
"Mas.. mbak Raisya sudah hampir satu bulan, kandungannya mesti diperiksa. Bagaimana menurut mas?" Aisyah malah panik, padahal yang hamil Raisya.
"Bujuk aja sama adek agar mau diperiksa." Anwar menatap wajah istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Kemarin sih sudah disinggung tapi mbak Raisya nya kaya yang tidak peduli begitu mas." Jawab Aisyah agak kebingungan.
"Begitu yah. Yah udah sekarang mbak Raisya sedang apa? Biar mas yang bicara!" Mas Anwar mengelus punggung istrinya menenangkan Aisyah.
"Tadi lagi nonton televisi sambil makan." Jawab Aisyah menatap suaminya berharap Raisya bisa dibujuk.
"Ya udah kita kesana! Mudah-mudahan mbak Raisya mau." Anwar tidak banyak ambil pusing. Setidaknya mencoba usaha itu lebih baik daripada tidak.
"Assalamu'alaikum mbak." Anwar ikut duduk di sofa bersama Aisyah. Dia tahu kalau mood ibu hamil suka naik turun, Anwar sedang mengatur nafas agar bisa bicara pada Raisya dengan tenang.
"Iya. Waalaikumsalam." Jawab Raisya menoleh pada sepasang suami istri itu. Dia pun mengecilkan volume televisi agar fokus mendengar.
"Mbak.. kebetulan hari ini saya libur kerja. Mbak mau saya antar ke dokter kandung sekarang tidak? Biar saya dan Aisyah bisa mengantar mbak Raisya ke dokter." Anwar dengan penuh kelembutan berbicara pada Raisya.
"Mmm.. tapi mbak gak mau ke rumah sakit. Mbak mau ke bidan atau ke dokter yang praktik di rumah." Raisya tidak menolak memeriksakan ke dokter, cuman tidak mau dibawa ke rumah sakit. Ada kekhawatiran jika dirinya dibawa ke rumah sakit, akan ditemukan jejaknya. Pasti semua orang kini sedang mencarinya.
"Baik.. kita akan pergi ke dokter. Saya akan cari dulu dokter buka praktek di rumah ya! Mbak dan Aisyah siap-siap aja!" Anwar senang melihat Raisya tidak menolak ajakannya untuk memeriksakan ke dokter.
Raisya merasa nyaman tinggal dengan sepasang suami istri itu, karena selain mereka baik dan perhatian, mereka tidak banyak bertanya akan identitas dirinya selama ini. Entah menjaga perasaannya, entah sungkan untuk bertanya. Mereka hanya bicara seputar kepentingan yang urgen atau memang berkenaan dengan kesehatannya seperti sekarang.
__ADS_1
"Ayo! Sudah siap? Mas udah menemukan tempat praktek dokter yang bagus. Katanya dokter nya juga perempuan. Jadi mbak Raisya bisa nyaman ketika diperiksa." Anwar sudah siap membawa kunci mobil akan mengantarkan Raisya ke dokter kandungan.
Aisyah menggandeng tangan Raisya penuh semangat. Seperti dirinya yang akan berangkat ke dokter. Selama kehamilan Raisya, Aisyah begitu antusias membantu kebutuhan Raisya. Selain dia merasa senang akan kelahiran seorang bayi di rumahnya, dia pun bahagia mendapatkan teman di rumahnya. Dia tidak lagi sendirian jika ditinggalkan suami bekerja ataupun ada kepentingan lainnya. Karena sudah lama Aisyah merasa kesepian di rumahnya sendiri tanpa tan dan anak.
Kedua perempuan itu duduk di bangku belakang.
"Loh.. kok di belakang?" Anwar melihat dari kaca spion, melihat istrinya duduk di belakang bersama Raisya.
"Iya mas. Aku mau di belakang aja! Kan bisa ngemil bareng mbak Raisya." Aisyah ternyata sudah sigap membawa perbekalan. Padahal dia cuman mau ke dokter saja, tapi perbekalan nya begitu lengkap. Mulai dari air minum, camilan dan salad dibawanya dalam tas khusus makanan.
Anwar hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap istrinya yang super protektif.
"Mbak mau makan apa? Nih Aisyah sudah bawa beberapa kesukaan mbak. Jadi mbak Raisya bisa sambil ngemil." Aisyah memperlihatkan beberapa perbekalan nya.
"Mbak pengen jeruk saja!" Raisya seperti dimanjakan oleh sepasang suami istri ini. Semua keinginannya dipenuhi. Untungnya Raisya tidak neko-neko ingin ini itu. Paling dia menyukai buah dan juga makanan segar.
"Terimakasih." Ucap Raisya pada Aisyah.
"Sama-sama." Aisyah begitu ceria menyambut Raisya. Entahlah aura Aisyah begitu terlihat senang dan bersemangat mengantarkan Raisya ke dokter.
Tak lama kemudian sampailah mereka bertiga di satu rumah yang lumayan besar. Di sana terpampang praktek dokter kandungan Tiara. Mobil Anwar pun diparkirkan dengan rapih agar tidak menghalangi pengguna jalan lainnya.
"Yuk mbak turun!" Aisyah lebih dahulu turun dari mobil dia sudah siap siaga akan membantu Raisya turun. Dalam hati Raisya ada perasaan haru atas kebaikan Aisyah yang begitu tulus.
__ADS_1
"Terima kasih Aisyah." Ucap Raisya setelah tangan Aisyah memegang Raisya turun dari mobil.
"Sama-sama." Aisyah tersenyum dari balik cadarnya. Lalu dia menggandeng tangan Raisya dengan erat masuk ke tempat praktek dokter itu.
Anwar yang gesit sudah mendaftarkan Raisya di tempat pendaftaran. Ada beberapa pasangan yang sudah datang dan sedang menunggu panggilan pemeriksaan.
Raisya, Aisyah dan juga Anwar duduk di kursi menunggu giliran panggilan.
Raisya melihat pada pasangan yang lain yang sama sedang menunggu panggilan. Ada rasa sedih di hati Raisya ketika melihat mereka. Ini kali kedua Raisya hamil dan dua-duanya tidak didampingi suami. Ingin rasanya seperti mereka di saat kehamilan selalu ditemani suami. Ketika kehamilan Arsel, Raisya pun hanya ditemani Ratna juga Irwan. Dan kehamilan yang sekarang dia ditemani oleh sepasang suami istri asing. Tanpa terasa mata Raisya mengembun lalu menetes. Raisya buru-buru menyekanya. Aisyah yang berada di samping Raisya langsung menyadari Raisya yang sedang bersedih.
"Ibu hamil tidak boleh bersedih. Nanti dede bayinya ikutan nangis." Aisyah membawa tangan Raisya lalu menggenggamnya erat. Raisya menoleh ke arah Aisyah, dia terharu masih ada orang yang peduli padanya di saat dirinya terpuruk.
"Terima kasih Aisyah. Maafkan mbak yang suka cengeng." Raisya menyeka kembali airmatanya yang keluar dari kedua kelopak matanya.
"Gak pa-pa. Mbak pasti orang yang sabar, dede bayinya juga pasti anak yang sabar kaya ibunya. Jangan sedih ya! Kan ada Aisyah dan mas Anwar yang selalu sayang sama mbak." Ucap Aisyah begitu menenangkan hati Raisya.
"Terimakasih sudah peduli pada mbak." Raisya memeluk Aisyah. Aisyah pun mengusap-ngusap punggung Raisya dengan lembut.
Anwar yang memperhatikan keduanya ikut terharu.
Alhamdulillah.. ya Allah.. kami diberikan kesempatan untuk berbuat baik pada perempuan yang sedang hamil. Kami turut merasakan nikmatnya suasana ini. Sudah lama kami menantikan buah hati, tapi kami bersyukur dengan datangnya mbak Raisya, kami bisa latihan jika suatu saat kami diberikan kesempatan mempunyai anak kami bisa lebih siap.
Anwar dan Aisyah tak pernah mengeluh karena belum dikaruniai anak. Mungkin ujian ini Allah berikan agar mereka bisa lebih sabar.
__ADS_1
Tiba giliran Raisya dipanggil.
"Mas tunggu di luar saja ya dek. Biar adek yang temani mbak Raisya masuk ke dalam." Anwar meski penasaran seperti apa pemeriksaan ibu hamil dia tak boleh melihat aurat perempuan yang bukan muhrimnya. Dia menunggu Raisya dan Aisyah di tempat tunggu.