Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Tidak semangat


__ADS_3

Raisya menunduk. Tak berani bicara lagi. Kenapa semua keputusan selalu ada ditangan ibunya. Mau protes ataupun memberikan alasan, buat Raisya sudah tak ada gunanya.


"Mulai sekarang kamu hidup ngirit! Cari kontrakan yang lebih deket sama kantor yang harganya lebih murah. Kamu kan bisa ngirit ongkos!" Ibunya Raisya memberikan pendapat.


"Tapi mah.. kebanyakan apartemen. Enggak ada yang sewa perkamar. Ini juga sudah paling murah. Raisya kan harus makan sama bayar yang lainnya. Gak bakal cukup uang 3jt." Raisya bicara kembali.


"Terserah kamu, pokoknya ke Bank itu bagian kamu bayar! Mamah gak mau tahu soal kamu mengatur sisa uang gajih kamu. Kamu belajar masak biar makan gak beli melulu!" Ibunya Raisya manyun menghadapi alasan Raisya.


"Ya Udah atuh mah Raisya mau pulang lagi ke Jakarta. Ini uang gaji Raisya baru 5jt nanti sisanya ditransfer." Raisya menyodorkan amplop coklat yang berisi uang 5jt rupiah yang biasa Raisya berikan pada ibunya setiap bulan.


"Mulai sekarang jangan pulang kalau gak ada perlu. Lumayan kan ongkos bolak-balik ke Bandung berapa?" Ibunya Raisya mengambil amplop itu dan kembali berdiri melangkah ke kamarnya menaruh uang pemberian Raisya.


"Sya!" Ratna yang dari tadi duduk di samping Raisya merasakan apa yang dipikirkan sahabatnya. Dia mengelus bahu Raisya dengan lembut.


"Maafin gue ya Rat!" Raisya melirik ke arah Ratna. Tidak enak hati harus menyaksikan keadaan masalahnya.


"Gak pa-pa beb! Gue ngerti kok!"


"Kita keluar sekarang ya! Aku mau pamit dulu sama mamah." Raisya berdiri lalu berjalan ke kamar ibunya.


"Mah.. Raisya pulang dulu! Mau antar Ratna beli oleh-oleh buat teman kantor." Raisya mendekati ibunya.


"Kalau pulang ke Jakarta inget beli oleh-oleh. Giliran ke Bandung mah lupa." Ibunya Raisya menggerutu.


Raisya hanya bisa mengehela nafas. Padahal Raisya sudah membelikan beberapa camilan untuk dibawa sebagai buah tangan. Maksud ibunya tidak membawa oleh-oleh? Oleh-oleh yang mana? Mentahan kan sudah, makanan sudah. Lalu apalagi? Selalu saja menghilangkan kebaikan Raisya.


"Ya udah mamah pengen dibeliin apa?" Raisya masih bersabar dengan sikap ibunya yang seperti itu. Dia berusaha menyenangkan ibunya dengan bertanya kembali keinginannya.


"Tuh jiga batur. Kalau pulang teh beli emas apa? buat ke ibunya. Ini mah seumur-umur kerja gak pernah beliin ibu perhiasan." Akhirnya keluar juga unek-unek ibunya selama ini.


"Iya ntar Raisya belikan." Raisya duduk ditepian kasur sambil tertunduk.


"Ya sudah kamu sekarang ngirit jarang sering-sering pulang! Tabung buat keperluan kalau punya sisa gaji. Jangan bolak-balik kesini!" Ibunya Raisya kembali mengoceh.


Aneh sekali. Orang tua lain menyuruh anaknya sering pulang karena kangen, ini malah mencegah anaknya pulang. Ada perasaan yang sakit mengiris hati Raisya menghadapi sikap ibunya seperti itu. Selama ini dia hanya peduli sama uang gajinya tanpa pernah menanyakan bagaimana keadaannya selama ini. Apakah dia senang bekerja di Jakarta atau ada masalah yang sedang dihadapi. Belum pernah sekali pun ibunya bertanya hal itu pada Raisya. Membuat hati Raisya berpikir apakah dia asli anak kandung ataukah selama ini dia hanya anak pungut. Perlakuan ibunya mirip ibu tiri saja.

__ADS_1


"Mah Raisya pulang ya! Doakan Raisya ya mah!" Raisya berdiri lalu mengambil tangan ibunya untuk dicium. Setelah berpamitan Raisya keluar dari kamar.


"Yuk Rat!" Terlihat wajah Raisya murung. Ratna tanpa mau menanyakannya, dia langsung mengangguk berdiri.


"Eh mana adik kamu Sya?" Ratna menanyakan adik-adik Raisya.


"Di luar mungkin sedang main." Suara Raisya terdengar lemas tidak bersemangat.


"Ya udah kita cari adik kamu dulu! Aku mau pamitan sama ibu tapi ibu kamunya gak keluar." Ratna bingung harus berpamitan pada ibunya Raisya yang sejak masuk ke dalam kamar belum keluar lagi.


"Mah ini Ratna mau pamitan pulang!" Akhirnya Raisya memanggilnya dari luar pintu kamar.


"Iya hati-hati." Ibunya Raisya hanya menjawab dari dalam kamarnya.


Ratna dan Raisya berjalan keluar dari rumah petak yang disewa ibunya.


"Hei sini!" Ratna memanggil adiknya Raisya yang sedang bermain di luar.


Mereka pun mendekati Raisya dan Ratna.


"Ih Rat.. " Raisya tak enak hati pada Ratna yang telah memberikan uang itu pada adik-adiknya.


"Gak apa-apa atuh Sya! Mumpung baru gajian." Ratna tersenyum. Dia mengerti dengan suasana hati Raisya sekarang. Pastinya banyak yang dipikirkan oleh Raisya. Terutama masalah keuangan yang akan dihadapi Raisya ke depan.


"Ucapin terimakasih pada tante!" Raisya meminta adik-adik nya mengucapkan terimakasih atas kebaikan Ratna barusan.


"Terimakasih tante Ratna!" Mereka kompak mengatakan terimakasih.


"Kalian baik-baik ya! Jaga ibu sama bapak selama kakak tidak ada! Jangan rewel!" Raisya memberi nasehat pada adik-adik nya.


"Iya kak!"


"Kakak pulang lagi ya! Jangan lupa belajar yang baik dan bantu ibu!"


"Iya kak!" Mereka bergiliran mencium punggung tangan Raisya sebagai tanda hormat.

__ADS_1


Keduanya lalu pergi setelah selesai berpamitan, lalu memesan mobil online untuk pergi ke Ciwalk.


"Wah.. keren sekarang eung." Mata Ratna mengedar sejak turun dari mobil online. Mereka sekarang sedang memasuki kawasan mall Ciwalk.


Mall ini terkenal dengan barang-barang bermerk apalagi barang luar. Counter-counter nya pun begitu mewah. Display mereka unik-unik. Dan jangan salah harga bandrol barangnya pun lumayan fantastik.


"Sya.. lihat, cakep banget!" Mata Ratna mulai menangkap mangsa.


"Hhmm. iya cukup dilihat saja! Nanti ada pemilik nya baru tahu disebut pelakor." Raisya mengingat kan Ratna.


"Eh.. he he kaya artis ya beb!" Mata Ratna tak mau lepas dari laki-laki yang sedang memilih baju di salah satu counter bermerk luar.


"Aku mau nyamperin ah!" Raisya ditinggal begitu saja oleh Ratna. Dia melangkah mendekati laki-laki itu lalu 'Bruk'


Ratna menubruk laki-laki itu sambil menjatuhkan handphonenya.


"Duh maaf gak sengaja!" Ratna menutup mulutnya. Dia sedang melakukan akting seperti dalam sinetron-sinetron.


Laki-laki tampan itu hanya melirik sebentar lalu melengos dengan dinginnya.


"Yah sial! Lepas deh!" Ratna terlihat kecewa. Matanya hanya memandangi punggung laki-laki itu.


"Kita jalan lagi yuk Sya!"


"Hhm." Raisya menjawab pendek sambil menahan tawa.


"Eh Sya! Itu galeri merk perusahaan kita!" Ratna menarik tangan Raisya mendekati galeri itu lalu masuk ke dalamnya.


"Weis keren begini!" Ratna mengagumi display dari galeri itu.


"Keren gimana? Kaya gini dibilang keren!" Raisya malah mengomentari terbalik dengan Ratna.


"Gak tahu selera tapi berani berkomentar!" seseorang berbicara menanggapi Raisya.


"Sya! Suara itu kaya....?

__ADS_1


__ADS_2