkat panggilan.


Sementara Nathan mengangkat telepon Raisya langsung mengancingkan kemejanya dan mencari kerudung yang tadi dipaksa lepas.


"Halo."


"Iya Halo." Nathan agak gugup menjawab panggilan Nita guru wali Michel.


"Maaf Pak Nathan mengganggu. Saya mau mengabarkan Michel demam. Tadi sudah saya bawa ke ruang UKS tapi demamnya malah bertambah tinggi. Saya harap anda bisa menjemputnya sekarang. Michel menangis ingin dijemput bundanya." Terang Nita pada Nathan.


"Apa? Demam?" Nathan langsung kaget mendengar kabar Michel sakit.


"Padahal tadi pagi dia baik-baik saja. Kenapa sekarang tiba-tiba demam?" Nathan begumam.


"Baik tunggu sekitar 30 menit saya akan menjemputnya ke sana dengan bundanya." Ucap Nathan cemas.


"Baik saya tunggu ya pak! Michel tak mau diobati oleh dokter sekolah. Dia terus menangis meminta bundanya datang." Ucap Nita.

__ADS_1


"Baik. Sekarang juga saya ke sana bu. Tolong jaga anak saya bu!" Nathan langsung menarik Raisya.


__ADS_2