Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Siapa kamu


__ADS_3

"Adam...!" Jacky membentak kakaknya yang malah tak peduli akan pengorbanannya. Sejak semalam malah dia tidak bisa tidur memikirkan cara bagaimana Adam bisa bertemu dengan mantan istrinya.


"Jangan berteriak! Kepalaku sakit!" Ucap Adam sambil memijat keningnya. Kepalanya masih berat ditambah teriakan Jacky seolah menambah dosis sakitnya.


"Sebaiknya kamu membersihkan diri, lalu sarapan! Kalau tidak, sakit kepalamu akan bertambah hebat." Jacky mengerti betul bagaimana sakit kepala sehabis mabuk. Apalah dua tahun kebelakang Jacky jadi pecandu untuk pelariannya dari masalah yang dihadapinya. Untuk urusan itu sepertinya Jacky sudah khatam.


Adam menurut. Dia berjalan pelan ke arah kamar mandi lalu membersihkan diri meski dia belum bisa menegakkan badannya dengan benar. Tak lama kemudian dia keluar dan mengganti bajunya dengan baju santai. Dia memutuskan untuk izin tidak masuk ke kantor hari ini.


Jacky yang masih duduk setia sambil berselancar dengan handphonenya memperhatikan gerak-gerik Adam.


"Sampai kapan kamu akan berdiam di situ?" Adam merapihkan rambutnya sambil melirik Jacky yang sedang duduk di atas sofa yang ada di kamar tidurnya.


"Cepatlah sarapan! Keburu dingin!" Jacky bukannya menjawab pertanyaan Adam malah menyuruh Adam sarapan. Adiknya yang satu ini sedang mengkhawatirkan kondisi mental dan pisik Adam. Dia tak ingin kakaknya seperti dirinya waktu itu.


Tadi dia menyuruh pelayanan membawakan sarapan ke dalam kamar Adam juga tak lupa menaruh obat sakit kepala di atas nampan agar Adam memakannya juga untuk mengurangi rasa berat di kepalanya.


Meski malas Adam menurut mengambil bubur yang sudah disediakan di atas meja dan memakannya dengan setelah tenaga.


"Kamu beneran tidak mau mencari Sarah?" Jacky melihat Adam yang sedang menyiapkan buburnya.


Adam menggelengkan kepala, bukannya tidak semangat untuk mencari Sarah tapi sekarang ada yang sedang dipikirkan Adam.


"Kenapa?" Jacky mengernyitkan dahi. Adiknya yang satu ini tidak pantas percaya begitu saja dengan sikap Adam yang tiba-tiba kehilangan semangat.


Adam menyudahi acara sarapannya. Dia hanya menghabiskan bubur setengahnya. Lalu dia mengambil air putih dan menelan obat yang sudah disediakan di atas nampan.


"Aku.. tak ingin Sarah pergi lagi. Tiga tahun ini memang tidak mudah menemukan keberadaannya. Sekarang dia datang ke Indonesia mungkin dia merasa aman. Kalau aku sekarang mengejarnya mungkin dia akan pergi lagi dan bersembunyi." Itu alasan Adam untuk tidak menemui Sarah terburu-buru.

__ADS_1


"Bolehkah aku bertanya?" Sudah lama Jacky ingin menanyakan hal ini. Tapi ada rasa sungkan jika dia menanyakan hal privasi ini pada Adam.


"Apa yang ingin kau tahu?" Adam menghempaskan badannya menyandarkan badannya ke sofa dengan menselonjorkan kakinya dengan santai.


"Kenapa Sarah memintamu bercerai?" Akhirnya kalimat itu meluncur juga dari bibir Jacky. Yang setelah sekian lama dia menyimpan rasa penasaran itu dalam kepalanya.


"Entahlah.. yang jelas papih yang tahu." Adam menjawab lemah. Bayangkan itu seolah kembali hadir dalam pikiran Adam. Disaat dia syok menerima amplop coklat gugatan cerai dari Sarah yang diberikan oleh tuan Robert pada waktu itu.


"Apa semua ini ada hubungannya dengan kematian Raisya?" Sejak awal Jacky sudah mencurigai kejanggalan kematian Raisya.


"Maksudmu?" Adam menoleh ke arah Jacky.


"Waktu Raisya kecelakaan apakah Sarah ikut menanganinya di rumah sakit?" Mengingat berita kematian Raisya begitu tertutup banyak rahasia.


"Iya. Karena ketika kecelakaan papih sendiri yang membawanya ke rumah sakit. Raisya kehilangan banyak darah dan tidak bisa tertolong." Itu yang diketahui Adam dari kecelakaan tiga tahun yang lalu yang dialami Raisya. Ini merupakan rahasia keluarga, berhubung kecelakaan itu terjadi di rumah Nathan.


"Apakah Sarah mengetahui masalah yang sebenarnya? Lalu dia diancam papih?" Jacky mencurigai ayahnya sendiri. Dia yang mempunyai kemampuan untuk melenyapkan siapapun yang tak diinginkannya mungkin saja memang mengancam Sarah untuk bercerai.


"Apa? Kamu selingkuh?" Jacky yang mendengar kata 'selingkuh' terhenyak kaget. Dia tak percaya sekelas Adam berselingkuh.


"Gila! Aku tak menyangka salim dirimu bisa berselingkuh!" Jacky mendengus kesal dan kecewa pada perbuatan Adam yang telah menyelingkuhi Sarah. Karena selama ini dia melihat Sarah adalah perempuan baik begitu pun Adam yang hampir tak punya cela di hadapan keluarga.


Adam memejamkan matanya. Dia tahu Jacky sangat kecewa padanya. Bahkan kedekatan Sarah dan Jacky sudah seperti sahabat pastinya jika mendengar dia telah diselingkuhi dirinya akan kecewa.


"Baik.. kalau itu masalahnya. Tapi ada yang masih ingin aku tanyakan lagi padamu?" Ucap Jacky menghabiskan rasa ke penasaran nya.


"Apa lagi? Bisakah kamu diam saja?" Adam yang belum merasa pulih betul tak ingin saat ini terbebani masalah yang berat.

__ADS_1


"Aku pernah bertanya padamu waktu itu. Apakah Sarah mempunyai adik perempuan? Jawab mu, tidak. Tapi.. kenapa sekarang tiba-tiba Sarah mempunyai adik perempuan yang bernama Raisya? Terus apa hubungannya dengan keluarga Raisya? Kamu tahu dimana sekarang Sarah berada?" Jacky yang diam-diam mencari tahu lewat Irwan merasa banyak kejanggalan.


Adam menggelengkan kepalanya.


"Dia sekarang sedang di rumahnya orang tuanya Raisya di Bandung. Apa kamu tidak merasa aneh?" Jacky sedang menguji ketajaman insting Adam.


"Sedang apa mereka?" Adam malah mengajukan pertanyaan.


"Katanya sih sedang menjenguk orang tuanya Raisya. Sejak kapan mereka seakrab itu?" Jacky agak heran dengan berita yang diberikan Irwan.


"Mmm...Setahuku Sarah tidak mempunyai saudara. Tapi dia.. " Sebagian kata-kat Adam menggantung di udara.


"Tapi apa?" Tatapan Jacky serius mendengarkan penjelasan Adam.


"Jangan-jangan dia sudah bertemu ibunya. Dulu sewaktu dia mau menikah denganku dia pernah bercerita bahwa ibu kandungnya adalah orang Bandung. Tapi dia tak pernah mencarinya. Tapi.. kenapa dengan Raisya? Apakah mereka.. 'bersaudara'


Jacky dan Adam kompak mengucapkan hal itu.


Di lain tempat. Raisya sudah siap dengan syuting di sebuah hotel bintang lima di Bali. Dia mendapatkan kontrak untuk mempromosikan hotel itu Go Internasional.


Kegiatan syuting itu lumayan menyita perhatian pengunjung untuk sekedar ingin tahu dan ada pula yang ingin menumpang popularitas dengan ikut mem vidio kegiatan itu lalu memposting pada akun media sosial mereka.


Nathan yang tengah bersiap-siap untuk jalan bersama Arneta pun malah ikut terseret mendekati lokasi syuting.


Arneta ingin melihat kegiatan syuting menarik sikut tangan Nathan. Nathan dengan berat hati mengikuti langkah Arneta.


"Lihat sayang! Wah cantiknya..."

__ADS_1


Deg


Jantungnya seolah berhenti begitu netra Nathan melihat sosok yang baru dikenalnya ada di sana.


__ADS_2